Cerpen: Pejuang Tua

Minggu, 15 Agustus 2021

Di mata para warga kehidupan tua Mang Suhar sungguh memprihatinkan bahkan sangat menggenaskan. Usai ditinggalkan istrinya yang wafat, tokoh pejuang itu tinggal sendirian di gubug dekat hutan yang tanahnya merupakan tanah pinjaman Desa.

Ketenangan hidup yang dinikmati para warga Kampung Merdeka hari itu terusik. Bagaimana tidak, di saat para warga sedang asyik mengibarkan bendera Sang Saka Merah Merah Putih di halaman rumahnya masing-masing di Hari Kemerdekaan, terdengar suara dari pengeras suara Masjid yang mengumumkan sebuah berita duka.

Read More

Tentu saja pengumuman yang disampaikan pengurus masjid lewat pengeras suara membuat para warga kaget. Bagaimana tidak kaget nama warga yang diumumkan meninggal dunia adalah tokoh pejuang kampung Merdeka. Mang Suhar nama pejuang itu.

“Tadi subuh beliau masih sholat di masjid,” ungkap seorang warga dengan nada suara kaget.

“Iya. Pulangnya barengan dengan saya,” ujar warga yang lain dengan diksi tak percaya.

“Benar sekali. Bahkan sebelum beliau pulang ke rumahnya, beliau masih terlihat ngopi di warung Mbok Iyem dekat pojokan Kampung,” sambung warga yang lain.

Berita wafatnya Mang Suhar menggema di jagad alam yang luas. Berita tentang kematian tokoh pejuang itu meresonansi jaga raya. Mengkelamkan alam. Hari itu semua warga membicarakannya. Bahkan hingga ke dunia maya. Para pengguna facebook, twitter, line, instagram hingga path menjadikan kematian Mang Suhar sebagai trending topic dengan tagar #SaveMang SuharPejuangYang Terlunta.

Di mata para warga kehidupan tua Mang Suhar sungguh memprihatinkan bahkan sangat menggenaskan. Usai ditinggalkan istrinya yang wafat, tokoh pejuang itu tinggal sendirian di gubug dekat hutan yang tanahnya merupakan tanah pinjaman Desa.

Tak ada aliran listrik. Tak ada tanda-tanda yang memfaktakan beliau seorang tokoh pejuang. Tak ada sama sekali. Kalau pun ada pengakuan dari Pemerintah berupa undangan dari Kecamatan saat peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus dan Hari Pahlawan.

Usai itu Mang Suhar kembali menatap hidupnya dengan sisa-sisa kekuatannya sebagai orang tua dalam menatap kehidupan di negeri merdeka yang dulu mareka perjuangkan dengan gagah berani penuh keiklasan jiwa dimana nyawa sebagai taruhannya.

Tak ada tanda-tanda sedih di hati Mang Suhar atas perlakuan tak istimewa dari negeri ini yang dulu diperjuangkannya dengan keiklasan hati. Tak ada sama sekali. Sikap kejuangan hidupnya selalu diperlihatkannya dengan ketegaran hati dengan bekerja keras tanpa harus mengharap uluran tangan dari Pemerintah dan mantan anak buahnya yang kini sudah banyak yang duduk di pemerintahan sebagai petinggi negara.

“Kami dulu berjuang dengan ikhlas. Tekad kami hanya satu. Negara ini harus merdeka,” cerita Mang Suhar bersama para warga di masjid.

“Walaupun tak ada dukungan dari pemerintah terhadap Bapak sebagai mantan pejuang,” tanya para jemaah masjid.

“Justru kami bangga karena sekarang pemerintah kita tidak terjajah lagi dan sudah merdeka dari jajahan bangsa asing. Dan itu nilai kejuangan yang kami perjuangkan dulu,” jawab Mang Suhar.

“Mestinya pemerintah memperhatikan warga bangsa seperti Mamang. Jangan habis manis sepah dibuang,” sela warga yang lain.

Mang Suhar hanya terdiam. Tak ada jawaban dari mulut tuanya. tatapan mamatnya justru menatap ke arah langit-langit masjid yang.

Berita kematian Mang Suhar akhirnya sampai di telinga Presiden. Istana merespon berita kematian tokoh pejuang itu dengan menyampaikan berita duka lewat media. Bahkan rencananya Presiden akan hadir di pemakaman Mang Suhar sebagai bentuk kepedulian dari Pemerintah terhadap para pejuang sebagaimana yang disampaikan juru bicara kepresidenan.

“Ngapain Presiden ke Kampung Kita. Tak ada gunanya. Toh Mang Suhar sudah wafat,” ujar seorang warga saat mendengar berita tentang rencana kedatangan Presiden.

“Iya. Harusnya beliau datang saat Mang Suhar masih sehat,” sela yang lain.

“Ah.. paling pencitraan. Maklum Pilpres sudah dekat,” sambung yang lain.

“Kita harusnya bahagia dengan kabar berita kedatangan Presiden ke Kampung kita. Tak semua Kampung lho bisa dikunjungi Presiden,” jawab warga yang lain.

“Saya tidak setuju. Tidak setuju. Bagaimana kalau Presiden datang kita demo,” seru warga yang lainnya seraya disambut dengan koor setuju dari warga yang lainnya.

Presiden tiba di Kampung Merdeka saat jenazah Mang Suhar masih di masjid untuk disholatkan. Para petinggi daerah dan negara yang lainnya sudah tiba di Kampung Merdeka saat pagi hari. Presiden kaget saat keluar dari mobilnya, ratusan warga langsung berdemo dan membentangkan spanduk yang menolak kedatangan Presiden di pemakaman Mang Suhar.

“Kalau mau datang harusnya waktu Mang Suhar masih sehat. Bukannya sekarang saat beliau sudah wafat. Kami tidak rela tokoh pejuang kami dijadikan bahan pencitraan Bapak,”teriak korlap warga dengan nada tinggi.

Presiden kaget. Tidak menyangka kedatangannya akan disambut dengan demo. Apalagi data intelejen menyampaikan kondisi sosial politik Kampung Merdeka aman dan terkendali. Presiden berusaha mendekati kumpulan warga. Tapi warga menolak dan terus mendesak Presiden agar tak datang ke pemakaman Mang Suhar.

“Kalau Bapak tetap ngotot hadir di pemakaman Mang Suhar, maka kami akan melawan dan melawan hingga nyawa kami jadi taruhannya,” teriak korlap warga dengan suara tinggi dengan dibarengi wajah beringas menunjukan ketidaksukaannya.

“Betul. Kami akan terus melawan bila Bapak tidak membatalkan rencana Bapak hadir dipemakaman orang tua Kampung kami ini,” sambung warga yang lain. Sementara terik matahari terus menghujani ubun-ubun para pendemo yang tak sabar minta segera Presiden meninggalkan Kampung Merdeka.

Setelah mendapat bisikan dari staffnya, Presiden akhirnya meninggalkan lokasi Kampung Merdeka.Dan para warga bersorak tanda kemenangan. Sementara pemakaman Mang Suhar sudah selesai. Sebuah nisan tertulis tanpa tanda penghargaan dari Pemerintah yang kini menikmati produk perjuangan mareka.

Kesunyian mulai menghampiri tempat pemakaman umum itu. Para pelayat mulai meninggalkan areal pemakaman dengan segenap cerita mareka tentang Mang Suhar. Tak terkecuali pemberitaan media yang memberitakan tentang penolakan warga terhadap kedatangan Presiden di Kampung Merdeka, tempat tokoh pejuang nasional dilahirkan dan berjuang dengan gagah berani yang matinya dengan menggenaskan di hari Kemerdekaan bangsanya yang dulu diperjuangkan dengan ikhlas dan tanpa pamrih.(**)

Karya : Rusmin Toboali
Pengirim : Rusmin Toboali

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts