Kerusuhan di Tanjung Balai, Warga Bakar Vihara dan Kelenteng

Rumah Ibadah Dibakar Saat Kerusuhan di Tanjung Balai, Sumatera Utara, Jum'at (29/7) Malam.

Medan, Sumselupdate.com – Kerusuhan antar warga terjadi di Tanjung Balai, Sumatera Utara (Sumut). Sejumlah tempat ibadah yakni vihara dan kelenteng rusak dan terbakar. Selain itu, juga terjadi aksi lempar batu.

“Ada aksi anarkis massa. Ada beberapa bangunan vihara dan kelenteng terbakar di bagian depan. Namun, bagian tembok tidak habis terbakar,” kata Kapolres Tanjung Balai AKBP Ayep Wahyu Gunawan, Sabtu (30/7).

Bacaan Lainnya

Ayep mengatakan, aksi tersebut terjadi pada Jumat (29/7) malam di sejumlah tempat di pusat kota Tanjung Balai. Ia menyebut, bentrok dipicu karena ada seorang wanita merasa terganggu (komplain) dengan pengeras suara di masjid.

“Kemudian ada muncul informasi yang didapat dari masyarakat diduga melalui media sosial sehingga berkumpul,” sambungnya.

Tak lama kemudian, sebut Ayep, terjadi perusakan, pelemparan hingga aksi bakar yang menyebabkan 2 vihara dan sekitar 8 kelenteng rusak. Selain itu, juga ada sejumlah mobil rusak. Polisi yang mengetahui hal itu langsung menuju ke lokasi dan sekitar pukul 03.30 WIB tadi, massa sudah bubar dan api sudah padam.

Ayep menambahkan, pihaknya sudah melakukan mediasi dengan tokoh-tokoh agama dan melakukan pengamanan, serta situasi sudah kondusif.

Sementara itu, pasca rusuh, Kepolisian Resor Tanjung Balai telah menangkap tujuh orang yang diduga membakar dan merusak rumah ibadah. Polisi saat ini sedang menggali keterangan mereka.

“Tujuh orang sudah kami amankan,” ujar Kabid Humas Polda Sumatera Utara, Komisaris Besar Rina Sari Ginting, kepada media, Sabtu (30/7).

Kronologis

Aksi pengrusakan sejumlah tempat ibadah terjadi di Kota Tanjung Balai, Sumatera Utara pada Jumat (29/7) malam sekitar pukul 23.00 WIB.

Dari Informasi yang diperoleh, pengrusakan dan pembakaran sejumlah tempat ibadah oleh massa, berawal dari teguran warga etnis Tionghoa untuk mengecilkan suara adzan di masjid.

Rupanya teguran itu memicu rekasi keras dari ratusan warga. Para pemuda lantas berkumpul dan membakar sejumlah vihara pada Jumat (29/7) malam sekitar pukul 23.00 WIB hingga Sabtu dinihari (30/7).

“Awalnya ada seorang warga Tionghoa bernama Meliana (41) meminta untuk menegur Nazir Almakshum yang ada di Jalan Karya dengan maksud agar mengecilkan volume mikrofon yang ada di masjid. Menurut Nazir, teguran itu disampaikan  beberapa kali,” beber Kabid Humas Polda Sumatera Utara, Komisaris Besar Rina Sari Ginting seperti dilansir JawaPos.com, Sabtu (30/7).

Lalu sekitar pukul 20.00 WIB, Nazir menemui Meliana di kediamannya. Ketika itu terjadi cek-cok mulut sehingga suasana memanas.

“Saat itu sudah memanas, Nazir diamankan ke kantor lurah setempat dan Meliana dan suaminya dibawa ke Polsek Tanjung Balai Selatan,” tutur dia.

Setibanya di Polsek Tanjung Balai Selatan dilakukan pertemuan yang melibatkan Ketua Majelis Ulama Indonesia Tanjung Balai, Ketua FPI Tanjung Balai, Camat dan sejumlah tokoh masyarakat.

“Ketika pertemuan itu massa mulai menumpuk dari berbagai elemen dan melakukan orasi. Tapi sudah diminta untuk membubarkan diri,” lanjut dia.

Bukannya membubarkan diri, jumlah massa semakin banyak. Rina menyebutkan hal itu dikarenakan adanya pancingan dari media sosial Facebook.

“Usai bertambah banyak, massa kemudian bergerak ke rumah Meliana yang ada di Jalan Karya untuk membakar. Tapi itu dilarang oleh warga sekitar,” sambung perwira menengah ini.

Tapi tanpa diduga, massa yang sudah marah ini kemudian bergerak ke Biara Juanda yang berjarak sekitar 500 meter dari Jalang Karya. Di sana massa berupaya untuk membakar namun dihadang oleh personel Polres Tanjung Balai.

Tapi massa melakukan pelemparan dengan menggunakan batu sehingga Biara mengalami kerusakan,” kata dia lagi.

Belum selesai meluapkan emosinya, massa yang begitu banyak itu kemudian melakukan tindakan anarkis di luar kendali polisi. Mereka merusak dan membakar sejumlah tempat ibadah yang ada di kota itu.

Polisi yang jumlahnya saat itu tidak seberapa tak mampu berbuat banyak karena massa begitu brutal dan anarkis di sejumlah titik kota. (lip/shn)

Yuk bagikan berita ini...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.