Kota Batu, orang mana yang belum tahu akan kota indah ini? Hampir setiap orang di seluruh nusantara ini kenal akan Kota Batu, bahkan orang dari berbagai mancanegara. Wilayah Kota Batu terletak di ketinggian 700 – 1700 mdpl, dengan luas wilayah 202.30 km². Kota ini terkenal akan udaranya yang asri dan sejuk dengan suhu 11 – 19 ºC, sehingga orang mana yang tidak betah menetap di sini, meskipun sebagian hanya sekedar singgah sementara.
Kota Batu merupakan kota dengan sejuta keindahan, dimana potensi utamanya didapat dari penghasilan buah dan sayuran. Ditambah lagi dengan dengan pesona alamnya, seperti pegunungan dan bukit yang menjadi potensi pariwisata yang sering dikunjungi.
Saat ini Kota Batu menjadi salah satu tujuan favorit pelesiran di Jawa Timur. Karena pada dasarnya Kota Batu terkenal dengan dua sektornya yaitu pertanian dan pariwisata. Di kota ini sangat kuat akan pertaniannya, yang bisa menghasilkan produk-produk pangan, wisata petik apel, strawbery dan juga petik sayur. Sektor ini juga bisa dimanfaatkan untuk dunia pariwasata.
Temas menjadi contoh kelurahan yang memanfaatkan lahan pertanian untuk berwisata. Agenda menarik lainya juga digelar di FKT#4 yang banyak menyedot perhatian kunjungan wisatawan. Festival ini mengambil lokasi di persawahan dengan pemandangan bukit dan pegunungan, serta pesertanya dari gabungan kelompok tani (Gapoktan) se-Malang. Tujuannya adalah mengenalkan dan mengedukasi tentang pertanian organik. Saat ini Temas sudah memiliki kampung tani dan kampung ekologi. Seperti diungkap Lurah Temas, Aries, di lokasi ini bisa petik sayur, juga dilengkapi dengan outbond dan ada penginapannya.
Tidak kalah dengan sektor pertanian, pariwisata juga menjadi tujuan utama pelancong dari berbagai daerah, bahkan ada juga dari manca negara. Banyak objek wisata maupun keindahan alamnya yang menarik untuk berkunjung ke kota berjuluk de klein switzerland atau Swiss kecil di Pulau Jawa ini.
Saat ini banyak yang berbondong-bondong ke kota ini hanya untuk melihat keindahan alamnya atau hanya sekedar berfoto selfie. Banyak kunjungan pariwisata yang tidak pernah sepi dikunjugi wisatawan, seperti Jawa Timur Park 1, Jawa Timur Park 2, Jawa Timur Park 3, selecta, agrowisata, paralayang, pemandian Songgoriti dan masih banyak lagi. Menurut Kepala Pengelola Wahana Wisata, Bambang Hariyanto, sejak memasuki pekan liburan rata-rata ada 1000 pengunjung yang datang. Padahal pada hari biasa hanya sekitar 400 orang.
Satu diantaranya yang layak disinggahi adalah Desa Sidomulyo, Kecamatan Batu, salah satu sentra budidaya pertanian holtikultura di Kota Batu, khususnya taman hias. Menuju desa ini, dari pusat melintasi jalan bukit berbunga dan deretan kios penjual bunga di kiri kanan sepanjang jalan.
Di desa ini 85% membudidayakan tanaman hias. Baik di kebun, pekarangan, halaman rumah dengan media polibag, maupun di dalam green house. Sejauh mata memandang akan tampak hamparan bunga cantik beraneka jenis. Ada pula pasar bunga yang luasnya 2,5 hektare dan gelora bunga seluas 4 hektare. Tak semua wisatawan yang berkunjung itu datang untuk membeli bunga, ada pula yang membeli pot bunga mawar, anggrek dan lain-lain untuk dibawa pulang sebagai buah tangan.
Belum lagi dengan kulinernya, traveling ke Kota Batu jangan sampai terlewat untuk mencicipi jajanan malam hari yang menarik di sana. Banyak sekali jajanan malam di kota ini yang tersebar di berbagai lokasi.
Jajanan pertama yang direkomendasikan adalah pos ketan legenda yang kini banyak menghadirkan berbagai inovasi. Pengunjung bisa menemukan pos ketan ini di sebelah selatan Kota Batu. Jajanan kedua, yang memang belum lengkap jika belum mencicipi kuliner malamnya di Mie Soden. Tempat ini sangat populer lantaran sudah ada sejak jaman penjajahan Belanda. Lokasinya tidak jauh dari gerbang masuk slecta, Anda akan melihat warung bambu sederhana, itulah mie soden.
Demikian begitu banyak keindahan yang dapat dinikmati ketika kita berkunjung ke Kota Batu, mulai dari sektor pariwisatnya, pertanianya, bahkan jajanannya. Tidak salah jika Anda merencanakan kunjungan ke kota ini sebagai salah satu tujuan traveling Anda.

Penulis adalah Rosalita Wijayanti, Mahasiswa Jurusan Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Muhammadiyah Malang











