“Iya Bian. Bian berhak untuk sekolah dan meneruskan cita –cita Bian. Tapi Bian harus berjanji pada kakak untuk selalu bersungguh –sungguh dalam belajar,” kata kak faza seraya tersenyum.
“Terima kasih kak Faza. Apa perlu kak, Bian bekerja dipabrik pak Ali untuk balas budi Bian?” Tanya Bian.
“Tentu tidak Bian. Kakak tidak perlu balas budi Bian karena kakak ikhlas melakukannya. Tetapi kalau Bian mau, Bian boleh kok membantu membungkus produknya,” jawab kak Faza
“Ia kak, Bian pasti mau,” tukas Bian
“Baiklah, besok dating ya kerumah Kak Faza. Kita daftarkan nama Bian di SMAN 1 Tanjung Labu,” kata Kak Faza
Bian tersenyum dan secara spontan ia memeluk tubuh Kak Faza.
“Oke, sekarang Bian pulang dan minta restu kepada Emak dan Abah, ya,” ucap Kak Faza
Bian pun segera pulang kerumah dengan perasaan senang. Ia pun menceritakan kebaikan Kak Faza kepada Emak dan Abah.
Emak dan Abah juga senang karena kedua anaknya melanjutkan sekolah walaupun kondisi ekonomi mereka tidak mendukung. Yang diharapkan mereka hanyalah kebahagiaan kedua anaknya.
Esoknya, Bian dan Kak Faza pergi mendaftar sekolah. Setelah itu mereka membeli seluruh perlengkapan sekolah Bian dari mulai seragam, sepatu, buku, tas dan lain –lain. Bian sangat senang karena keinginannya untuk sekolah dapat tercapai. Ia berjanji kepada Kak Faza untuk selalu bersungguh-sungguh.
Takdir dan ketetapan Allah memang telah diatur untuk hamba–hamba-Nya. Kesabaran dan keikhlasan merupakan kunci utama untuk mengharap Ridho-Nya. Inilah, Bian. Kesabarannya membawa ia menuju kebahagiaan. (**)
Penulis: Zalfa Zahrani Adiba
Santri Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah Indralaya, Kabupaten Ogan Ilir, Provinsi Sumatera Selatan.
(Naskah Cerita Pendek pernah diikutkan dalam Lomba Menulis Cerpen yang diselenggarakan oleh Al-Ittifaqiah Press 2020)











