Ketika Pempek Menggurita Hingga ke Pelosok Negeri Bersama JNE

Salah satu program apresiasi yang sudah dijalankan JNE saat ini adalah JNE Loyalti Card (JLC).

Laporan: Edwar Heryadi

Di masa pandemi Covid-19 kebutuhan masyarakat justru semakin meningkat. Di era digitalisasi memungkinkan masyarakat memesan barang hanya lewat telepon seluler. Salah satunya makanan khas Kota Palembang yakni pempek. Makanan yang terbuat dari ikan dan tepung sagu itu kian menggurita ke pelosok negeri seiring perkembangan perusahaan ekspedisi, salah satunya JNE.  

Read More

SELEPAS magrib, Selasa (4/1/2022), beberapa karyawan Pempek Jimmy Devaten masih sibuk melayani pembeli.

Di etalase warung, masih terpajang puluhan pempek kecil maupun pempek berukuran besar atau lebih dikenal pempek kapal selam.

Para pembeli dan pelanggannya pun silih berganti berdatangan. Ada yang datang untuk makan di tempat, namun ada juga yang sekadar membeli untuk dibungkus.

Sementara di sudut warung panganan itu, seorang pria paruh baya yang memakai kopiah warna hitam tengah duduk sembari memainkan telepon genggamnya.

Ya, pria itu Jimmy Firmansyah (42), owner dari Pempek Jimmy Devaten. Dia mempersilahkan masuk ketika Sumselupdate.com berkesempatan bertandang malam itu di tempat usahanya.

Jimmy mengawali pembicaraan santainya bagaimana pasang surutnya dalam menapaki usaha pempeknya.

Jimmy menceritakan jika usaha pempeknya mulai digelutinya mulai September 2003 saat dirinya resign dari tempatnya bekerja di Batam dan pamannya yang puluhan tahun menggeluti usaha pempek ini meninggal dunia.

Dalam menggeluti usaha pempek ini, diakui Jimmy penuh dengan perjuangan. Mulai jualan pempek dengan menyewa ruko hingga berdagang pempek memakai gerobak di pinggir jalan.

Sempat tutup dan membuka usaha pempek di Bekasi Jawa Barat, namun keberuntungan belum berpihak. Akhirnya Jimmy memutuskan kembali hijrah ke Kota Palembang dan memulai usaha pempek dari nol.

Nah, saat kembali menggeluti usaha pempek dan membuka warung di persimpangan Jalan Depaten Lama No 27, Kelurahan 27 Ilir, Kecamatan Ilir Barat II, Kota Palembang, Sumatera Selatan, keberuntungan mulai berpihak.

Dari membuat pempek dalam sehari tujuh kilogram, bertambah sepuluh kilogram, hingga saat ini sudah mencapai 30-50 kilogram dalam sehari.

Minat masyarakat terhadap pempeknya sangat tinggi. Dibantu dua reseller (pengecer) yang berada di Kota Bogor dan sepuluh reseller secara online, penjualannya kian meningkat.

Untuk membantu pengiriman pempek ke konsumennya, Jimmy memutuskan untuk bekerja sama dengan JNE mulai tahun 2013.

Keputusan Jimmy memakai jasa JNE dalam pengiriman pempeknya bukan tanpa alasan. Selain tepat waktu, jaringan JNE masuk hingga ke pelosok negeri.

Jimmy Firmansyah, owner dari Pempek Jimmy Devaten.

“JNE itu peka terhadap UMKM. Dalam artian JNE memahami jika UMKM butuh jasa pengiriman, sehingga mereka jemput bola. Selain itu, kelebihan dari JNE yakni jaringannya sudah sangat luas. JNE sudah menjangkau ke seluruh pelosok sehingga pengirimannya tepat waktu. Contohnya jika di Sumsel ini, JNE sudah masuk ke kawasan pelosok seperti di Kabupaten Muratara dan daerah lainnya,” kata Jimmy yang menjabat Humas Asosiasi Pengusaha Pempek (Asppek) Palembang.

