Cerpen: Merah Putih Setengah Hati

Sabtu, 14 Agustus 2021
Ilustrasi.

LANGIT cerah. Awan ceria berarak di langit yang membiru. Hari ini adalah Hari Kemerdekaan 17 Agustus. Semua penghuni rumah mengibarkan Sang Saka Merah Putih yang berkibar melambangkan rasa keberanian dan kesucian.

Sebuah perpaduan rasa yang amat harmoni. Lelaki tua itu menatap kibaran Sang Saka Merah Putih yang telah dipasangnya usai dirinya pulang shalat subuh dari mushola dekat rumahnya.

Read More

Sudah puluhan tahun dirinya selalu mengibarkan bendera Merah Putih selepas dirinya shalat subuh. Ada rasa kebahagiaan yang tak terperikan dalam jiwanya saat bendera itu berkibar.

Ada rasa patriotisme yang tak dapat ditukarkannya dengan materi saat bendera itu berkibar di halaman rumahnya.

Kini lelaki tua yang sering dipanggil para warga sekitar dengan sebutan Pak Veteran itu sudah menikmati produk kerja patriotisme mereka puluhan tahun yang lalu saat dirinya bersama seluruh warga bangsa mengusir penjajah dari tanah air.

Kini lelaki tua itu sangat bahagia dengan kerja keras mereka dulu yang dengan semangat 45 dan bambu runcing mampu mengalahkan penjajah yang menginjak-menginjak martabat bangsa ini.

“Kerja keras iklhas kami kini terhargai oleh kerja nyata para generasi penerus. Bangsa ini sudah sangat maju sekali,” gumannya dengan suara berdesis di sela-sela berdesisnya angin yang bertiup sepoi di pagi yang cerah itu.

Namun dalam seminggu ini, Pak Veteran mulai gelisah. Kedatangan beberapa orang yang katanya perwakilan dari kota mengusik nurani dan jiwa nasionalismenya.

Patriotismenya seolah tergadaikan. Padahal baginya nasionalisme tak dapat diukur dengan uang dan materi. Patriotisme adalah naluri yang lahir dari jiwa raganya sebagai anak bangsa untuk memartabatkan bangsa ini.

“Pimpinan kami ingin menganugerahi bapak dengan tanda jasa karena Bapak adalah saksi hidup yang masih sehat,” ujar salah seorang perwakilan dari kota kepadanya.

“Sangat tepat sekali Pak Veteran. Penghargaan ini sangat layak Bapak dapatkan sesuai dengan jasa-jasa Bapak tempo dulu. Ini sebagai bentuk apresiasi yang luar biasa dari pimpinan untuk Bapak,” sela yang lainnya dengan mimik wajah tersenyum.

“Perlu kalian semua cam-kan ya sebagai generasi penerus bahwa saya dan rekan-rekan berjuang ikhlas. Kami berjuang untuk kemerdekaan bangsa dan bukan untuk mendapatkan hadiah atau tanda jasa. Bagi kami bangsa ini merdeka adalah penghargaan yang tak ternilai harganya yang tak dapat kami tukar dengan materi atau uang,” jawab Pak Veteran.

Para tamunya dari kota terdiam. Mereka seolah-olah dapat sebuah skak maut dari Pak Veteran. Mereka hanya terdiam membisu. Tak ada lagi kata yang patut dinarasikan sebagai jawaban. Mereka kikuk sekali.

“Jangan Bapak-Bapak menilai perjuangan kami dengan materi atau tanda jasa. Mohon Bapak-Bapak mengerti,” lanjut Pak Veteran yang kembali menohok jiwa para tamunya.

Lantas mareka pun langsung berpamitan pulang dengan hati yang kecewa, gagal mengemban misi pimpinannya.

Usai tamunya pulang, sejuta kegelisahan melanda jiwa Pak Veteran. Istrinya yang tergolek lemah di kasur yang sudah menipis setipis uang yang ada kantongnya sungguh membuatnya gelisah.

Ada rasa bersalah terhadap istrinya yang setia mendampinginya hingga usia kemerdekaan bangsa ini sudah seratusan tahun.

Ada rasa malu yang mengelayuti nuraninya melihat ketabahan sang istri yang sangat setia mendampinginya di tengah kemelaratan hidupnya.

Saat masih berjuang dulu, dia meninggalkan istrinya berbulan-bulan tanpa sangu. Hidupnya hanya dihabiskan di medan pertempuran hingga 17 Agustus tiba.

Dan usai kemerdekaan dirinya lantas mengabdi di sebuah perusahaan sebagai pegawai dengan gaji yang tak layak untuk makan sebulan.

Tapi istrinya masih tetap setia menemaninya hingga kini tergolek di kasur tipis yang sudah berumur puluhan tahun tanpa tergantikan. Pak Veteran sangat malu dengan istrinya.

Siang itu Pak Lurah datang ke rumahnya bersama dengan rombongan petinggi dari Kota yang kembali mendatanginya. Kedatangan Pak Lurah ke rumahnya saat istrinya sudah dalam kondisi kritis.

“Pak veteran. Kami datang untuk menjenguk Bapak dan Ibu. Apalagi kami dengar kondisi Ibu dalam keadaan sakit,” kata Pak Lurah mengawali narasinya.

“Terima kasih Pak Lurah atas perhatiannya. Memang istri saya sakit,” ujar Pak Veteran dengan nada lirih.

“Dan ini Bapak-bapak dari kota yang diperintahkan pimpinannya untuk mengurus istri bapak yang sakit. Mohon kedatangan mareka diterima dengan baik. Mareka berniat sangat tulus. Ingin menolong Bapak. Dan bukan mengkonversikan perjuangan Bapak dengan materi atau penghargaan. Mareka datang dengan tulus. Mareka membantu bapak dengan setulus hati,” ungkap Pak Lurah.

Pak Veteran terdiam. Air matanya mengalir dari pelupuk matanya yang tajam. Ada rasa ssal dalam jiwanya yang tak mampu membalas kebaikan dan kesetian istrinya selama ini.

Sudah tiga hari tiga malam istri Pak Veteran diopname di sebuah rumah sakit terkenal di kota. Dan sudah tiga malam pula dirinya tinggal di sebuah hotel mewah dekat rumah sakit itu.

Bantuan yang diberikan petinggi negara membuatnya kini bisa bernafas lega walaupun hatinya masih mengganjal, bahkan sangat mengganjal jiwanya.

Dan Pak Veteran sungguh kaget karena pada suatu malam saat menemani istrinya di ruang rumah sakit terkenal itu, seseorang datang menjenguk istrinya. Seseorang yang amat terkenal dan dihormati di negara ini.

“Pak Veteran. Masih kenalkan dengan saya,” ujar lelaki setengah baya sambil menyalami Pak Veteran.

Pak Veteran terkejut. Jantungnya hampir copot. Dia tak menyangka kalau yang datang mengunjunginya adalah anak buahnya yang kini telah menjadi Presiden.

“Siap, Pak Presiden,” Jawab Pak Veteran dengan sikap berdiri tegak.

“Saya adalah tetap anak buah Pak Veteran. Lewat bantuan Pak Veteran saya bisa jadi Presiden. Kalau dulu saya tak mengikuti nasehat Pak Veteran mungkin arah hidup saya tak seperti ini. Tak bisa jadi Presiden. Jadi saya mengucapkan terima kasih atas semuanya. Saya sangat berhutang budi kepada Pak Veteran,” ujar Pak Presiden.

“Dan soal segala bentuk biaya di rumah sakit tak perlu Bapak pikirkan. Saya yang bertanggung jawab. Dan saya juga akan memberikan Bapak sebuah rumah yang layak untuk ditinggali. Termasuk jaminan hidup buat Bapak dan istri. Ini tanggung jawab saya sebagai anak buah dan Presiden. Masa sih komandan Presiden hidupnya susah? Kan malu saya sebagai bekas anak buah yang kini jadi Presiden,” ujar Pak Presiden sembari berseloroh yang diringi tawa Pak Veteran dan beberapa tamu yang hadir di kamar istrinya sehingga suasana menjadi penuh dengan canda dan tawa yang membahana yang menggetarkan kamar.

Malam makin menua setua usia Pak Veteran. Cahaya rembulan makin bening sebening hati Pak Veteran.

Sementara di langit-langit kamar rumah sakit sepasang cecak saling berpagutan dan memberi kasih sayang.

Sebagaimana kasih sayang Pak Veteran kepada istrinya yang sudah mulai menua seiring zaman yang makin menua.

Di kejauhan malam terdengar suara lagu Rayuan Pulau Kelapa yang sedang dinyanyikan para siswa-siswi dengan nada suara sarat patriotisme yang tinggi terhadap negara ini. (**)

 

Tanah airku Indonesia

Negeri elok amat kucinta

Tanah tumpah darahku yang mulia

Yang kupuja sepanjang masa

 

Tanah airku aman dan makmur

Pulau kelapa yang amat subur

Pulau melati pujaan bangsa

Sejak dulu kala

 

Melambai lambai

Nyiur di pantai

Berbisik bisik

Raja Kelana

Memuja pulau

Nan indah permai

Tanah Airku

Indonesia

 Pengirim: Rusmin Toboali

Rusmin Toboali

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts