Cerpen: Surganya Penghalang Mimpi Berkabut

Ilustrasi

Oleh: Nandhy Prasetyo, Adhietya Tresni & Krishna Aprilia Dewantari

Kata surga dapat disematkan pada proksimitas keluarga bahkan menjadi suatu kajian penting dalam agama, hal itu terbukti disalah satu ayat dalam kitab suci yang mengimplisitkan  “Surga di telapak kaki Ibu”. Ya, Ibu sosok wanita sempurna dengan berjuta kelembutan dan kasih sayang yang melekat pada dirinya. Sementara mimpi berkabut menggambarkan keabu-abuan, ekspektasi sebuah pengharapan manis (fatamorgana) karena kesombongan insan yang menyubjekkan diri menjadi Tuhan dengan menaruh pengharapan tinggi tentang kesempurnaan hidup di masa depan, baik pendidikan, pekerjaan, serta kesuksesan membina keluarga kecil bersama pasangan pilihannya.

Read More

Ya…bukankah begitu, keakraban kita dewasa ini dalam mengkonsumsi isi buku, novel, cerpen, sinetron bahkan film, yang menyodorkan kedamaian disetiap ahir cerita!!!

 

Brian dan Hesti berasal dari kota yang berbeda dan dipertemukan di kota yang sama Yogyakarta. Mereka bertemu dari atap yang sama, di genteng Fakultas Universitas ternama di kota itu. Hanya saja jurusan dan angkatan yang membedakan keduanya, Brian masuk di jurusan Seni Musik, sementara Hesti mengambil jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Keduanya berkenalan melalui salah satu teman Brian yang secara sepihak memberikan pin BB Hesti kepadanya. Kurang lebih satu bulan setelah mendapatkan pin Bb Hesti, mulailah Brian memberanikan diri menyapa Hesti melalui HPnya. Singkat cerita bermula dari chating itulah, tanpa sadar melewati pergantian hari demi hari keduanya menjadi semakin dekat, hingga akhirnya memutuskan untuk bertemu. Dari pertemuan demi pertemuan, di tengah kesibukan Hesti dan terutama Brian yang di akhir-akhir masa kuliahnya, mereka terus intens bertemu meskipun hanya sekedar untuk ngopi atau makan bersama.

Hingga akhirnya, 12 Juni 2011 mereka sepakat mengakhiri status pertemanan dan menjadi sepasang kekasih. Kebahagiaan seakan telah diurutkan Tuhan, selain mendapatkan tambatan hati seayun waktu terselesaikan sudah massa studi Brian. Gelar yang dicita-citakan sudah ia dapatkan, setidaknya bernilai hadiah atau bingkisan kecil untuk kedua orangtuanya.

Tepat pada momentum  kelulusan itu, menjadi saat yang tepat untuk Brian memperkenalkan Hesti kepada kedua orangtua, tentu dengan segudang pengharapan bisa berlanjut ke jenjang yang serius dengannya selain berkarir. Akan tetapi disisi lain, tanpa disadari kelulusannya menawarkan dilematik antara tetap tinggal dan berkarir di Jogja atau pulang ke kota asal, yang bisa jadi merupakan keinginan dan cita-cita orangtua Brian. Kegundahan itu dapat terpecahkan bersama Hesti, hingga akhirnya awal tahun 2012 dengan segala keterpaksaan Brian memutuskan untuk pulang.

Benar saja, dengan waktu yang relatif singkat Brian memperoleh pekerjaan disalah satu instansi pendidikan di kota kelahirannya. Perbedaan ruang dan waktu di antara keduanya, lambat laun tidak menjadikan suatu persoalan. Meskipun kita tahu dibanyak kasus, LDR bukanlah suatu persoalan mudah untuk dilalui dalam hubungan asmara. Brian mulai disibukkan dengan tanggung jawab pekerjaannya, sementara Hesti di Jogja berfokus menyelesaikan studinya. Jarak tidak menjadi pemasung janji kesetiaan di antara mereka, hanya saja semakin berkurangnya intensitas untuk bertemu.

Perlu pengorbanan dan manajemen waktu yang pas untuk berjumpa, misalnya Brian harus sabar menunggu waktu libur dari kantor tempat ia bekerja, sementara Hesti menunggu dengan segudang kesabarannya. Perjuangan itu seakan memerintahkan sang waktu untuk mengikatkan batin mereka semakin dalam dan meneguhkan rasa saling memiliki. Sudut tempat dan lorong waktu yang terlewati, seakan memberikan isyarat memohonkan restu Tuhan untuk tali kasih mereka.

Yuk bagikan berita ini...

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.