Krisis Gaza Kian Parah, 330 Ribu Warga Terancam Kehilangan Air Bersih akibat Dana Bantuan Menipis

Writer: - Sabtu, 6 Juni 2026
Warga Palestina menerima makanan gratis dari sebuah dapur komunitas di Gaza City pada 18 Mei 2026. (Xinhua/Rizek Abdeljawad)

PBB, Sumselupdate.com – Krisis pendanaan bantuan kemanusiaan di Jalur Gaza semakin memperburuk kondisi warga sipil yang terdampak konflik. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa kekurangan dana telah memaksa sejumlah layanan vital dikurangi, termasuk distribusi air bersih bagi ratusan ribu penduduk.

Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), Kamis (4/6/2026), mengungkapkan bahwa hingga pertengahan tahun ini, penggalangan dana kemanusiaan untuk Gaza dan Tepi Barat yang ditargetkan mencapai 4,1 miliar dolar AS baru terpenuhi kurang dari 15 persen.

Read More

Menurut OCHA, keterbatasan pendanaan tersebut berdampak langsung terhadap kemampuan organisasi kemanusiaan dalam merencanakan, menyalurkan, dan memperluas bantuan bagi masyarakat yang membutuhkan.

“Sebagian besar dari 2,1 juta penduduk Gaza masih mengungsi dan sangat bergantung pada layanan kemanusiaan,” demikian disampaikan OCHA dalam laporan hariannya.

Kondisi tersebut memaksa empat mitra kemanusiaan PBB menghentikan secara bertahap distribusi air menggunakan truk tangki sejak akhir Mei. Akibatnya, lebih dari 330.000 warga di sekitar 250 lokasi berisiko kehilangan sumber utama air minum mereka.

Dana Anak-Anak PBB (UNICEF) turut memperingatkan bahwa kelangkaan air bersih membuat banyak keluarga harus memilih antara memenuhi kebutuhan air minum atau menjaga kebersihan untuk mencegah penyebaran penyakit.

Selain itu, kapasitas penyediaan makanan juga mengalami penurunan signifikan. Hingga pekan lalu, para mitra kemanusiaan hanya mampu menyediakan sekitar 678.000 porsi makanan per hari, jauh berkurang dibandingkan 1,5 juta porsi per hari pada pertengahan Maret lalu.

Pemangkasan layanan juga berdampak pada berbagai sektor lainnya, termasuk pemulihan pertanian, pengelolaan lokasi pengungsian, pendidikan, serta pengoperasian kembali ruang aman bagi perempuan dan anak perempuan.

OCHA mendesak negara-negara donor untuk segera meningkatkan kontribusi mereka guna mencegah terhentinya layanan kemanusiaan yang masih berjalan.

“Semakin banyak layanan akan terhenti tanpa tambahan pendanaan,” tegas OCHA.

Selain persoalan di Gaza, OCHA juga menyoroti kondisi di Tepi Barat. Badan PBB tersebut melaporkan sebanyak 27 keluarga penggembala Palestina terpaksa meninggalkan kawasan dekat mata air Ein Fera’a di Hebron setelah mengalami intimidasi dan pelecehan yang disebut dilakukan oleh pemukim Israel.

Komunitas yang terdiri dari 125 orang itu mencakup tiga penyandang disabilitas serta lebih dari 20 warga yang menderita penyakit kronis.

UNICEF telah menyalurkan bantuan berupa perlengkapan bayi, sarana hiburan anak, dan paket kebersihan. Sementara bantuan lanjutan berupa makanan, tenda, perlengkapan dapur, layanan kesehatan, serta bantuan tunai sedang dipersiapkan.

OCHA mencatat, komunitas tersebut menjadi komunitas Palestina ke-46 yang seluruh penduduknya mengungsi sejak Januari 2023 akibat kekerasan pemukim dan pembatasan akses. Secara keseluruhan, lebih dari 6.000 warga Palestina telah mengungsi dalam periode tersebut, termasuk lebih dari 2.000 orang sejak awal 2026.

(**)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts