Gaji Tak Dibayar, Ratusan Buruh Harian Lepas PT Mitra Ogan Portal Jalan

Baturaja, Sumselupdate.com – Lantaran belum terima haknya berupa gaji, ratusan buruh harian lepas memportal jalan masuk menunju perkebunan PT Mitra Ogan di Desa Keban Agung, Kecamatan Semidang Aji, Kabupaten OKU, Selasa (24/7/2018).

Akibatnya tak ada aktivitas di wilayah itu, M Keroem, Kordinator aksi saat ditanya wartawan mengungkapkan, apa yang dilakukan pihaknya akibat imbas dari ‘pembohongan’ dari perusahaan yang hingga kini belum membayar hak mereka.

Read More

Adapun kata dia, beberapa hak yang belum dibayar ialah, gaji pemanen buah, suakelola, penebas dan kemanan. “Sudah tutup buku tapi gaji kami belum dibayar jika dihitung empat kali gaji dari Juni sampai saat ini,” jelas M Keroem.

Saat ditanyakan, alasan pihak perusahaan kata dia selalu berbelit mulai dari keuangan tidak bagus sampai alasan lainnya. “Tapi buah keluar terus dari kebun. Artinyakan oprasi tetap jalan inikan tidak sehat,” keluhnya.

“Hitungan gaji kami ini dalam satu bulan 2 kali gajian dengan hitungan setiap tanggal 15 dan tanggal 30, Mei kemarin sudah dibayar. Tapi untuk Juni hingga sekarang hak kami belum dibayarkan. Jadi sesuai kesepakatan akhirnya kami melakukan penutupan akses jalan masuk ke pabrik,” tambahnya.

Namun kata Kroem, tidak semua karyawan dilarang masuk ke dalam perusahaan, Manager, Asisten Kepala, bagian Administrasi, Kasir, SDM dan bagian tata usaha boleh masuk dengan pertimbangan mereka yang akan mengurusi gaji buruh yang belum dibayarkan.

Sementara itu Site Manager PT Mitra Ogan Khairul Aman saat dikonfirmasi membenarkan jika ada sebagian gaji BHL yang belum dibayarkan, namun Khairul membantah jika upah pemanen belum dibayar.

“Gaji pemanen dan buruh angkut sudah untuk periode 1-15 di bulan Juni, hanya keamanan dan buruh tebas yang memang belum dibayarkan upahnya,” kata Khairul

Khairul menjelaskan jika belum dibayarkannya gaji BHL akibat masalah finansial yang diperparah dengan turunnya harga jual sawit di pasaran. Jika sebelumnya harga sawit dikisaran Rp1.600 per kilogramnya kini hanya Rp1.100 per kilogramnya.

“Jadi harga sudah murah, ditambah lagi BHL menyetop aktifitas panen sawit,jadi lebih memperparah keadaan. Tapi semua itu ada solusinya,kita sudah sepakat akan membayarkan upah BHL, kita meminta waktu dengan BHL untuk sabar karena dengan uang sebanyak itu tidak mungkin dalam waktu singkat sudah bisa di cairkan,” lanjut Khairul. (wid)

Yuk bagikan berita ini...

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.