Elektabilitas PPP Turun, Pengamat Nilai Imbas 2 Eks Ketum Terjerat Korupsi

Bendera PPP/ KendariPos

Jakarta, Sumselupdate.com – Elektabilitas PPP di Survei Indikator Politik turun menjadi nol koma. Turunnya eletabilitas PPP itu dinilai karena adanya sejarah dua eks ketua umumnya Suryadharma Ali dan Romahurmuziy terjerat kasus korupsi.

“Faktornya karena korupsi yang pernah mendera dua ketua umumnya. Pemberitaan terkait korupsi ke PPP membuat partai tersebut menurun elektabilitasnya. Karena bagaimana pun PPP partai Islam. Ketika terkena imbas korupsi mantan ketumnya, membuat PPP tergerus elektabilitas,” kata Pengamat Politik dari Universitas Al-Azhar Indonesia, Ujang Komarudin, kepada wartawan, Sabtu (25/10/2020), demikian dilansir Detikcom.

Bacaan Lainnya

Faktor lain menurut Ujang yakni munculnya partai Islam baru dengan kemampuan menggaet milenial. Sedangkan PPP, disebutnya tidak konsen ke kaum anak muda.

“Faktor lainnya, karena banyak bermunculan partai-partai baru yang nge-gas menggarap milenial. Sedangkan PPP dianggap partai tua yang kurang diminati kaum muda,” ujarnya.

Lebih lanjut, terkait caketum PPP, Ujang mengatakan kandidat yang kuat adalah Suharso Monarfa. Dia mengatakan Suharso telah mampu membawa PPP lolos PT di tengah kasus korupsi Romahurmuziy.

“Dia (sebagai plt ketum PPP) dianggap sukses membawa PPP masuk senayan kembali pada Pileg 2019 yang lalu, di tengah kasus korupsi yang mendera Rommy,” ujarnya.

Hal yang sama diungkapkan Pengamat Politik Universitas Pramadina, Hendri Satrio. Dia juga mengatakan PPP saat ini tidak lagi terlihat militan seperti sebelumnya.

“PPP makin lama tidak terlihat lebih militan dibandingkan partai Islam lainnya, kedua memang faktor korupsi para ketua itu berpengaruh, secara gamblang berpengaruh terhadap pemilih Islam, kan seperti jadi tradisi tuh Ketum PPP korupsi, makanya pemilih Islam memilih partai Islam itu pilihannya banyak, ada PKS, PAN, PKS, sekarang malah Partai Umat,” ujarnya.

“Jadi banyak pilihannya, jadi kalau PPP tidak membuat terobosan yang memang berbeda dan disukai rakyat, minimal rakyat ingat PPP itu akan susah,” lanjut Hendsat.

Sama seperti Ujang, Hensat juga menyebut Suharso yang akan terpilih menjadi ketum. PPP menurutnya ketergantungan dengan posisi pejabat negara yang akan menduduki ketum, sehingga menurutnya Suharso lah yang akan terpilih.

“Ini ketergantungan sama pejabat tinggi, jadi kemungkinan besar Suharso yang kuat karena dia yang menjadi pejabat kan,” tuturnya.

Sebelumnya, Survei Indikator Politik merilis soal elektabilitas partai politik. Ada beberapa partai yang mengalami kenaikan dan penurunan. PPP salah satu partai yang elektabilitasnya turun hingga di bawah angka 0 persen.

Survei dilakukan pada 24-30 September 2020. Sebanyak 1.200 responden dipilih secara acak. Metode survei dilakukan dengan wawancara via telepon dengan margin of error sekitar 2,9% dan tingkat kepercayaan 95%. Seluruh responden terdistribusi secara acak dan proporsional.

Berikut ini paparan perkembangan elektabilitas partai yang dilakukan Indikator Politik di bulan September jika dibandingkan dengan surveinya bulan Juli:

PKB: 5,0% turun menjadi 4,1%.
Gerindra: 17,7% naik menjadi 21,1%
PDIP: 26,3% turun menjadi 25,2%
Golkar: 8,3% turun menjadi 6,7%
NasDem 4,5% turun menjadi 3,1%
PKS: 4,4% naik menjadi 5,9%
PPP: 1,7% turun menjadi 0,6%
PAN: 2% turun menjadi 1,1%
Demokrat: 5,7% naik menjadi 5,9%
PSI: 0,1% naik menjadi 0,3%
Perindo: 0,3% naik menjadi 1%
Garuda: 0,0% naik menjadi 0,1%
Berkarya: 0,1% naik menjadi 0,8%
Hanura: 0,5% turun menjadi 0,4%

(dtc/adm5)

Yuk bagikan berita ini...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.