Harimau Sudah Terkam Empat Warga, Petani Kopi di Pagaralam Takut Pergi ke Kebun

Sabtu, 7 Desember 2019
Basmadi (tengah) bersama dua tetangganya Wawan (kiri) dan Widiansyah, petani kopi di Dusun Tebat Benawa, Kecamatan Dempo Selatan, Kota Pagaralam yang mengaku takut akibat teror harimau yang sudah menerkam empat warga, Kamis (5/12/2019).

Pagaralam, Sumselupdate.com – Tercatat empat warga yang berada di Kota Pagaralam, Provinsi Sumatera Selatan, diterkam harimau Sumatera.

Dari empat warga yang diterkam hewan buah yang dlindungi negara itu, dua di antaranya meninggal dunia dengan kondisi menggenaskan.

Read More

Tak pelak, peristiwa harimau yang sudah memangsa manusia ini membuat petani kopi dan keluarganya takut pergi ke kebun.

Masyarakat dihantui rasa takut jika sewaktu-waktu bisa menjadi korban berikutnya dari keganasan harimau Sumatera itu.

Seperti diungkapkan Basmadi (60), petani yang tinggal di Dusun Tebat Benawa, Kecamatan Dempo Selatan, Kota Pagaralam.

Ditemui wartawan Sumselupdate.com di kediamannya, Kamis (5/12/2019), Basmadi mengaku, teror harimau Sumatera ini sudah sangat meresahkan masyarakat.

Basmadi yang mengaku sudah turun temurun berkebun kopi di Dusun Tebat Benawa ini berharap Pemerintah Kota (Pemkot) Kota Pagaralam maupun pihak terkait memberikan rasa aman dengan melakukan upaya antisipasi agar peristiwa warga diterkam harimau tak terulang kembali.

Penampakan hewan buas yang diduga harimau Sumatera yang kini masuk ke kawasan perkebunan hingga dekat pemukiman warga di Kabupaten Lahat dan Kota Pagaralam, Sumsel.

 

Harapan sama dikatakan Wawan (43) dan Widiansyah (38). Dua petani kopi di Dusun Tebat Benawa ini mengaku, sangat ketakutan dengan adanya teror harimau ini, apalagi korban dari hewan buas ini sudah banyak.

Menurut Wawan, selain petani takut pergi ke kebun kopi, anak-anak mereka juga takut untuk keluar rumah.

“Jadi kami minta tolong nian dengan pemerintah untuk mengatasi persoalan, apalagi kebun kopi ini menjadi satu-satunya mata pencaharian kami,” tutur Wawan yang diiyakan rekannya.

Sebagaimana diketahui, sudah empat warga menjadi korban keganasan harimau. Dua hari lalu tepatnya pada Kamis (5/12) lalu, Yudiansyah Haryanto (40), warga Dusun Tebat Benawa, Kecamatan Dempo Selatan, Kota Pagaralam, tewas dimangsa harimau.

Sebelum Yudiansyah Haryanto yang akrab disapa Yanto ini, ada tiga warga lain yang menjadi korban serangan hewan buas ini.

Baik Yanto maupun Kuswanto (28), warga Desa Pulau Panas, Kecamatan Tanjung Sakti, Kabupaten Lahat dan Marta Rulani (24) bin Alfian, warga Tebat Benawa, Kecamatan Dempo Selatan, Kota Pagaralam, diserang harimau saat berada di kebun kopi.

Hanya Irfan (22), warga Kota Sekayu, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) yang luka berat diterkam harimau,  tidak berada di kebun kopi.

Irfan diterkam harimau saat berada di dekat pemukiman warga yang tinggal di kawasan kebun teh Gunung Dempo Kota Pagaralam.

Dari tiga warga yang diserang harimau saat berada di kebun kopi, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kabupaten Lahat mensinyalir perkebunan yang digarap warga masuk kawasan hutan lindung yang notabenenya habitat asli harimau Sumatera.

Ito dari BKSDA Kabupaten Lahat mengatakan, lokasi kebun tempat ditemukan korban Yanto, jauh masuk 12 kilometer kawasan hutan lindung Tebat Benawa, Kelurahan Panjalang, Kecamatan Dempo Selatan.

Ito yang saat itu didampingi Camat Dempo Selatan, Dra Suterima Duadji, MM mengatakan, di lokasi hutan lindung itu banyak warga yang berkebun kopi.

Menurutnya, harimau Sumatera di Kota Pagaralam ini berasal dari dua kantung yakni Bukit Dingin seluas 63 ribu hektar yang membentang dari Kabupaten Lahat, Kota Pagaralam, dan Kabupaten Empat Lawang.

Kemudian, kantung lainnya di Jambul Patah Nanti seluas 282 ribu hektar yang membentang dari Kabupaten Lahat, Kota Pagaralam, dan Kabupaten Muaraenim.

Dikatakannya, upaya yang dilakukan Polres, Polsek, Pemkot Pagaralam, BKSDA, dan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Wilayah X Dempo, yakni terus melakukan evakuasi sekaligus mengimbau masyarakat yang masih berkebun di dalam kawasan hutan lindung untuk kembali ke rumah.

Sebelumnya, Walikota Pagaralam Alpian Maskoni didampingi Wakil Walikota Muhammad Fadli menggelar rapat terpadu bersama Polres Pagaralam, Kodim 0405, BKSDA Sumsel, dan KPH Wilayah X Dempo pada Selasa, 3 Desember 2019,

Dalam rapat itu, Walikota Pagaralam memutuskan untuk melarang aktivitas apapun di kawasan hutan lindung. Larangan ini bertujuan agar kawasan hutan lindung yang menjadi habitat harimau tidak terganggu.

Untuk mengawasi larangan itu agar dipatuhi warga, BKSDA Sumsel dan KPH Wilayah X Dempo diminta agar terus melakukan pengawasan di kawasan hutan lindung guna memastikan aman dari aktivitas manusia. (ric/edo)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts