Pertebal Keimanan dan Ketakwaan, Kapolda Sumsel Ajak Anggota Kaji Kitab Kuning

Ketua PWNU Sumsel Drs Amiruddin Nahrawi menyampaikan materi kajian dan membaca kitab kuning bagi seluruh personel dan jajaran Polda Sumsel di Masjid As'saadah Mapolda Sumsel ba'dah shalat Zuhur selama satu jam, Selasa (16/2/2021).

Laporan Haris Widodo

Palembang, Sumselupdate.com – Menindaklanjuti arahan Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo, Kapolda Sumatera Selatan (Sumsel) mengajak anggotanya untuk mengkaji kitab kuning.

Bacaan Lainnya

Kegiatan mengkaji dan membaca kitab kuning bagi seluruh personel dan jajaran Polda Sumsel ini dipusatkan di Masjid As’Saadah Mapolda Sumsel.

Karo SDM Polda Sumsel Kombes Pol Ucu Kuspriyadi, SIK, SH, MH mengatakan, untuk menyelenggarakan kajian kitab kuning Polda Sumsel bekerja sama dengan PWNU Sumsel sebagai tenaga pengajar.

“Kajian kitab kuning untuk personel Polda dilakukan seminggu sekali setiap hari Selasa. Kemarin saat kajian, dihadiri Ketua PWNU Sumsel Amiruddin Nahrawi yang memberikan langsung pengajaran kitab kuning,” ujarnya kepada wartawan di ruang kerjanya, Kamis (18/2/2021).

Dikatakan Ucu ini, kajian kitab kuning tidak hanya dilakukan oleh personel Polda Sumsel saja, akan tetapi juga dilakukan personel Polres yang dilaksanakan di Polres masing-masing.

Karo SDM Polda Sumsel Kombes Pol Ucu Kuspriyadi, SIK, SH, MH.

“Tujuan pembelajaran kitab kuning ini selain menambah ilmu agama Islam. Kajian kitab kuning juga bisa menumbuhkan keimanan dan ketaqwaan personel Polri kepada Allah subhanallah ta’ala,” tambahnya.

Lebih lanjut dikatakan Ucu, dengan modal keimanan dan ketaqwaan anggota tentunya akan meningkatkan integritas anggota Polri.

“Anggota Polda Sumsel yang mengikuti kajian kitab kuning diberikan sprin khususnya,” ujarnya.

Kajian kitab kuning di Polda Sumsel sendiri lakukan seminggu sekali setiap Selasa di Masjid As’Saadah Mapolda Sumsel ba’dah shalat Zuhur selama satu jam.

Terpisah, Ketua PWNU Sumsel Drs Amiruddin Nahrawi menyampaikan tentang topik ‘Niat’ dalam Kitab Kuning (Ta’lim al-Muta’allim).

“Niat berfungsi menjadikan suatu perbuatan menjadi wajib dan sunah. Niat juga bisa menjadikan suatu perbuatan dinilai biasa atau berpahala. Seperti orang yang berniat untuk iktikaf di masjid dengan orang yang hanya menumpang istirahat,” jelasnya.

Dalam Islam, setiap orang yang hendak melakukan ibadah harus mempunyai maksud sebelum melakukannya. Inilah syarat agar perbuatan tersebut dianggap sah.

Secara bahasa, arti niat sama dengan al qasdu (bermaksud), al-azimah (tekad), al-iradah (keinginan), dan al-himmah (menyengaja).

Menurut al-Muhasibi, niat berarti keinginan seseorang untuk mengerjakan sesuatu atau pekerjaan tertentu, baik karena perintah Allah SWT atau hal lainnya.

Sedangkan, menurut Ibnu Abidin, niat berarti kehendak untuk taat dan mendekatkan diri kepada Allah SWT dalam melakukan suatu pekerjaan. (**)

Yuk bagikan berita ini...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.