Cerpen: Surganya Penghalang Mimpi Berkabut

Jumat, 1 Oktober 2021
Ilustrasi

Sontak kata-kata yang terlontar itu membuat kecewa dengan selubung tanya dihati Brian, kedua orangtua, Hesti bahkan Ayahnya. Penolakan itu menjadikan hubungan kedua orangtua Hesti, tidak lagi harmonis, terlebih hubungan Hesti dengan Ibunya yang kian berjarak, kepatuhannya sirna menjadi pembangkangan dan perlawanan. Tabir penolakan itu sedikit demi sedikit terkuak, selain sudah mempersiapkan jodoh buat putrinya, juga atas dasar rasa ketidaksukaan Ibu Hesti terhadap Brian.

Akan tetapi, optimisme itu menguat diantara mereka, lantaran Ayah Hesti justru memberikan motivasi dan dukungan. Tetapi dukungan itu menyisakan suatu pertanyaan di benak Brian, apabila Ayahnya sudah setuju dengan hubungan ini tentu sudah tidak ada lagi persoalan, karena peran Ayah selaku kepala keluarga, harusnya segala keputusan ada ditangannya?…Kekuatan rasa telah mengintimkan keduanya, hingga kejenuhan demi kejenuhan menyulut keberanian Ayah Hesti, beliau menyarankan agar Hesti tinggal bersama Brian dan Kedua orangtuanya. Mengetahui saran tersebut, Brian bersama kedua orangtuanya datang menjemput Hesti,… sesekali sayup terdengar, di tengah percakapan kami, menggema suara lantang dari Ayah Hesti “Saya telah mempercayakan dan menyerahkan Hesti kepada Brian dan orangtuanya”.

Read More

Babak kebahagiaan itu muncul, tepat di awal tahun 2014 lantaran Hesti mulai tinggal bersama Brian dan keluarganya. Aktivitas Hesti di kota kelahiran Brian dengan mengajar disalah satu instansi, sementara Brian tetap bekerja di tempat yang sama. Kedekatan Hesti dan kedua orangtua Brian semakin terlihat, terlebih dengan Ibunda Brian. Kenyamanan itu kian terjalin bahkan tak jarang Hesti bercerita sikap dan perlakuan Ibunya selama di rumah, dengan sesekali melumrahkan kondisi itu lantaran sakit yang diderita Ibunya. Entah karena kejenuhan atau ketertindasan yang dialaminya, dengan penuh kepolosan Hesti menceritakan semua hal negatif mengenai Ibunya.

Cerita Hesti itu semakin meyakinkan stigma buruk yang melekat pada diri Ibunya, bagi Brian dan juga kedua orangtuanya. Dilain sisi kebahagiaan Hesti tinggal bersama Brian tidaklah utuh, karena disela waktu ia masih berkomunikasi dengan Ibu dan Ayahnya. Ancaman serta teror datang dari Ibunya, sementara kesedihan datang dari Ayahnya, lantaran sikap Ibunya yang kian menjadi. Hesti kini diambang kebingungan, antara kebahagiaannya, kerinduan, serta rasa iba atas kondisi yang dialami Ayahnya. Ikatan batin antara Ayah dan Anak ini begitu kuat, hingga kerinduan untuk menengok dan bertemu Ayahnya tidak terelakan.

Ahirnya Hesti meminta izin kepada Brian dan kedua orangtua Brian, untuk pulang beberapa waktu saat Ia libur dari pekerjaannya. Dengan sangat terpaksa Brian mengizinkan Hesti pulang, akan tetapi, Brian berfirasat kepulangan Hesti merupakan pertemuan terakhirnya, karena Ibunya akan melarang Hesti untuk kembali lagi ke rumahnya. Dan benar saja setelah kepulangannya itu, Hesti datang beserta kedua orangtuanya ke rumah Brian, tanpa sepengetahuan Brian. Kedatangan mereka tidak lain, hanya untuk mengambil beberapa pakaian dan barang-barang Hesti yang masih tertinggal.

Firasatnya terbukti karena memang Brian tidak sempat bertemu dengan Hesti secara langsung, hanya sekedar informasi yang Ia peroleh dari kedua orangtuanya. Kejadian itu mengguncang pikirannya dan mendorong berbagai spekulasi, tidak hanya menjudge Ibunya tetapi sesekali terhadap Hesti dan Ayahnya. kegetiran itu kian nyata tatkala semua akun jejaring sosial Hesti sudah tidak dapat lagi diakses oleh Brian. Informasi mengenai kabar dan keberadaannya sudah tertutup rapat baik dari teman, saudara, apalagi dari kedua orangtuanya.

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts