Lubuklinggau-OKI KLB, Sumsel Siaga DBD

Rabu, 27 Januari 2016
Ilustrasi

Palembang, Sumselupdate.com
Musim penghujan seperti sekarang ini, penyakit Demam Berdarah (DBD) patut diwaspadai, terlebih dua daerah di Sumatera Selatan (Sumsel), yakni Kabupaten Lubuklinggau dan Ogan Komering Ilir (OKI), sudah dinyatakan status Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD.
Sejak awal Januari lalu, jumlah penderita DBD sudah menjangkiti 586 orang di 17 kabupaten/kota Sumatera Selatan dan sebanyak 9 orang di antaranya meninggal dunia. Tiga korban meninggal di Kabupaten Lubuklinggau dan dua di OKI.
Gubernur Sumsel H Alex Noerdin mengapresiasi pemerintah kabupaten yang telah menentapkan KLB tersebut. Hal itu guna mengintensifkan kesiagaan daerah dalam mencegah dan menanggulangi DBD.
“Palembang dan daerah lainnya harus jaga-jaga. Selalu lakukan 3M menguras, mengubur, dan menutup, sosialisasi disegerakan rumah sakit disiagakan, dan obat-obatan disiapkan,” tegas Alex, Rabu (27/1).
Alex menuturkan, secara resmi Provinsi Sumsel sendiri belum ada penetapan resmi KLB. Namun bila tren peningkatan penderita terus berlanjut, bukan tidak mungkin provinsi Sumsel pun mengumumkan KLB DBD.
Dirinya pun meminta kepada pemerintah kabupaten/kota untuk melakukan antisipasi penyebaran kasus DBD di daerahnya masing-masing. Menurutnya, nyamuk aedes aegepty akan berkembang biak karena didukung dengan cuaca dan karena tidak adanya kebersihan di suatu daerah.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumsel Dra Lesty Nuraini mengatakan, secara rinci, penyebaran DBD di Lubuklinggau 148 kasus, 108 kasus di OKI, Musi Banyuasin 100 kasus, 91 di Palembang, 28 kasus di Banyuasin, Pagaralam 14 kasus, Lahat 13 kasus, OKU Selatan 11 kasus, OKU Timur 10 kasus, Prabumulih 10, Muratara 9, OKU 8, Musirawas 8, Pali 7 kasus, Ogan Ilir 6 kasus, dan Muaraenim 15 kasus.
Lesty menuturkan, Lubuklinggau menetapkan status KLB karena adanya peningkatan jumlah kasus DBD.
Pada tahun ini yakni 148 kasus, adalah kasus DBD terbanyak sejak lima tahun terakhir di Lubuklinggau. Pada bulan yang sama di tahun 2015 hanya 11 kasus. Sementara pada 2014 hanya 6 kasus, 2013 yakni 14 kasus, 2012 ada 36 kasus dan 2011 hanya7 kasus. (erk)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.