Gelombang Panas di Eropa Tewaskan Ribuan Orang, Jerman Diprediksi Rugi Rp2.353 Triliun

Writer: - Selasa, 30 Juni 2026
Gelombang panas ekstrem di Prancis. (Foto: REUTERS/Abdul Saboor)

Jakarta, Sumselupdate.com – Gelombang panas ekstrem masih melanda sejumlah negara di Eropa dengan suhu yang menembus lebih dari 35 derajat Celsius. Kondisi tersebut memicu dampak luas, mulai dari meningkatnya angka kematian hingga terganggunya pasokan energi dan aktivitas ekonomi.

Prancis dan Spanyol menjadi dua negara yang mencatat dampak paling serius. Sementara itu, jutaan penduduk di berbagai wilayah Eropa diperkirakan masih akan menghadapi cuaca panas dalam beberapa hari ke depan.

Read More

Di Prancis, Badan Kesehatan Masyarakat melaporkan lebih dari 1.000 kematian tambahan sejak 24 Juni 2026 akibat gelombang panas yang melanda sebagian besar wilayah negara tersebut.

Dalam laporannya, sekitar 85 persen korban berusia 65 tahun ke atas. Sebagian besar meninggal dunia di rumah, terutama di kawasan Île-de-France yang mencakup Paris.

Otoritas kesehatan Prancis juga mengingatkan pentingnya kepedulian terhadap kelompok rentan, khususnya warga lanjut usia yang tinggal sendiri di kawasan perkotaan.

Sementara itu, di Spanyol, sistem pemantauan kematian MoMo memperkirakan gelombang panas menyebabkan 212 kematian tambahan selama periode 21 hingga 24 Juni 2026.

Data tersebut dihitung menggunakan metode excess mortality atau selisih antara jumlah kematian yang terjadi dengan angka kematian yang diperkirakan berdasarkan rata-rata sebelumnya.

Sepanjang musim panas 2025, Spanyol mencatat 3.832 kematian terkait cuaca panas, meningkat 87,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Tak hanya Prancis dan Spanyol, suhu ekstrem juga melanda sejumlah negara lain seperti Jerman, Republik Ceko, Hongaria, Polandia, Italia, Austria, hingga Belanda.

Analisis berdasarkan prakiraan cuaca Layanan Meteorologi Jerman menunjukkan sekitar 191 juta penduduk Eropa diperkirakan mengalami suhu minimal 35 derajat Celsius, sementara sekitar 381 juta orang menghadapi suhu di atas 30 derajat Celsius.

Dampak gelombang panas juga mulai dirasakan sektor energi. Perusahaan energi Swiss, Axpo, menghentikan sementara operasional dua reaktor Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Beznau karena suhu Sungai Aare yang digunakan sebagai sistem pendingin terus meningkat.

Di Prancis, perusahaan listrik EDF juga menghentikan sementara operasional beberapa reaktor nuklir guna mencegah pelepasan air pendingin bersuhu tinggi ke sungai.

Belanda bahkan untuk pertama kalinya mengeluarkan peringatan merah setelah suhu di sejumlah wilayah diperkirakan mencapai 40 derajat Celsius. Pemerintah setempat meminta masyarakat membatasi perjalanan yang tidak mendesak, sementara operator kereta mengurangi layanan.

Selain mengancam kesehatan, gelombang panas juga mulai memukul perekonomian. Berdasarkan studi Allianz yang dikutip Deutsche Welle, suhu tinggi menurunkan produktivitas tenaga kerja sekaligus meningkatkan biaya energi.

Allianz memperkirakan kerugian ekonomi Jerman sepanjang 2026 hingga 2030 mencapai sekitar 131 miliar dolar AS atau setara Rp2.353 triliun.

Ekonom Allianz, Katharina Utermöhl, menilai Jerman perlu menjadikan penanganan gelombang panas sebagai bagian dari kebijakan ekonomi jangka panjang, bukan sekadar persoalan musiman.

(**)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts