Sampai pada suatu ketika, akhir Desember 2019 di sekitaran terminal Jogja tanpa sengaja Brian bertemu dengan Hesti kembali. Sekejap terasa langit seperti runtuh dan menjulangkan gunung kebahagiaan, dengan penuh keraguan bercampur haru, Ia beranikan diri mendekati Hesti dan berkata:
Brian: “Hes…kemana saja kamu selama ini?”
Hesti: “Sudah tidak ada apa-apa lagi di antara kita”
Brian: “Tolong Hes, kurang lebih 6 tahun aku menunggumu tanpa kepastian. Perlakukan aku layaknya manusia”
Hesti: “Aku tidak pernah menyuruhmu menunggu, jauhi aku, karena aku mau menuruti kemauan Ibu. Lagi pula aku sudah nyaman dengan orang Jawa Timur dan aku tidak mau gagal menikah untuk kedua kalinya”(bergitu dingin jawabannya, seolah mau secepatnya bergegas dan pergi)
Brian: “Ya sudah, kalau memang ini keputusanmu. aku ikhlas. Aku yakin perasaanmu itu tidak bisa dipaksakan. Semoga Ibu dan kamu bahagia dengan pilihanmu. Selama ini aku berjuang mencari kepastian, kita bertemu, hingga akhirnya berkomitmen dan selandainya kita harus berpisah setidaknya ada kata perpisahan. Jaga dirimu baik-baik”
Sebelum Brian pergi meninggalkan Hesti, Ia meminta kontak WA Ibunya Hesti, dan seketika Hesti pun mendiktekan nomor WAitu. Beberapa waktu setelah memperoleh kontak WA itu, Brian memberanikan diri untuk chat via wa kepada Ibunya Hesti:
“Assalamualaikum…Bu, selama ini Brian minta maaf, apabila punya banyak salah sama Ayah, Ibu maupun Hesti…selama ini saya berjuang, karena saya punya keinginan membuktikan kepada Ibu, kalau saya sayang sama Ayah, Ibu dan Hesti…Saya hanya ingin membuktikan penilaian Ibu selama ini tentang saya keliru,.. akan tetapi kesempatan itu sudah tertutup, karena Hesti sudah nyaman dengan orang lain. Saya sudah bertemu dengan Hesti Bu tanpa sengaja. Semoga Ayah, Ibu dan Hesti sehat selalu, bahagia dan salam hormat saya”.
Terang sudah semua, selandainya saat kedatangan yang terakhir kedua orangtua Brian ke rumah Hesti, dan Ibunya mau jujur bahwa Hesti sudah berpacaran dengan orang lain, mungkin tidak memperpanjang penderitaan Brian. Kesabaran Brian dalam penantian panjang itu, memiliki 3 alasan: 1) Setelah kepergiannya, Hesti sempat mengirimkan chat lewat mesengger yang isinya “Aku orang yang paling merasakan sakit dengan keadaan ini”; 2) Rasa penasaran Brian karena digantungkan, dipisahkan sepihak secara paksa tanpa alasan (tanpa bertemu maupun berucap); 3) Baginya; inilah lelaki yang sesungguhnya menggenggam kesetiaan rasa, tanggung jawab serta berkomitmen membuktikan bakti dan kasihnya terhadap orang-orang terkasih (khususnya kedua orangtua Hesti, terlebih Ibunya). (**)
Pengirim: Prasetyo Brebes











