Lahat, Sumselupdate.com – Sehari setelah dikuburkan, makam Asfani alias Aswandi (57), warga Desa Pajar Bulan, Kecamatan Mulak Ulu, Kabupaten Lahat, Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), yang semula diduga kuat tewas dimangsa harimau, kembali dibongkar petugas.
Keputusan dibongkarnya makam Aswandi, karena saat ditemukan jasad korban terpotong beberapa bagian. Kondisi ini menimbulkan kecurigaan lantaran biasanya korban yang tewas dimangsa harimau, jasadnya tercabik-cabik, namun tidak sampai terpotong beberapa bagian.
Pembongkaran makam Aswandi dilakukan petugas Polsek Mulak Ulu, Kabupaten Lahat dibantu dokter forensik dari Kepolisian Daerah (Polda) Sumsel, Senin (23//12/2019).
Selain pembongkaran makam, petugas gabungan dan warga mencari beberapa bagian tubuh korban lainnya. Hasilnya, ditemukan tulang, rahang, dan usus. Bagian-bagian tubuh ini kembali dikuburkan di makam korban.
Kapolres Lahat AKBP Irwansyah, SIK, MK melalui melalui Kapolsek Mulak Ulu, AKP Kasmini Dardah kepada Sumselupdate.comm mengatakan, pembongkaran makam Aswandi demi kepentingan penyidikan dan telah mendapat persetujuan keluarga korban.
Dikatakan Kapolsek, hasil pemeriksaan dokter forensik Polda Sumsel, jika korban Aswandi murni meninggal dunia akibat dimangsa hewan buas.
Namun menurut Kasmini, jenis satwa liar yang memangsa korban Aswandi belum diketahui, apakah harimau atau jenis hewan buas lainnya.
Pastinya, Kasmini mengimbau kepada seluruh warga untuk meningkatkan kewaspadaan jika mau pergi ke kebun kopi. Namun dia mengimbau juga agar warga tidak terlalu takut secara berlebihan jika hendak pergi ke kebun.
“Kalau terlalu takut secara berlebihan bagaimana mau makan. Jadi saya mengimbau pergi ke kebun kopi jangan terlalu pagi dan terus meningkatkan kewaspadaan,” kata Kasmini.
Sementara itu, Rohmat, petugas Polhut Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) SKW II Lahat mengatakan, hasil temuan pihaknya, jika Aswandi dimangsa hewan buas bukan jenis harimau.
Dia beralasan, di lokasi ditemukannya jasad Aswandi tidak ada sama sekali jejak harimau.
“Hasil identifikasi yang kami lakukan hari ini di TKP tidak menemukan tanda-tanda adanya satwa liar harimau di lokasi ditemukannya jasad korban,” jelasnya.
Namun Kasmini mengaku, pihaknya tidak bisa menentukan satwa liar apa yang memangsa korban Aswandi, sebab tidak ada petunjuk dan keterangan saksi yang melihat kejadian tersebut.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Aswandi yang semula ditulis bernama Suwandi, ditemukan sudah tak bernyawa dengan kondisi sangat mengenaskan tergeletak tak jauh dari pondok kebun kopinya, Minggu (22/12/2019).
Jepri, pemerintah desa mengemukakan jasad korban pertama kali ditemukan Volta (16) anak korban sekitar pukul 12.00 WIB.
Saat ditemukan jasad korban ditemukan sudah terpisah beberapa bagian. Hingga jasad almarhum dibawa ke rumah sakit bagian dada korban yang belum ditemukan.
Kematian Aswandi menambah daftar panjang korban dimangsa harimau. Dari catatan Sumselupdate.com dalam dua bulan terakhir sudah lima warga diterkam hewan buas yang dilindungi negara.
Serangan mematikan paling teranyar dialami Mustadi (55), warga Desa Pajar Bulan, Kecamatan Semendo Darat Ulu, Kabupaten Muaraenim.
Mustadi tewas dengan luka tercabik-cabik diterkam harimau saat berada di hutan wilayah Kecamatan Kota Agung, Kabupaten Lahat, Provinsi Sumatera Selatan pada Kamis (12/12/2019).
Korban lainnya, Yudiansyah Haryanto (40), warga Dusun Tebat Benawa, Kecamatan Dempo Selatan, Kota Pagaralam.
Korban ditemukan aparat dan masyarakat pada 5 Desember 2019 lalu dengan kondisi tubuh Yudiansyah Haryanto yang akrab disapa Yanto ini, sangat menggenaskan.
Selain isi perut sudah tidak ada lagi, paha dan kaki korban sudah kelihatan tulang. Pada tubuh korban juga kelihatan tulang rusuknya, dan kepala korban sudah dalam kondisi tak bisa dikenali lagi.
Sebelum Yanto, serangan harimau juga dialami Irfan (22), warga Kota Sekayu, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba).
Irfan menderita luka berat dan cukup parah setelah diterkam harimau di dekat pemukiman warga yang tinggal di kawasan kebun teh Gunung Dempo Kota Pagaralam.
Peristiwa yang menimpa warga Sekayu ini terjadi pada Jumat (15/11/2019), sekitar pukul 20.30 WIB.
Dua hari kemudian tepatnya pada 17 November 2019, serangan harimau kali ini dialami Kuswanto (28), warga Desa Pulau Panas, Kecamatan Tanjung Sakti, Kabupaten Lahat.
Korban meninggal dunia diterkam saat sedang merumput (baca: menyiangi rumput) di kebun kopi. Kuswanto menemui ajal setelah lehernya diterkam harimau.
Sedangkan kejadian lainnya menimpa Marta Rulani (24) bin Alfian, warga Tebat Benawa, Kecamatan Dempo Selatan, Kota Pagaralam.
Korban diterkam harimau di bagian paha sebelah kanan dengan luka gigitan dan cakaran kuku hewan buas tersebut. Beruntung korban selamat dari maut.
Peristiwa menggegerkan warga Kota Pagaralam ini terjadi, Senin (2/12/2019) sekitar pukul 09 00. Serangan hewan buas ini saat korban sedang menyiangi rumput di kebun kopi.
Teror hewan buas yang dilindungi negara ini membuat Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Wilayah X Dempo dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Selatan, turun tangan. (ric)











