Muarabeliti, Sumselupdate.com – Refleksi peringatan hari kelahiran Pancasila yang jatuh pada Rabu (1/6) diwarnai aksi sweeping oleh aliansi pemuda dan mahasiswa Musi Rawas (Mura), Lubuklinggau, dan Musi Rawas Utara (Muratara) di kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) dan kantor Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mura.
Aksi sweeping ini lantaran para mahasiswa yang melakukan unjukrasa di depan kantor DPRD Mura tak ditemui oleh anggota dewan, sehingga membuat mahasiswa nekad merangsek masuk. Bahkan ruangan ketua DPRD, dan Waka DPRD serta sekretaris DPRD kabupaten mereka masuki.
Namun hingga 20 menit kemudian, tak satupun anggota dewan mau menemui mereka. Lalu para mahasiswa kembali berjalan menuju kantor Pemkab Mura berharap dapat ditemui oleh Bupati.
Sayangnya, ketika sampai dalam kantor Pemkab, kembali mahasiswa coba men-sweeping ruang Bupati, tapi satuan Polisi Pamong Praja (Pol PP) langsung menghadang para mahasiswa, terjadilah keributan bahkan sempat terjadi aksi dorong-dorongan.
Koordinator Aksi Angga JNS menyampaikan dalam orasinya menuntut pemerintah Kabupaten Mura untuk mendukung pemerintah pusat menjadikan tanggal 1 Juni sebagai hari kelahiran Pancasila serta mendukung pemerintah yang telah menetapkan tanggal 1 Juni hari libur nasional.
“Kita mendukung diadakan upacara serentak terkhusus kepada pemerintah dan anak-anak sekolah serta mahasiswa, dan kembalikan hadirkan kurikulum tentang pelajaran Pancasila di sekolah-sekolah Kabupaten Mura,” ujarnya.
Selain itu, mereka juga menuntut penutupan prostitusi selama bulan suci Ramadhan di Kabupaten Mura.
“Kita meminta pemerintah melakukan penertipan prostitusi seperti kos-kosan, dan hotel saat bulan suci Ramadhan, serta menindak tegas kepada pelaku zina di bulan suci Ramadhan,” tegasnya.
Tak luput juga mereka menyampaikan agar pemerintah mendukung hukum kebiri di Kabupaten Mura sesuai dengan Perpu yang dikeluarkan oleh Presiden.
“Kita meminta pemerintah kabupaten Mura supaya memberlakukan hukum kebiri, karena kita menilai kekerasan seksual sudah mengancam kabupaten Mura,” ungkapnya.
Terkait kosongnya kantor DPRD Mura, saat mereka melakukan aksi, ia mengancam akan melakukan aksi susulan. Menurutnya DPRD merupakan rumah rakyat dan sudah sepatutnya mereka datang atas nama rakyat, ditanggapi bukan diacuhkan dan tidak disambut.
“Kita akan buat surati anggota dewan dan ini akan kami kaji. Seharusnya anggota dewan itu berada di tempat ketika kami datang, karena kami ingin menyampaikan aspirasi kami, bahkan nanti kami akan datang lagi melakukan aksi yang sama,” tegasnya.
Sementara itu, Sekda Kabupaten Mura Isbandi Arsad ketika menemui mahasiswa menyampaikan pihaknya sudah tahu kalau tanggal 1 Juni pancasila akan dijadikan hari kelahiran Pancasila. Bahkan terkait usulan para mahasiswa dirinya akan menyampaikan dengan bupati agar nanti menyampaikan usulan mahasiswa ke pusat.
“Penetapan I Juni masih dalam pembahasan oleh pusat dan pihaknya menunggu. Artinya ketika instruksi keluar, kita akan lakukan serentak, dan kalau pun tidak ada nanti kita akan usulkan masuk dalam kurikulum kita, bahkan masuk dalam kurikulum daerah,” ujarnya.
Sementara untuk menutup prostitusi pihaknya sudah melakukan jauh-jauh hari, bahkan ia mengatakan kemarin malam pihaknya sudah merazia beberapa warung esek-esek untuk ditutup selama bulan suci Ramadhan.
“Semalam tim terpadu sudah melakukan razia, jelang Ramadhan ini sudah koordinasi dengan Muspida, TNI, CPM dan Polisi sudah dilakukan. Ke depan andai kata ditemukan, akan kita tutup secara paksa, karena izinnya tidak ada, bahkan sudah kita antisipasi semua,” jelasnya
Terkait hukum kebiri pihaknya mendukung sepenuhnya, namun pihaknya sekarang hanya bisa menunggu. Karena pemkab Mura mejalankan turunan dari pemerintah pusat.
“Karena semua formulasi kebijakan bermula dari pusat, kita sebagai pemerintah daerah hanya bisa menunggu diberlakukannya hukum kebiri ini,” katanya. (ain)











