Mundurnya Perusahaan Besar Indikasi Melemahnya Ekonomi Nasional

Kamis, 28 Januari 2016

Jakarta, Sumselupdate.com – Pengumuman pengunduran usaha Ford awal pekan ini yang akan dilaksanakan pertengahan tahun 2016 mengejutkan banyak pihak. Bagaimana sebuah perusahaan otomotif raksasa akhirnya ‘kalah’ dalam persaingan industri otomotif Tanah air.

Banyak spekulasi yang berusaha menebak penyebab mundurnya Ford tersebut. Termasuk adanya indikasi melemahnya perekonomian nasional.

Bacaan Lainnya

Salah satunya datang dari pandangan Ketua Komisi VI DPR RI dari Fraksi Partai Amanat Nasional (F-PAN) Achmad Hafisz Tohir yang mengatakan, indikasi melemahnya perekonomian nasional terlihat saat banyaknya perusahaan-perusahan dan industri yang tutup di tahun 2015 di tahun pertama pemerintahan Jokowi-JK.

“Beberapa indikasinya bisa dilihat antara lain turunnya daya beli masyarakat, merosotnya nilai tukar rupiah atas dolar, biaya operasional perusahaan bengkak karena kenaikkan bahan baku dan menurunnya permintaan sumber daya alam seperti batubara karena perlambatan ekonomi global termasuk Tiongkok,” ujar Achmad seperti dikutip dari siaran pers, Kamis (28/1).

Achmad membeberkan eksodus perusahaan besar di Indonesia yang ditutup atau dipindah ke luar negeri di tahun 2015, seperti 27 perusahaan tekstil dan produk tekstil, 125 perusahaan pertambangan batubara di Kalimantan Timur, dan 11 perusahan di Batam di bidang galangan kapal, elektronik, dan garmen. Belum lagi Chevron Indonesia sedang mempertimbangkan PHK 1.700-an orang, Commonwealth confirm layoff 30-35 persen karyawan, ANZ Bank, Citibank Indonesia juga bakal layoff, bahkan United Tractors (Grup Astra) sudah menawarkan karyawannya untuk resign dengan pesangon.

“Di samping itu banyak perusahaan kecil, menengah yang tutup tanpa melapor ke Disnakertrans atau instansi terkait sehingga tidak tercatat,” ucapnya.

Selain itu, Achmad melanjutkan, dengan berlakunya pasar bebas ASEAN atau Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) ini, tentu industri dari negara tetangga termasuk tenaga akan membanjiri Indonesia dan akan mempersulit kembali tenaga kerja Indonesia, karena tenaga kerja tetangga yang masuk rata-rata tenaga terampil. Hal ini tentu harus menjadi perhatian serius pemerintah.

“Sumber daya manusia kita harus benar-benar disiapkan untuk menghadapi pasar bebas ini, termasuk infrastruktur dan suprastruktur perekonomian nasional. Jangan sampai kita menjadi budak di negeri sendiri di tengah serbuan global,” ungkapnya. (adm3)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.