Palembang, Sumselupdate.com – Petugas Satreskrim Perlindungan Anak dan Perempuan (PPA) Polresta Palembang, memeriksa dua saksi terkait kasus dugaan pemerkosaan yang dilakukan NJ (61) terhadap korbannya A (13) pelajar kelas V SD di kota Palembang, Selasa (18/7/2017).
“Hari ini kita memeriksa dua saksi dalam kasus ini,” ujar Kanit PPA Satreskrim Polresta Palembang, Ipda Henny Kristyaningsih.
Terlihat di ruang Unit PPA korban A terus tertunduk saat dilakukan pemeriksaan dan ditemani oleh ibunya, bibinya, pamannya dan seorang pendamping dari Rumah Perlindungan Sosial Anak Dinsos Provinsi Sumsel.
“Waktu itu saya disuruh tidur lalu celana saya dibuka dan dia menindih serta menggerakkan badannya,” terangnya.
Setelah itu, sang Nenek pun diakuinya menaiki badannya yang sedang posisi terlentang. “Tak sampai limo menit, ado keluar cairan,”ujarnya.
Ditanya bagaimana dirinya di sekolah, A mengaku tetap masuk sekolah seperti biasa. “Tapi aku galak diejek dan dikato-katoi di sekolah,” sambungnya seraya menyebut kalau saat ini masih shock dan trauma.
Dari cerita korban, pelaku pernah bercerita kalau selain dia juga ada korban lain. “Dio (terlapor-red) pernah bilang katonyo selain aku jugo ado budak lain yang diajaknyo dan dijadikenyo anak angkatnyo,” timpalnya.
Sementara itu, R (33) ibu korban mengaku setelah mengadukan perbuatan terlapor ke SPK Terpadu Polresta Palembang, keluarganya terus mendapati pengancaman dari sang nenek.
“Kami diancam terus, jadi banyak saksi jadi tidak mau datang karena takut,” sesalnya. Dirinya pun mendapat cerita dari tetangganya kemarin (dua hari lalu-red) sang nenek datang ke rumahnya.
“Aku katek di rumah, kato tetangga nenek itu datang lagi ngancam nak ketemu dan marah-marah,” timpalnya.
Berdasarkan pengakuan korban, sang ibu baru mengetahui kalau sang Nenek sudah melancarkan aksinya sejak dua bulan terakhir.
“Aku ni curiga ngapo Nenek itu galak bisik-bisik dekat anak aku. Jadi ku desak terus akhirnyo anak aku ngaku sudah di cak itu kan nenek itu,” akunya kesal.
Apalagi tak hanya satu kali, melainkan sudah hampir sepuluh kali dan dilakukan sejak dua bulan terakhir.
Sedangkan bibi korban, L membenarkan kondisi psikologis keponakannya itu yang masih shock. “Tadi dijemput di sekolah dia dilihati teman-temannya sehingga merasa malu,” timpalnya.
Sementara itu, Edi Hendri, Perwakilan Rumah Perlindungan Sosial Anak Dinsos Sumsel menambahkan, pihaknya mencoba untuk mendampingi supaya hak korban yang masih anak-anak tidak terabaikan. “Terutama kondisi psikologis anak,” akunya.
Untuk kasusnya sendiri, dirinya menyebut masih dalam pendalaman pihak yang berwajib. “Oleh karena itu, kita juga menyiapkan psikolog dari rumah perlindungan sosial anak Provinsi Sumsel,” tambahnya.
Lebih lanjut, dirinya mengaku hak anak setelah peristiwa masih tetap harua bersekolah, hak bermain jangan sampai terabaikan apalagi dia bilang pelaku mengancam di rumah mendatangi ke rumah.
“Korban juga beberapa hari lalu mendatangi korban karena sudah lama tidak mendatangi nenek. Kita melihat sejauh mana tingkat trauma yang dialami korban,” timpalnya.
Dirinya pun membenarkan, dari cerita korban bahwa ada korban lain. “Tapi itu bukan kewenangan kita. Kita siapkan psikolog dari rumah perlindungan anak,” katanya. (tra)











