Muratara, Sumselupdate.com – Pemerintah Kabupaten Muratara mengaku belum siap menerapkan full day school yang diwajanakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI.
Mengingat Kabupaten ini baru menginjak usia tiga tahun dan juga diperlukan pertimbangan yang mendalam untuk menerapkan wacana tersebut, baik untuk siswa ataupun para tenaga pendidiknya.
“Yang jelas Muratara belum sanggup menerapkan full day school. Sebab perlu kajian mendalam baik siswa maupun tenaga pendidiknya. Mengingat kabupaten ini baru dan tentunya membutuhkan proses untuk melakukan sesuatu yang baru,” ujar Kepala Dinas Dikbud Firdaus, Selasa (29/11/2016).
Ia menjelaskan, karena setiap sekolah yang ada belum tentu siap jika kebijakan tersebut direalisasikan. Kemudian pihaknya akan mempelajari terlebih dahulu sisi positif dan negatif jika wacana tersebut diterapkan.
“Jadi harus dipelajari dulu dengan baik karena kondisi daerah dengan kota-kota besar itu berbeda, kita mengajak semua kepala sekolah membicarakan hal ini,” tuturnya.
Menurutnya, masih banyak yang harus dipikirkan. Seperti bagaimana kebutuhan makan anak, lalu agenda yang akan diisi untuk full day school ini.
Di sisi lain, sebagian sekolah dasar masih menerapkan kelas pagi dan sore. Jadi kebutuhan lokal juga harus diperhatikan. Serta bagaimana kesiapan guru, apakah mereka tidak keberatan jika jam mengajar ditambah, sebab 2017 belum ada anggaran pelaksanaan ful day school.
“Kalau anak seharian sekolah itu artinya kita harus menambah keterampilan anak. Lagian jika belajar terlalu lama, maka anak tersebut akan jenuh dan stres,” kata Firdaus.
Ia menuturkan ada beberapa anak yang paru waktu untuk bekerja membantu orangtuanya. Selain itu juga, rata-rata pekerjaan orang tua para peserta didik itu adalah petani dan berkebun.
“Ada yang membantu orangtua berdagang dan sebagainya. Ini juga jadi problem, minimal anak nanti pulang sekitar pukul 16.00. Belum lagi sekolah yang masih berada dalam masa pembangunan. Terpaksa dibagi, yakni pagi dan sore,” tuturnya. (ain)











