Cerpen : Lelaki di Ujung Senja

Ilustrasi (FOTO:Pinterest/Olah Grafis: pakdezaki)

Karya : rusmin toboali

Di luar gelap. Cahaya rembulan temaram. Seolah enggan bersinar. Lelaki itu terbaring. Sendirian. Matanya belum mengantuk sama sekali. Bangkit tapi bingung apa yang akan dikerjakan. Suara telepon tak ada. Bahkan pesan pendek pun tak terdengar.

Read More

Lelaki itu menuju jendela. Memandang keluar rumah. Cahaya tetap gelap. Entah kenapa malam ini cahaya rembulan enggan bersinar. Kerlap kerlip kunang-kunang pun tak tampak kilatan cahayanya. Lelaki itu melenguh.

“Inilah resiko birokrat tak berjabatan. Terbuang dalam keramaian,” desisnya sambil menutup tirai jendela.

Usai tak memegang jabatan lagi di kantor kementrian, lelaki yang biasa dipanggil Markudut pindah ke kampung. Sementara istri dan anaknya masih di kota. Kembali ke kampung bukan berarti dirinya bisa beradaptasi dengan warga. Sama sekali tak gampang. Kuping harus kuat menerima segala macam pertanyaan dari warga yang terkadang amat kritis bak wartawan yang mewancarainya saat masih bertugas.

“Kok mau-maunya pindah ke kampung Pak?,” tanya seorang warga saat dirinya sedang sarapan pagi di sebuah warung kopi di ujung desa.

“Mau memasuki pensiun di sini ya, Pak?,” sambung yang lain.

“Apakah tak mampu bersaing di kota Pak?,” celetuk yang lain.

“Atau jangan-jangan bapak menghindar dari kejaran KPK ya, Pak?,” tanya yang lain.

Markudut hanya tersenyum. Senyumnya terasa sangat beda. Sebeda kopi yang dinikmatinya terasa pahit, walaupun pemilik warung telah berkali-kali mengingatnya apakah kopinya kurang gula.

Markudut kini baru merasakan bahkan sangat merasakan bagaimana perlakuan dari bawahan maupun atasannya terhadap dirinya. Dan dirinya baru merasakan bagaimana rasa seorang birokrat tanpa jabatan.

Tak terhargai sama sekali. Tak ada lagi yang menghubunginya. Tak ada lagi yang menelponnya. Dan  tentu saja, tak ada lagi rasa penghormatan dari sekitar. Tak terkecuali dari para warga kampung tempatnya dilahirkan. Malah mareka berasumsi yang bukan-bukan terhadap dirinya.

Dulu dia beranggapan jabatan tidaklah perlu dikejar. Jabatan akan datang seiring dengan prestasinya sebagai seorang birokrat. Tak heran ketika  mantan atasannya sempat berpesan bahwa suatu saat dirinya juga akan mendapat perlakuan  yang sama seperti dirinya.

“Ketika amanah sebagai pimpinan di kantor  ini selesai, maka Pak Markudut juga akan menerima hal yang sama seperti saya terima hari ini. Tak ada lagi yang memperhatikan. Tak ada yang peduli,” ujar atasannya.

Markudut hanya diam seribu bahasa. Tak membantah atau menjawab. Hanya desis angin AC yang mendesis sekaligus mengakhiri pembicaraan mareka.

Markudut juga masih ingat bahkan masih terngiang dalam ingatan otaknya yang cerdas, pesan dari mantan pimpinannya bahwa ketika amanah yang diberikan pimpinan tak lagi dipegangnya, maka segala hubungan dengan kantor berakhir.

“Kecuali kita berbuat baik kepada semua bawahan dengan memperlakukan mareka sebagai manusia dan bukan sebagai bawahan,” pesan mantan atasannya.

Markudut kini baru merasakan. Bahkan baru menikmati pesan atasannyanya ketika amanah sebagai pimpinan di kantor telah diserahkannya kepada birokrat yang lain. Lelaki itu baru teringat kepada petuah mantan pimpinannya.

Markudut juga baru tahu bahwa tak ada perlakuan istimewa dari bawahannya ketika dia meninggalkan kantor karena selama menjadi pimpinan kantor, Markudut lebih banyak memperlakukan mareka sebagai bawahan. Ocehan tiap hari dikeluarkannya untuk bawahan yang melakukan kesalahan kcil bahkan sepele. Umpatan kasar selalu dinarasikannya kepada bawahannya ketika bawahannya melakukan kesalahan yang berulang.

Narasi ‘Bodoh!’, ‘Goblok!’ dan seartinya dengan frasa itu adalah makanan sehari-hari yang diterima bawahannya. Seolah-olah tiada hari tanpa narasi frasa yang tak sedap didengar oleh kuping bawahannya.

“Bagaimana saya mempertanggungjawabkan pekerjaan ini kepada atasan kalau kalian semua bodoh ?,” umpat Markudut kepada seorang bawahannya.

“Apa yang harus saya laporkan kepada pimpinan kalau semua bawahan saya goblok dalam bekerja,” sambung Markudut dengan narasi keras yang membuat muka bawahan merah padam bak dibakar sinar mentari yang menyengat.

Tiba-tiba Markudut teringat dengan istri dan anak-anaknya. Sampai di situ lelaki itu tak kuat lagi. Kepalanya terasa sakit bahkan terasa sangat sakit sekali. Terhuyung-huyung dia kembali ke tepian tempat tidurnya untuk sekedar melepaskan beban yang ada di otaknya dengan memejamkan matanya. Mengurut keningnya yang seakan mau meletus bak gunung.

Markudut limbung. Nafasnya ditarik kuat-kuat untuk sekedar meredakan ketengan yang ada dalam otaknya yang cerdas. Meredam hantaman badai yang datang dengan ganas yang ada dalam tengkoraknya.

Markudut terbaring. Rebah dalam pembaringan. Masih dengan mata yang terpejam erat. Dan masih sendirian. Di luar masih tetap gelap. Bahkan makin gelap. Cahaya rembulan enggan bercahaya. Tak terkecuali kunang-kunang yang biasanya selalu menari-nari. Tak terlihat kilatan cahayanya yang berwarna-warni. Mareka telah pergi. Dan lelaki itu masih tetap sendiri di pembaringan dengan mata yang terpejam tanpa mimpi.

Toboali, Oktober 2021

Yuk bagikan berita ini...

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.