Boyolali, Sumselupdate.com – Pasca penggerebekan yang dilakukan oleh Tim Detasemen 88 Anti Teror Mabes Polri pada Rabu (9/3/2016) lalu, Sekolah Taman Kanak-Kanak atau Raudatul Athfal Terpadu (RAT) Amanah Ummah, sepertinya akan ‘libur’ panjang. TK yang terletak di Dukuh Brengkungan, Desa Pogung, Kecamatan Cawas, Kabupaten Boyolali tersebut kini sepi. Tidak terlihat kegiatan belajar mengajar (KBM) di rumah terduga teroris, Siyono (33) yang juga difungsikan sebagai sekolah.
“Ada perintah dari yayasan sekolah untuk diliburkan. Sebab, kemarin, ada kesalahpahaman dengan pemerintah desa, karena sekolah ini dianggap belum berizin,” kata orangtua almarhum Siyono, sekaligus pemilik rumah, Marso Diyono (61), Ahad (13/3) sebagaimana dikutip dari Republika Online.
Hal senada juga disampaikan kakak sulung Siyono, Wagiyono. Sekolah setara taman kanak-kanak (TK) di bawah naungan Yayasan Al Husna Klaten itu sifatnya TK sementara. Sekitar 300 meter dari TK sementara itu sedang dibangun gedung sekolah RAT Amanah Ummah.
“Ini libur, karena ada permintaan dari pihak desa terkait perizinan sekolah. Jadi, nggak ada hubungannya dengan penggeledahan Densus, kemarin. Cuma kebetulan saja, rumah yang digeledah ini dikontrakkan kepada pihak sekolah untuk KBM sementara, sampai bangunan sekolah yang baru selesai,” terang Ketua RT 11, RW 5, Dusun Brengkungan, Desa Pogung, Wagiyono.
Disinggung soal perizinan, dia mengatakan ada kesalahpahaman dalam pencantuman nomor surat izin pada papan nama sekolah yang sudah berdiri sejak belasan tahun itu. Padahal, empunya pembuat papan nama, adalah santri asal Kabupaten Boyolali yang pernah Praktek Kerja Lapangan (PKL) di beberapa waktu lalu lupa mencantumkannya.
“Itu tidak dicantumkan, karena terburu-buru. Sebenarnya, sekolah itu punya izin dan besok yayasan (Al Husna Klaten, Red) akan menunjukkannya kepada pemerintah desa. Sekolah itu dirintis istri Siyono, Sri Muryani sejak belasan tahun lalu,” kata Wagiyono.
RAT Amanah Ummah menempati ruang depan rumah Marso yang disekat-sekat menggunakan kayu lapis menjadi dua ruang kelas dan satu ruang kantor. Sebuah papan tulis hitam berkapur putih bertuliskan ‘Hari ini libur sampai hari Ahad. Hari Senin masuk,’ terpampang di teras rumah.
“Anak saya dulu siswa angkatan pertama yang saat ini sudah kelas 1 SMA. Dulu, siswanya cuma enam anak. Tapi, sekarang sudah sekitar 60 anak. Guru ada empat orang,” katanya,
Kini, rumah itu tampak sepi seperti tengah dirundung duka. Sekolah TK sederhana itu berada di daerah pelosok pedesaan. Di depan halaman rumah yang sempit terdapat mainan ayunan yang sudah tidak layak pakai. (adm3)











