Cerpen: Izrail

Ilustrasi malaikat

Usai purna tugas sebagai abdi negara, perubahan terjadi pada sosok Matliluk. Lelaki setengah baya itu kini banyak menghabiskan sisa umurnya dengan berjudi. Lelaki setengah baya itu tak pernah lagi menampakan batang hidung untuk shalat berjemaah di masjid. Demikian juga saat ada kegiatan warga, Matliluk jarang terlihat.

Padahal saat masih aktif sebagai birokrat, lelaki setengah baya itu amat aktif dan tak pernah terlibat dalam kegiatan berbau maksiat. Apalagi judi. Dan lelaki itu selalu menasehati kalau ada warga Kampung yang berjudi.

Bacaan Lainnya

“Tidak ada orang menjadi kaya karena judi,” nasehatnya.

Sebagai seorang suami, Matliluk juga dikenal sebagai suami yang rajin membantu istinya. Jangan heran kalau suatu hari anda ke rumahnya, Matliluk terlihat membantu istrinya di dapur. Dia mencuci piring. Bahkan tak jarang dia menjemur pakaian yang sudah dicuci istrinya.

Demikian pula aktivitas sebagai warga kampung, Pak Matliluk dikenal sebagai warga yang amat aktif dalam kegiatan gotong royong di kampung.

Bahkan lelaki setengah baya itu tak segan ikut membantu warga yang menggelar hajatan. Dari mulai sebagai penerima tamu hingga mengatur soal tata letak kursi.

“Sebagai warga Kampung, saya berkewajiban untuk menjalin silahturahmi antar sesama warga,” ujarnya.

Kini, ketika matahari mulai mendongakkan kepalanya, Pak Matliluk pun berkemas-kemas meninggalkan rumahnya menuju sebuah rumah di ujung Kampung yang menjadi tempat dirinya berjudi.

Dan lelaki setengah baya itu baru pulang ke rumah, ketika matahari mulai membenamkan dirinya dalam pelukan hangat langit.

Sebagai istri, tentu saja Mbak Iyem menjadi bingung dengan perilaku suaminya. Sudah beberapa kali, sebagai istri dia mengingat suaminya. Bukannya mendengar kata istrinya, Matliluk malah jengkel mendengar omongan istrinya.

“Rupanya kamu sebagai istri mulai berani dengan aku, suamimu,” kata Matliluk dengan suara garang. Segarang wajahnya mendengar celoteh istrinya.

“Aku mengingatkanmu Pak. Dan itu tugas aku sebagai istrimu,” jawab istrinya.

Dan brukkk. Tiba-tiba tangannya menghantam meja makan. Seketika wajah Mbak Iyem, istrinya laksana kain kafan.

“Aku suamimu. Aku imam di rumah ini. Aku pemimpin di rumah ini. Istri mengikuti apa kata suami,” jelas Matliluk.

“Sebagai istri, aku wajib mengingatkan suamiku. Usia Bapak tak muda lagi. Apa Bapak sudah siap tiba-tiba Izrail akan memanggilmu,” tanya istrinya.

Dan seketika Matliluk terdiam. Ada kengerian yang mengalir dalam sekujur tubuhnya saat istrinya mengucapkan nama Izrail. Bukankah Izrail itu malaikat pencabut nyawa?

Usai para jemaah masjid pulang dari sholat Isya berjemaah, Matliluk meninggalkan rumahnya. Tujuannya ke rumah Pak Ustad.

Kedatangan Matliluk ke rumahnya disambut Pak Ustad dengan wajah sumringah. Raut wajahnya berbalut senyuman. Dan Pak Ustad langsung menyapa Matliluk.

“Apa kabar Pak Matliluk? Angin apa yang membawamu ke sini? Mari masuk,” ajak Pak Ustad dengan suara penuh keramahan.

Matliluk duduk. Menyadarkan tubuhnya ke kursi. Istri Pak Ustad datang dengan membawa dua gelas kopi.

“Silahkan diminum kopinya, Pak Matliluk. Nanti keburu dingin,” kata Pak Ustad.

“Anu Pak Ustad. Istri saya selalu menyebut-nyebut nama Izrail,” ujar Matliluk.

“Ada apa dengan Izrail?,” tanya Pak Ustad.

“Apakah benar, Izrail bisa mencabut nyawa manusia tanpa ada pemberiahuan terlebih dahulu kepada kita?,” tanya Matliluk.

Mendengar narasi Matliluk, Pak Ustad langsung tertawa. Senyumnya mengembang sembari menatap Matliluk.

“Kok Pak Ustad ketawa?,” tanya Matliluk.

“Pak Matliluk. Izrail itu mencabut nyawa kita sebagai manusia tanpa pemberitahuan. Dia datang secara tiba-tiba. Bisa saat kita sedang shalat. Bisa saat kita sedang maksiat. Kapan saja. Tak seorang pun manusia yang bernyawa tahu, kapan Izrail datang untuk mencabut nyawa kita,” jelas Pak Ustad.

“Jadi kita sebagai manusia tak tahu kapan dia datang untuk mencabut nyawa kita?,” desak Matliluk.

Pak Ustad menggelengkan kepalanya.

“Tak seorang manusia pun tahu, kapan dia datang. Itu rahasia Allah, Sang Maha Pencipta,” ujar Pak Ustad.

Matliluk terdiam mendengar ujaran Pak Ustad.

Suara azan subuh sudah terdengar sangat merdu dari pengeras suara masjid. Menggetarkan alam.

Merelegiuskan jaga raya. Menembus gendang telinga Matliluk. Lelaki itu terbangun. Langsung menuju kamar mandi dan mengambil wudhu. Dan bergegas ke masjid. Langkah kakinya tergesa-gesa.

Melihat kedatangan Matliluk, para jemaah masjid terkejut. Sudah lama sekali Matliluk tak pernah shalat berjemaah berjemaah di masjid. Senyum pun ditebarkan para jemaah masjid kepada Matliluk.

“Assalamualaikum,” sapa Matliluk saat memasuki masjid.

“Waallaikumsalam,” jawab para jemaah serentak.

“Ayo kita sholat,” ajak Pak Imam Masjid kepada para jemaah.

Airmata Matliluk menetes di sajadah masjid, saat bersujud. Sejuta doa dipanjatkannya kehadirat Allah SWT, Sang Maha Pencipta sembari mengangkat tangannya. lelaki setengah baya itu memohon ampunan kepada Allah SWT, Sang Maha Pengampun.

Cahaya matahari dari ufuk timur mulai terlihat terang. Wujud terangnya muncul secara perlahan. Sinar terangnya menyinari langkah kaki Matliluk meninggalkan masjid menuju rumahnya dengan hati yang terang.

Ya, bersama cahaya matahari yang mulai menerangi bumi, Matliluk melangkahkan kaki menuju rumahnya dengan jiwa yang terang. Sementara senyum menawan istrinya menyambut kehadirannya di halaman rumahnya.

Rusmin Toboali

Pengirim : Rusmin Toboali

Yuk bagikan berita ini...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.