Tercatat Pempek Jimmy Devaten merupakan satu dari dari 350 ribu Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang terdaftar dalam anggota JNE Loyalty Card atau JLC.

Sejak menjadi anggota JLC, Pempek Jimmy Devaten sudah pernah mendapatkan penghargaan dalam kategori konsumen terbesar dalam pengiriman barang.

Branch Head JNE Palembang Muhammad Daud mengatakan, pihaknya saat ini memang memfokuskan mengangkat potensi UMKM yang berada di daerah.

Salah satu cara mengangkat potensi UMKM tersebut dengan gencar mempromosikan di media sosial dan memasukan dalam website Pesona JNE (Pesanan Oleh-oleh Nusantara). Di mana saat ini anggota Pesona JNE sudah mencapai 40 ribu UMKM.

Daud mengungkapkan bagaimana JNE bisa bertahan hingga berusia 31 tahun, kuncinya adalah menjaga kepercayaan konsumen.

Menjaga kepercayaan konsumen itu dengan cara mengantar barang harus tepat waktu.

“Khusus di Sumsel jaringan JNE sudah lama masuk di 17 kota dan kabupaten. Saat ini JNE memfokuskan jaringan ke zona C dan D (kawasan pelosok). Kalau dahulu 65 persen fokus di zona A dan B (kawasan perkotaan), sekarang dibalik. 65 persen zona C dan D, sedangkan 35 persennya difokuskan pada zona A dan B. Tujuan dari peralihan ini, JNE ingin melayani masyarakat yang menggunakan jasa pengiriman dengan sistem COD dengan sangat maksimal,” jelas Daud.

Senada dikatakan Public Relation Regional Sumatera, Khairul Amri Tanjung. Selain menjaga kepercayaan konsumen, JNE tetap menjaga brand promises dan bahkan melebihi ekspektasi konsumen.

Menjaga kepercayaan dan brand promises, menurut Khairul, JNE selalu berinovasi terkait digitalisasi yang tiada henti dan terus melakukan perbaikan pada kualitas dan kuantitas jaringan layanan di seluruh Indonesia.

“Kami melayani pelanggan setia JNE selama 24 jam, mulai dari pengiriman di titik layanan serta memaksimalkan seluruh saluran komunikasi resmi JNE seperti  website: www.jne.co.id, facebook: JNE, twitter: @JNE_ID, instagram: @JNE_ID. Di mana tujuannya untuk menyampaikan informasi terkait berbagai program JNE,” jelasnya.

Informasi-informasi itu seperti program–program promo seperti cashback atau diskon ongkir, dilakukan secara mandiri atau bersama online market place,

Kemudian, program apresiasi untuk loyal customer para member JLC atau JNE Loyalty Card dan program pemberdayaan komunitas seperti workshop atau pelatihan gratis untuk meningkatkan daya saing para UMKM di era digitalisasi.

Terkait digitalisasi, Khairul menjelaskan JNE mengembangkan sektor teknologi dan informasi sehingga pelanggan dapat mengetahui keberadaan paket dan estimasi waktu serta lokasi titik layanan dengan mobile apps MyJNE atau melalui website JNE.

Selain itu JNE juga sedang membangun Mega HUB, dengan mesin sortir besar berbasis tekhnologi canggih. Kemudian, membangun fasilitas e-fullfilment system pergudangan yang terintegrasi.

Pengamat ekonomi Sumsel dari Universitas Muhammadiyah Palembang (UMP) Amidi. SE, MSi.

Trend Positif e-commerce

Sementara itu, pengamat ekonomi Sumsel dari Universitas Muhammadiyah Palembang (UMP) Amidi. SE, MSi mengatakan selama era pandemi Covid-19 pertumbuhan ekonomi terkhusus pada lini e-commerce atau perdagangan elektronik, menunjukkan trend positif.

