Debit Air Sungai Tinggi, Penambang Pasir di OKUT Terpaksa Berhenti

Kondisi permukaan air Sungai Komering yang naik

Laporan: Rahmat Agusman

Martapura, Sumselupdate.com – Intensitas hujan yang tinggi terus mengguyur wilayah Kabupaten OKU Timur dan Kabupaten OKU Selatan hampir selama satu bulan terakhir mengakibatkan debit air Sungai Komering tidak segera surut. Hal ini membuat sejumlah aktivitas penambangan pasir manual terpaksa berhenti sementara waktu.

Read More

Terhentinya aktifitas penambang pasir di tepian komering, Desa Tanjung Kemala, disebabkan selain tingginya debit air juga karena derasnya arus sungai.

Selain itu, berhentinya penambang pasir manual juga juga disebabkan karena keruhnya aliran Sungai Komering. Sehingga membuat mereka mengalami kesulitan untuk menyelam untuk mengambil pasir.

“Ada puluhan penambang pasir di sepanjang tepian Komering ini. Untuk penambang manual sebagian besar libur. Sedangkan untuk mereka yang menggunakan mesin masih beroperasi meskipun ada sebagian yang juga berhenti,” kata Ujang (38) salah satu penambang pasir di Tepian Komering, Desa Tanjung Kemala, Kecamatan Martapura, Rabu (26/01/2021).

Lebih lanjut dirinya menjelaskan, penambang pasir dan koral biasanya akan kembali beraktivitas setelah aliran Sungai Komering kembali normal. Supaya koral dan pasir tidak mengalami kerusakan akibat kotoran seperti kayu dan ranting pohon yang terbawa arus sungai.

“Banjir itu sudah dipastikan membawa kotoran dan kayu. Terpaksa kami menghentikan penyelaman. Tentunya dengan berhenti aktifitas penambang ini membuat perekonomian kami terganggu. Kami bergantung pada tambang pasir ini. Jadi jika tidak menambang kami tidak ada pemasukan,” katanya.

Sementara itu, Andre (40) yang juga penambang pasir tradisional yang biasa menyelam sungai komering untuk mencari pasir dan koral mengaku terpaksa berhenti karena derasnya arus sungai. Saat ini dirinya beralih menjadi transport pasir namun ini juga tidak bisa menjadi patokan baginya pasalnya stok pasir dd! lokasi tidak ada.

“Kami menyelam untuk mengambil pasir dan koral menggunakan anyaman bambu atau rotan. Jika air meluap maka akan membahayakan kami karena air yang deras kerap membawa kayu dan benda berbahaya lainnya. Untuk sementara saya menyambi transport pasir. Tapi hasil dari transport pasir ini tidak menentu karena stok pasir yang tidak banyak,” pungkasnya. (**)

Yuk bagikan berita ini...

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.