Opini : Seni yang Otentik

Oleh: Nandhy Prasetyo*

Adakah di alam semesta raya ini sesuatu yang otentik, selain keillahian yang absolut? Pertanyaan serupa pun muncul ketika kita mendiskursuskan seni dalam terminologi manusia, yang sejatinya berposisi sebagai subjek sekaligus objek seni. Semakin berjarak bahkan cenderung ambivalen saat kita merekonstruksi eksistensi manusia sebagai mahluk sosial, mungkinkah manusia otentik?

Bacaan Lainnya

Dalam kenyataannya, manusia itu tidak hanya pembuat sejarah. Dia juga hidup dari dorongan sejarah, yang belajar dari pengalaman-pengalaman hidupnya. Karenanya, membicarakan manusia, sejarah, dan seni pun menjadi keniscayaan. Sebab, ketiganya merupakan prasyarat eksistensi.

Kita lihat, betapa sejarah Frankfuter telah berhasil menyuguhkan bagaimana ruang dialog kritis diantara pemikir Marxisme, Newmarxisme, dan penentangnya. Mereka membawakan analisis Dascapital dari kerangka ekonomi kepada perpekif ideologi, politik bahkan seni.

Sederet literatur atau pendapat pakar pun dapat kita temukan untuk mencari keotentikan seni. Misalnya, Adorno yang curiga dan menganalisa seni sebagai hantu komoditi. Baginya, seni dinilai telah menjelma sebagai substansi yang sukses dalam mendorong egalitarian kaum borjuis, yang berdampak pada kesadaran reifikasi kaum proletar. Begitu juga Benjamin, yang sinis dan melihat betapa krisis kultur modern yang berakar pada teknologi, telah ikut serta menjadi biang keladi problematika dalam penciptaan dan penyebaran karya seni. Sementara Lukas beranggapan, seni yang baik adalah seni yang merepresentasikan realitas historis sebagai sebuah proses yang tersikap dalam pengalaman individu yang kongkrit.

Lantas, menjadi pertanyaan mendasar sekarang, adakah seni yang otentik itu. Dimanakah letak keotentikannya?

Tradisi kritis ini pun terus bergulir, menyisakan pertentangan pemikiran yang tak kunjung usai dalam lipatan otak banyak estikawan abad 18. Mereka menelanjangkan seni begitu vulgar, dari sudut pelaku seni (subjek/pelaku seni) dan karya seni (produk seni). Filsafat seni sebagai bagian dari filsafat modern memang membuka perdebatan yang melelahkan. Sebab, merefleksikan seni itu tidak hanya pada karya seni (produk seni), tetapi juga pada aktivitas manusia atas produk seni, baik sebagai seniman maupun publik seni.

Terminologi di atas akhirnya mengerucut pada estetika marfologi dan estetika psikologi. Sementara di sisi lain, si penikmat seni dalam aksiologi estetik masih membuka pemikiran terkait efek pemanfaatan seni untuk manusia. Setiap instansi kajian filsafat seni ini pada gilirannya mengembangkan pokok-pokok baru, misalnya, karya seni (produk seni) melahirkan nilai seni dan pengalaman seni, sedangkan seniman dan publik seni melahirkan budaya seni.

Melalui substansi di atas, lantas bagaimana caranya mendekati keotentikan seni secara sempurna? Faktanya, persoalan estetika selalu menjadi pekerjaan rumah. Bahkan ia terus setia menyembunyikan tabir kebenarannya.

Substansi karya seni sebenarnya sudah mulai diperdebatkan sejak zaman Plato dan Aristoteles. Namun, itu tak pernah selesai sampai sekarang. Tesis mengenai mimesis (tiruan atas kenyataan), menjadi problem integral guna menanyakan keotentikan seni itu. Begitu pula subjektivitas yang mengakar pada persoalan kreativitas dan ekspresi si seniman. Kreativitas dan ekspresi seniman itu tidak lahir dalam ruang hampa. Banyak faktor yang mempengaruhi seniman dalam melahirkan suatu karya. Budaya dan pengalamannya pada gilirannya ikut andil terhadap seniman dalam menciptakan karyanya.

Apabila karya seni dan pencipta seni tidak dapat menjawab keotentikan seni, apakah publik seni otentik? Pasti tidak. Sebagaimana pencipta seni, publik seni pun menjadi kian terikat dengan budaya dan pengalamannya dalam menentukan seni mana yang layak untuk dirinya. Budaya dan pengalamannya menjadi semacam “destinasi barometer” untuk menentukan mana seni yang berkualitas baginya. Jadi, secara ringkas ketiga substansi seni yakni karya seni, pencipta seni, dan publik seni pun tak mampu meneguhkan keotentikan seni itu sendiri.

Hemat penulis, mendekati keotentikan seni hanya bisa berafiliasi dari pengalaman. Ini mengingat pengalaman seni lahir dari komunikasi yang melibatkan kegiatan pengindraan, nalar, emosi, dan instuisi.

Seni dikatakan otentik ketika seni itu dapat dimanfaatkan untuk keluhuran manusia. Keberadaan seni dikatakan otentik apabila kehadirannya dapat dimanfaatkan untuk memanusiakan manusia. Pemanfaatan seni bagi kehidupan manusia tidak hanya berhenti pada tingkat keindahan dan kesenangan semata. Seni dalam ranah humanisasi dapat dimanfaatkan sebagai media pendidikan, media kesehatan, dan media perdamaian.

Pemanfaatan seni sebagai media pendidikan, kesehatan, dan perdamaian telah diringkas secara apik oleh Rohendi (2016). Menurutnya, keberadaan seni bagi pendidikan dapat memainkan peranan penting sebagai media terapi bagi anak-anak berkebutuhan khusus dan mereka yang menjadi korban bencana alam dan peperangan.

Di lain pihak, seni juga dikatakan otentik apabila dapat mengantarkan manusia kepada pengalaman-pengalaman transeden. Yakni, seni yang mampu membawa manusia mengenal Tuhannya, sekaligus seni yang sukses merefleksikan manusia pada keterbatasan diri sebagai mahluk. Untuk memantapkan entitas seni pada kualitas ini, sudah sepantasnya kita bercermin pada pemahaman seni masyarakat pra modern.

Menurut Sumardjo (2006), tradisi pemahaman seni pra modern berada dalam kebudayaan mistis, spiritual, dan keagamaan dengan menempatkan diri pada wilayah kosmosentris. Mikrokosmos manusia adalah makrokosmos semesta. Oleh karena itu, peleburan dari keduanya dapat membawa manusia mencapai sang pencipta. Baginya, seni spiritualitas itu “halus dan lembut” sehingga seni tidak hadir bagi mereka yang tumpul. Seni dalam perspektif masyarakat pra modern adalah kehalusan dan kelembutan yang dapat membawa diri menyatu dengan alam dan bertemu dengan Tuhan.

Demikian telah tersaji sekelumit diskursus seputar keotentikan seni. Akhirnya, kita pun sampai pada pemakluman bahwa seni yang otentik adalah seni yang memberikan manfaat keluhuruan bagi manusia, sekaligus memberikan pengalaman ketuhanan.

*Penulis adalah pengamat seni, tinggal di Brebes, Jawa Tengah.

PDIP

PKB

Yuk bagikan berita ini...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.