Perkembangan e-commerce yang begitu signifikan tak terlepas dari kekuatan jasa pengiriman dan logistik dalam membuka pangsa pasar yang begitu luas bagi pelaku UMKM.

Ditambah dengan kebijakan pemerintah akhir-akhir ini seperti pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) yang begitu dirasakan dampaknya oleh pelaku UMKM, justru mengambil peran dalam peralihan usaha konvensional ke digital marketing.

Munculnya kebiasaan baru berbelanja secara daring  atau online pada masyarakat, tentu menjadi peluang besar bagi pelaku UMKM dalam melanjutkan putaran ekonomi.

“Apalagi ditambah dengan pemberlakuan digital marketing menunbuhkan UMKM untuk memberikan informasi dan berinteraksi secara langsung dengan konsumen sehingga dapat meningkatkan penjualan bagi pelaku UMKM,” kata Amidi.

Menurutnya, pertumbuhan e-commerce di tahun ini terus mengalami peningkatan dengan tumbuh lebih dari 50 persen bila dibandingkan dengan tahun lalu.

“Sedangkan berdasarkan data yang ada 48 persen pelaku usaha sudah memanfaatkan internet dan teknologi IT untuk memasarkan produknya secara daring,” ungkapnya menambahkan.

Perkembangan pesat e-commerce ini yang kemudian menjadi tantangan dalam berinovasi mengembangkan lagi ekosistem e-commerce yang lebih maju.

Salah satunya dengan peran krusial pelayanan ekspedisi atau logistik pengantaran produk yang menjangkau seluruh pasar tentu akan merebut hati para pelaku UMKM.

“Memang e-commerce tidak terlepas dari peranan eskpedisi. Sekarang ekspedisi sudah lebih menyesuaikan dengan kebutuhan pelaku UMKM, Misalnya masalah ketepatan waktu pengiriman, konsumen bisa mengetahui hari apa dan jam berapa barang pesanannya akan sampai ke rumah,” ungkapnya.

Dengan itu tentu, kemudahan yang dirasakan tidak hanya pada para pelaku UMKM, namun juga kemudahan dan kenyamanan yang diterima oleh konsumen.

Seperti misalnya JNE salah satu ekspedisi yang terbilang cukup lama berkiprah di bidang pelayanan jasa pengantaran atau logistik. Dan juga merupakan salah satu ekspedisi yang cukup banyak digunakan oleh masyarakat.

“Perannya cukup besar karena produk UMKM  terutama pengiriman makanan khusus disumsel dominan menggunakan jasa JNE. Baik untuk jasa pengiriman dalam daerah sendiri Sumsel maupun luar daerah ke provinsi lain,” imbuhnya.

Dinilai saat ini cukup efisien, sebab dalam satu kota saja keberadaan sejumlah di setiap wilayah menjadi kemudahan bagi para pelaku UMKM dalam mengembangkan bisnisnya.

“Inovasi yang baru mereka lakukan seperti sistem pemetaan atau zonasi lokasi yang diikuti oleh petugas antar kurir yang cekatan, sehingga petugas tersebut hafal betul alamat konsumen yang akan dituju,” ungkapnya lebih lanjut.

Meski begitu, kemajuan teknologi khususnya di dunia digital menurut Amidi perlu diperhatikan perusahaan ekspedisi.

Amidi mengatakan, perusahaan ekspedisi harus terus melakukan inovasi-inovasi pengembangan usaha.

Sebab saat ini tak sedikit lagi jumlah ekspedisi yang harus berkompetitif memberikan pelayanan terbaik kepada pelaku UMKM.

“Hanya saja ke depan perlu diantisipasi JNE, sudah banyak pesaing baru dalam jasa pengiriman menggunakan jasa kendaraan online. Belum lagi beberapa market place besar sudah memiliki jasa pengantaran sendiri,” ujarnya. (**)

Yuk bagikan berita ini...

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.