IRGC Iran Klaim Sasar 7 Kapal Tanker Minyak di Selat Hormuz dalam 5 Hari

Writer: - Minggu, 4 Oktober 2026
Foto yang diabadikan pada 20 Juni 2026 ini memperlihatkan Selat Hormuz di dekat Khasab, sebuah kota kecil di bagian utara Oman. (Xinhua/Wen Xinnian)

Teheran, Sumselupdate.com — Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran dilaporkan menyasar sedikitnya tujuh kapal tanker minyak yang disebut melakukan pelanggaran di Selat Hormuz dalam lima hari terakhir.

Laporan tersebut disampaikan kantor berita semiresmi Iran, Fars, pada Sabtu (3/10), dengan mengutip sejumlah sumber dan pengamat militer.

Read More

Menurut Fars, Angkatan Laut IRGC menyasar lebih dari satu kapal tanker minyak setiap harinya selama periode tersebut.

Fars menyebut serangkaian insiden itu terjadi di tengah pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang berulang kali menyatakan bahwa Selat Hormuz terbuka dan berada di bawah kendali AS.

Mengutip pengamat militer independen MenchOsint, Fars melaporkan dua kapal tanker minyak meledak di Selat Hormuz pada Jumat (2/10).

Satu ledakan disebut terjadi di pintu masuk jalur perairan strategis tersebut, sedangkan kapal tanker lainnya dilaporkan mengalami ledakan ketika berada di bagian keluar Selat Hormuz.

MenchOsint, sebagaimana dikutip Fars, juga menyebut dua kapal tanker berbendera Kuwait, yakni Al FUNTAS dan KAZIMAH III, serta tiga kapal milik Uni Emirat Arab (UEA), SINBAD, MERSIN PROSPERITY, dan AL RUWAIS, menjadi sasaran dalam empat hari sebelumnya.

Namun, laporan mengenai serangan dan ledakan tersebut dalam informasi yang disampaikan Fars masih merupakan klaim yang bersumber dari media Iran dan pengamat yang dikutipnya.

Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan menjadi salah satu jalur penting bagi pengiriman minyak dunia.

Fars melaporkan Iran memperketat pengawasan terhadap Selat Hormuz sejak 28 Februari. Langkah tersebut mencakup pelarangan pelayaran yang dinilai aman bagi kapal-kapal yang dimiliki atau berafiliasi dengan Israel dan Amerika Serikat.

Kebijakan itu disebut diberlakukan setelah serangan gabungan Israel dan Amerika Serikat terhadap wilayah Iran.

Situasi di Selat Hormuz menjadi perhatian karena setiap gangguan terhadap lalu lintas kapal di jalur tersebut berpotensi memengaruhi distribusi energi dan aktivitas perdagangan internasional.

(**)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts