Jakarta, Sumselupdate.com – Nama Manoj Punjabi sudah sangat populer dalam kancah industri perfilman di Indonesia. Sebagai keturunan India, ia mengaku telah tertarik untuk masuk ke industri film sejak kecil. Dia pun mewujudkan obsesinya dengan mendirikan rumah produksi MD Entertainment (2002) dan MD Pictures (2007).
“Sederhana sekali, saya tertarik dengan film karena film sudah mengalir di darah saya, dari umur 8 tahun saya sudah obsesi, punya passion gila-gilaan terhadap film. Saya sudah tahu sejak kecil akan jadi film-maker,” kata Manoj, seperti dilansir CNNIndonesia.com, Sabtu (1/4/2017).
Dari latar belakang keluarganya, Manoj merupakan anak dari Dhamoo Punjabi, adik pendiri rumah produksi Multivision Plus, Raam Punjabi. Karenanya, tak heran jika dia menyebut obsesinya pada film telah mengalir di darahnya.
Menurut Manoj, gen India yang kental akan budaya film bisa jadi merupakan faktor banyaknya keturunan India di Indonesia yang bergelut di usaha industri film.
“Mungkin keturunan Bollywood ini memang gen filmnya lebih kental, apa ya dari segi kreatifnya, cinta filmnya lebih kental, jadi karena kami orang Indonesia juga itu kombinasi yang tepat,” katanya.
Ia juga mengaku memahami dan mempertimbangkan pasar Indonesia dalam pembuatan filmnya.
“Kami mengerti pasar Indonesia maunya apa dan ada keturunan India yang bantu ramu dari sisi komersialnya. Kalau kami buat film sekedar lihat dari unsur yang tidak komersil itu susah,” tambah Manoj lebih lanjut.
Meski keturunan India, Manoj menegaskan dirinya tetap warga negara Indonesia yang setia dan loyal. Bahkan dirinya mengaku akan terus berkontribusi bagi perkembangan industri perfilman dalam negeri.
“Mungkin saya keturunan orang India, tapi saya enggak bisa lebih dari ini. Kalau nasionalisme, saya setia, dan loyalitas saya sangat Indonesia. Ketika ditanya saya orang apa, saya akan jawab Indonesia bukan India, jadi bagi saya itu penting,” tegasnya.
Meski sejak kecil telah terobsesi dengan dunia perfilman, Manoj bersama ayahnya, mengawali langkah dalam mendirikan MD Entertainment melalui dunia sinetron.
“Sinetron itu makanan saya sehari-hari, jadi saya mulai dengan itu. Baru lima tahun kemudian mulai dengan film. Tapi, tahu-tahu 2005 saya sudah siap, dan 2006 saya dapat buku Ayat-Ayat Cinta, mau produksi itu dulu jadi mundur. Hingga saya memulai dengan film Kala punya Joko Anwar,” tutur Manoj.
Walau bukan film box office, namun film Kala (2007) sukses meraih penghargaan sutradara terbaik. Lalu, film Ayat-Ayat Cinta (2008) sukses meraih 3,7 juta penonton bahkan memecahkan rekor penonton terbanyak yang sebelumnya diraih film Titanic.
Rekor Ayat-Ayat Cinta tersebut kemudian mampu dipecahkan oleh MD Pictures sendiri via film Habibie & Ainun (2012), yang ditonton oleh lebih dari 4,6 juta orang.
“Saya punya ambisi buat film yang top semua. Tidak sekadar, kalau dulu membuat film sebagai proyek, satu film off, satu film off. Sekarang film sudah jadi industri bagi saya,” tutur Manoj.
Bagi Manoj, saat ini penonton film Indonesia telah pintar menentukan mana film baik dan buruk. Pertumbuhan ekonomi di negara ini juga mempengaruhi daya beli masyarakat di mana mereka kini tak lagi enggan mengeluarkan uang untuk menyaksikan film di bioskop.
Dia pun mempunyai harapan industri film nasional dapat berjaya di negaranya sendiri. “Saya ingin film Indonesia bisa mengalahkan film asing”, tuturnya. (lia)











