Empat Warga Dimangsa Harimau, KPH dan BKSDA Minta Masyarakat Hentikan Aktivitas di Hutan Lindung, Jika Tidak…

Rabu, 11 Desember 2019
Tugu Rimau di Gunung Dempo Kota Pagaralam yang masuk kawasan hutan lindung.

Pagaralam, Sumselupdate.com – Empat warga yang beraktivitas dan bertempat tinggal di Kota Pagaralam, Provinsi Sumatera Selatan, sudah menjadi korban keganasan harimau Sumatera.

Teror hewan buas yang dilindungi negara ini membuat Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Wilayah X Dempo dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Selatan, turun tangan.

Read More

Kedua otoritas kehutanan Sumatera Selatan meminta penghentian aktivitas di dalam hutan lindung yang notabenenya habitat harimau Sumatera.

Kepala KPH Wilayah X Dempo, Ardiansyah kepada Sumselupdate.com, Rabu (11/12/2019), mengatakan, pihaknya meminta masyarakat untuk tidak berkebun di dalam kawasan hutan lindung.

Menurut Ardiansyah, segala bentuk aktivitas di dalam hutan lindung termasuk melaksanakan perkebunan dilarang, kecuali sudah ada izin dari pemerintah.

“Tak ada cara lain menghindari konflik manusia dengan satwa liar. Warga diminta untuk keluar dari hutan lindung, sebab aktivitas manusia masih saja menjadi pemicu utama munculnya konflik yang melibatkan harimau Sumatera,” tandas Ardiansyah saat diwawancarai via WhatsApp.

Kawasan kebun teh Gunung Dempo, Kota Pagaralam, Provinsi Sumatera Selatan.

 

Ditanya mengenai perambahan hutan yang dilakukan masyarakat baik untuk berkebun atau pengambilan kayu, dikatakan Ardiansyah, untuk saat ini pihaknya masih fokus menyelesaikan gangguan harimau, baru nanti penegakan hukum dilakukan.

Hal sama dikatakan Wahid Nurrudin, Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) BKSDA Sumsel. Menurutnya, hasil pengecekan, timbulnya konflik antara manusia dan harimau karena adanya kerusakan habitat asli satwa dilindungi ini.

Kerusakan habitat asli harimau ini, menurut Wahid, terjadi baik di Dempo maupun kawasan hutan bukit jambul, Gunung Patah.

Sebelumnya, Ito dari BKSDA Kabupaten Lahat mengatakan, upaya pihaknya bersama Polres, Polsek, Pemkot Pagaralam, dan KPH Wilayah X Dempo, yakni terus melakukan evakuasi sekaligus mengimbau masyarakat yang masih berkebun di dalam kawasan hutan lindung untuk kembali ke rumah.

Ito menjelaskan, harimau Sumatera di Kota Pagaralam ini berasal dari dua kantung yakni Bukit Dingin seluas 63 ribu hektar yang membentang dari Kabupaten Lahat, Kota Pagaralam, dan Kabupaten Empat Lawang.

Kemudian, kantung lainnya di hutan bukit jambul, Gunung Patah seluas 282 ribu hektar yang membentang dari Kabupaten Lahat, Kota Pagaralam, dan Kabupaten Muaraenim.

Sebagaimana diketahui, ada empat warga sudah diterkam harimau Sumatera. Korban paling terbaru dialami Yudiansyah Haryanto (40), warga Dusun Tebat Benawa, Kecamatan Dempo Selatan, Kota Pagaralam.

Saat ditemukan aparat dan masyarakat, kondisi tubuh Yudiansyah Haryanto yang akrab disapa Yanto ini, sangat menggenaskan.

Selain isi perut sudah tidak ada lagi, paha dan kaki korban sudah kelihatan tulang. Pada tubuh korban juga kelihatan tulang rusuknya, dan kepala korban sudah dalam kondisi tak bisa dikenali lagi.

Sebelum Yanto, serangan harimau juga dialami Irfan (22), warga Kota Sekayu, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba).

Irfan menderita luka berat dan cukup parah setelah diterkam harimau di dekat pemukiman warga yang tinggal di kawasan kebun teh Gunung Dempo Kota Pagaralam.

Peristiwa yang menimpa warga Sekayu ini terjadi pada Jumat (15/11/2019), sekitar pukul 20.30 WIB.

Dua hari kemudian tepatnya pada 17 November 2019, serangan harimau kali ini dialami Kuswanto (28), warga Desa Pulau Panas, Kecamatan Tanjung Sakti, Kabupaten Lahat.

Petugas kepolisian melakukan patroli pasca-serangan harimau yang sudah memangsa manusia.

 

Korban meninggal dunia diterkam saat sedang merumput (baca: menyiangi rumput) di kebun kopi. Kuswanto menemui ajal setelah lehernya diterkam harimau.

Sedangkan kejadian ketiga menimpa Marta Rulani (24) bin Alfian, warga Tebat Benawa, Kecamatan Dempo Selatan, Kota Pagaralam.

Korban diterkam harimau di bagian paha sebelah kanan dengan luka gigitan dan cakaran kuku hewan buas tersebut. Beruntung korban selamat dari maut.

Peristiwa menggegerkan warga Kota Pagaralam ini terjadi, Senin (2/12/2019) sekitar pukul 09 00. Serangan hewan buas ini saat korban sedang menyiangi rumput di kebun kopi.

Teror harimau ini membuat Walikota Pagaralam Alpian Maskoni didampingi Wakil Walikota Muhammad Fadli menggelar rapat terpadu bersama Polres Pagaralam, Kodim 0405, BKSDA Sumsel, dan KPH Wilayah X Dempo pada Selasa, 3 Desember 2019,

Dalam rapat itu, Walikota Pagaralam memutuskan untuk melarang aktivitas apapun di kawasan hutan lindung. Larangan ini bertujuan agar kawasan hutan lindung yang menjadi habitat harimau tidak terganggu.

Untuk mengawasi larangan itu agar dipatuhi warga, BKSDA Sumsel dan KPH Wilayah X Dempo diminta agar terus melakukan pengawasan di kawasan hutan lindung guna memastikan aman dari aktivitas manusia. (ric/edo)

 

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts