Mantan Honorer Jadi Jaksa yang Menuntut Hukuman Mati Bandar Narkoba

Satrio Dwi Putra SH

Palembang, Sumselupdate.com – Sebelum memulai karir menjadi Jaksa, Satrio Dwi Putra SH, pernah menjadi honorer di Pemkot Palembang.

Pria kelahiran Palembang, 20 Desember 1987 ini merupakan salah satu Jaksa yang bertugas di Kejaksaan Negeri Palembang, yang menjabat sebagai Plt Kasubsi Penuntutan Tindak Pidana Umum Kejaksaan Negeri Palembang.

Bacaan Lainnya

Dirinya saat ini menjabat sebagai Plt Kasubsi Penuntutan Tindak Pidana Umum Kejaksaan Negeri Palembang, yang dibawahi langsung oleh Kasi Pidum Kejari Palembang, Agung Ary Kesuma, SH, MH.

Ditemui Satrio sapaan sehari-harinya, tidak segan membagikan kisah perjalanan karirnya sebagai aparatur negara, atau Jaksa.

“Sebelum saya jadi jaksa, saya sempat menjadi tenaga honor di salah satu kantor Pemerintah Kota Palembang. Tapi saat itu saya masih menempuh pendidikan di bangku kuliah,” katanya.

Ia juga Menceritakan awal dirinya menjadi jaksa pada tahun 2014, CPNS Pertama di tempatkan di cabjari Pendopo Muaraenim selama 3 bulan.

Setelah itu dirinya dipindahkan ke bagian Podsus Kejari Muaraenim, dari tahun 2015 sampai 2016.

“Di pertengahan 2016, selama 6 bulan saya menjalani pendidikan Jaksa, dan penetapan selanjutnya di cabjari Payah Kumbuh, Suliki,  Sumatera Barat selama 2 tahuh 4 bulan. Selanjutnya saya dipindahkan lagi ke Palembang, sebagai jaksa fungsional di Kejari Palembang,” jelasnya.

Sekira bulan Oktober 2020 lalu, Satrio diminta untuk menjadi Plt Kasubsi Penuntutan di Pidum Kejari Palembang, hingga sekarang.

Satrio anak kedua dari tiga bersaudara. Lahir dari orang tua berlatar belakang PNS, Satrio merupakan satu-satunya yang memilih berkarir di jalur kejaksaan.

Menjadi seorang jasa mulai terpikirkan oleh Satrio setelah menjalani pendidikan di bangku kuliah.

Yang mana saat itu Satrio memilih jurusan Hukum di salah satu Universitas di Kota Palembang.

Sebelum menjadi seorang Jaksa, ternyata Satrio yang tamat dari bangku sekolah, sekira tahun 2007 sempat mengikuti tes Akpol hingga tahap pantohir daerah.

“Namun sayangnya saya tidak lulus,” ujar Satrio sambil tertawa.

Hal tersebut lantas tidak membuatnya berkecil hati. Orang tua terus mendukung Satrio dan menyuruhnya untuk melanjutkan  pendidikan ke bangku kuliah.

“Jadi saya kuliah sambil kerja. Saya kuliah sambil kerja saat itu,” ujarnya.

Satrio sempat menjadi tenaga honorer di Kantor Pemerintah Kota Palembang, dari tahun 2008 sampai tahun 2012.

Dari hasil kerjanya tersebut Satrio mengatakan membuat dirinya mampu membayar uang semester kuliahnya sendiri.

“Untuk semester saya bisa bayar sendiri. Tapi saat itu orang tua juga masih memberi uang, untuk transport dan makan serta biaya lainnya,” jelas Satrio.

Sempat ikut PKBD Peradi di 2013, namun belum sempat ikut tes advokat, Satrio dinyatakan lulus di kejaksaan.

Tujuh tahun berkecimpung di dunia kejaksaan membuat Satrio telah mengalami manos pahitnya menjadi seorang jaksa.

“Menjadi seorang jaksa tentu ada suka dukanya, hanya saja saya menikmati pekerjaan ini, layaknya menjalani hobi,” tutur Satrio.

Untuk dukanya sendiri menurutnya kadang ada saja ancaman dari orang-orang iseng.

“Hanya saja saya tidak terlalu menanggapinya. Lagian sejauh ini nada ancamannya tidak terlalu mengkhawatirkan,” jelasnya.

Dalam perkara narkotika Satrio pernah menuntut terdakwa dengan hukuman mati.

Seperti salah satu kasus narkotika yang saat ini cukup banyak menyedot perhatian publik di Palembang, karena melibatkan salah satu mantan anggota legislatif di Palembang, yang menjadi terdakwanya.

Mengingat banyaknya jumlah barang bukti, dan beberapa pertimbangan lainnya, menjadi salah satu jaksa penuntut, Satrio menganggap hal tersebut layak untuk ditindak tegas.

Selain bertugas sebagai seorang jaksa, Satrio merupakan kepala di dalam rumah rumah tangganya.

Menikah dengan seorang wanita bernama Indah Wahyuni, Satrio dikaruniai dua orang anak yakni Athar Khairan al Khalish dan Audrey Mikhayla Noor Khalisha.

Baginya keluarga adalah semangat bagi dirinya dalam menjalani tugas di dunia kerjanya.

Riwayat Pendidikan :

SD Kartika II Palembang

SMP N 9 Palembang

SMA N 18 Palembang

Universitas Sriwijaya Jurusan Fakultas Hukum

Riwayat Pekerjaan :

2014 : Staf TU pada cabjari Muaraenim di pendopo

2015 : Staf TU bidang Pidsus Kejari Muaraenim

2016 : Jaksa fungsional pada Cabjari Payakumbuh di Suliki

2019 : Jaksa fungsional pada Kejaksaan Negeri palembang

2020 : Plt. Kasubsi penuntutan bidang pidana umum kejari palembang. (Ron)

Yuk bagikan berita ini...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.