Peran Perempuan Masa Lalu dan Kini

Perempuan pemetik kopi di Bukit Bunian, Merapi Selatan, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan.

HARI ibu yang diperingati di setiap tanggal 22 Desember setiap tahunnya, bahwa penulis berpikir hanya karena ditetapkan saat kongres perempuan pada tahun 1928 lalu.

Pada saat itu diperkirakan yang hadir saat kongres sekitar 300-an organisasi perempuan, sementara isu yang diangkat tentang kesamaan hak perempuan, bukan sebagai perempuan domestik pemangku kebijakan rumah saja, perceraian dan peran serta perempuan dalam perjuangan kemerdekaan.

Bacaan Lainnya

Dan sempat terbersit bahwa ketika itu mungkin dimulai perjuangan Cut Nyak Dhien, Cut Mutia, atau hanya segelintir perempuan saja.

Nyatanya dari beberapa informasi yang didapat untuk ruang lingkup Sumatera Selatan dan terutama tanah Pasemah (Besemah) sejak zaman dahulu kala, perempuan memiliki peran penting dan tak sekadar euforia sebagai ibu yang melahirkan dan membesarkan, tapi lebih dari itu tentang pelajaran budi pekerti, pendidikan anak sejak dini dimulai oleh seorang ibu sebagai simbolisasi penebar kasih sayang.

Sedari pagi penulis berusaha mencari beberapa hal penting tentang perempuan atau ibu yang menjadi sosok penting kekinian.

Kejadian yang kental terbayang, sehari sebelum 22 Desember 2018, seorang perempuan paruh baya sebagai ibu tunggal yang memiliki seorang anak perempuan yang berlarian di tengah hujan mencari pamannya yang tuna runggu.

Perempuan ini dahulu dirawat neneknya, sejak kecil dilindungi pamannya yang tuna runggu tersebut, bisa dibayangkan kini tubuh kecil perempuan yang merawat lelaki ini sendiri bersama putrinya.

Besar paman yang dua kali tubuh mereka, hilang di tengah hujan di belantara dusun, harus dicari hingga dapat. Itulah ibu sejati menurut penulis, tangguh secara ekonomis, dan tangguh menghadapi terjangan hidup.

Lalu teringat dengan sosok Dewi Sri, simbol kesuburan dan pertanian masa lalu, ternyata setelah menghubungi arkeolog perempuan dari Balai Arkeologi (Balar) Palembang, Retno Purwanti.

Salah satu situs megalitik Pasemah, sumber Balai Arkeologi Palembang.

 

Diperoleh informasi bahwa dari informasi yang didapatinya dari mantan dosen Sejarah Universitas Sriwijaya (almarhum) Marzuki yang merupakan putra Pagaralam.

Bahwa di Pagaralam dan Lahat menurut penutur sosok Dewi Sri ada. “Cuma sebutannya saya tidak tahu, almarhum pak Marzuki pernah cerita pada saya bahwa pembagian rumah tradisional di Pagaralam sama persis dengan di Jawa. Di mana ada tiga ruang, yang berderet dan yang tengah dikosongkan karena untuk menaruh sesaji untuk sosok Dewi Sri,” ungkap Retno Purwanti.

Yakni sosok perlambang kesuburan dan pertanian, temuan dari penuturan masyarakat Lahat  pula meyakini penulis bahwa keterlibatan perempuan dalam pertanian dan kesuburan sudah ada sejak lampau.

Tentang Kesultanan Palembang sendiri ditambahkan Retno, dari catatan JL Van Sevenhoven seorang Belanda bahwa perempuan Palembang secara ekonomi lebih mandiri dibandingkan kaum lelaki.

Perempuan elit kala itu menenun songket dan membuat kerajinan lainnya, kemudian dijual oleh para pembantu para puteri-puteri tersebut.

Hal ini terjadi saat kesultanan palembang dihapuskan Belanda dan para elit keraton tak punya kekuasaan apapun untuk mencukupi perekonomian keluarga, justru perempuan mereka menjadi kreatif dan mandiri menghidupi.

Selang beberapa saat terhubung dengan ahli arkeologi perempuan lainnya dari Balar Palembang, Kristantina Indri Astuti yang diminta komentar tentang peninggalan megalitik Bumi Pasemah yang mengambarkan perempuan.

“Wajar jika peninggalan megalitik ini menjadi world heritage, menjadi warisan dunia yang nanti menjadi tinggalan anak cucu kedepan,” kata Kristantina.

Sebab ada satu pesan perlambangan kasih sayang dari megalitik ini yakni ibu, perempuan yang sedang mengambin (mengendong) atau bermain dengan anak, membawa keranjang (kinjar dalam bahasa Pasemah) atau ibu yang bekerja tak jauh dari anak, hewan peliharaan.

“Peran serta perempuan sangat penting tak hanya mengasuh, tapi bekerja dan keterikatan ibu dan anak yang tak berjauhan, itu pesan moral (budi pekerti),” papar Kristantina.

Pesan masa lalu yang universal dibutuhkan semua orang kekinian yang menjadikan penting megalitik sebagai world heritage.

Selamat hari ibu, pesan ini bukan euforia belaka. Peran penting perempuan di masa kini semakin tinggi gejolaknya.

Tapi tak meninggalkan adat-adat istiadat kita sebagai perempuan Indonesia. Peran perempuan sama penting dengan lelaki, ada keseimbangan yang sudah diberikan Yang Maha  Kuasa. (**)

 

Soufie Retorika

Penulis Seorang Jurnalis

Yuk bagikan berita ini...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.