“Jadi begini, anak –anakku sekalian,“Abah memulai pembicaraan.
“Kondisi ekonomi keluarga kita yang rendah ini tidak akan cukup untuk membiayai seluruh keperluan kalian terutama dalam hal pendidikan. Beberapa bulan ini tangkapan ikan emak dan Abah menurun drastis, air laut pasang, gelombang tinggi, bahkan angina kencang. Untuk itu, dikarenakan kamu sudah duduk dikelas akhir, hanya salah satu dari kalianlah yang akan emak dan abah sekolahkan, “ ucap Abah.
“ Maksud Abah?” Bian kebingungan dengan pernyataan abah.
“Abah tidak sanggup jika harus menyekolahkan kamu berdua sekaligus. Jadi Emak dan Abah memutuskan untuk memilih salah satu diantara kalian yang layak melanjutkan kejenjang menengah atas. Dan kalian berdua harus bersaing saat Ujian Nasional nanti. Nilai yang paling besar diantara kalian berdualah yang akan disekolahkan, “ucap Abah.
“Jika hanya satu yang terpilih, bagaimana nasib yang satunya lagi bah? “ tanya Rusmin.
“Mungkin dia akan membantu emak dan abah bekerja,” jawab Emak.
Bian terdiam. Bagaimana jika ia yang tidak terpilih? Bagaimana jika ia yang tidak disekolahkan? Pertanyaan itu seolah-olah menghantui pikiran Bian.
“Baiklah kalau begitu. Semuanya ada ditangan kalian, berusalah jika masih ingin sekolah. Jangan berleha-leha, “ ujar Abah
“sekarang, masuklah kekamar dan belajar. Sebentar lagi kalian akan melaksanakan UN,“ kata Emak
Rusmi dan Bian bergegas menuju kamar mereka. Bian semakin tidak percaya diri. Apalagi jika dibandingkan Rusmi yang selalu mendapat peringkat 1 dikelasnya. Bian hanya bisa memasrahkan semua kepada Allah.
“Kak, kamu yakin bakalan terpilih? “ tanya Rusmin.
“Aku tidak yakin. Tapi jikalau Allah berkehendak, apapun yang mustahil pasti akan terjadi.” Ucap Bian tersenyum
“Insya Allah aku akan membuktikannya. Walaupun menurutmu mustahil, aku akan terus berusaha,” Bian menguatkan dirinya.
“Kita liat saja nanti,” Rusmin tersenyum puas.
Bian sedang dihantui persaan tidak enak sekarang. Bagaimana jika yang dikatakan Rusmin itu benar? Bian sangat takut. Ia masih ingin sekolah, ia memiliki cita-cita yang harus dicapainya. Ia tak ingin putus sekolah, ia ingin membanggakan Emak dan Abah dengan kesuksesannya.
“Seminggu lagi UN, aku harus belajar dengan giat, harus! “ gumam Bian.
Hari demi hari berlalu, tak terasa hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Rusmi dan Bian akan menjalani ujian nasional. Hari inilah penentu nasib antara mereka. Bian berharap banyak atas usaha belajarnya selama ini. Walaupun tidak maksimal, setidaknya Bian memiliki bekal untuk menjalani ujian.
“Selamat ujian ya kak, “Rusmin tersenyum penuh kemenangan. Bian melihat seperti ada ejekan disenyumnya. Bian tak menghiraukan, ia tetap focus pada buku bahasa indonesianya. Jam menunjukkan pukul 10:15, saatnya peserta UN sesi 2 untuk masuk keruangan. Bian meyakinkan dirinya ia bisa untuk melaksanakan ujian ini.
“Aku harus bisa, aku tidak ingin putus sekolah,” tekad Bian.
Bian mengerjakan soal-soal dengan penuh khidmat. Ia membaca soal dengan sangat teliti tanpa terlewatkan sedikitpun. Lantunan istighfar selalu keluar dari bibirnya setiap mengerjakan soal yang sulit. Bian benar-benar antusias saat ini.
Tak terasa, keempat mata pelajaran UN telah tuntas dilewati Rusmi dan Bian. Mereka tak menyangka secepat itu waktu berlalu. Sekarang, mereka hanya tinggal menunggu hasilnya. Bian menjadi rahasia Allah segalanya, entak itu Bian ataupun Rusmi yang akan melanjutkan sekolahnya.
“Aku sudah tak sabar lagi menunggu hasilnya, kata Rusmin.
“Sabar Rusmi, tidak perlu terburu-buru,” tukas Bian lembut.
“Kakak pasti takut terkalahkan olehku, “ ucap Rusmin.
“Tidak perlu takut padamu Rusmin, tidak ada untungnya,“ sahut Bian
“Haha, siap –siap kecewa ya kak,” kata Rusmin.
BIan mengepalkan tangannya, ia sangat keki mendengar ucapan Rusmi, ingin rasanya ia melabrak dan menampar Rusmi. Berulang kali ia beristighfar sampai akhirnya Emak menyuruhnya untuk pergi keruang tamu.
“Bian, Rusmin. Emak dan Abah mendapat kabar dari Wali kelas kalian tentang hasil ujian kemarin, “ ucap Emak
Bian menelan ludah, ia merasa tak sanggup untuk mendengar hasil ujiannya. Dengan berani Bian bertanya kepada Emak
“Bagaimana Mak? Rusmi atau Bian yang layak melanjutkan sekolah?“ tanya Bian
“Dengan bangga emak ucapkan kepada Rusmi karena berhasil meraih nilai UN tertinggi di sekolah,” jawab Emak seraya memeluk dan mencium kening Rusmi.
Bian shock bukan main, usahanya selama ini sia –sia. Jantungnya berdegup kencang, keringatnya mengucur deras. Tak terasa, air mata jatuh dipelupuk matanya.
“Ja- jadi M- mak, Bian a –kan be- berhenti sekolah?” ucap Bian dengan bibirnya yang gemetar.
“Tentu Bian, cukup Rusmi saja yang melanjutkan cita –citanya. Kamu harus bisa mengerti kondisi Emak dan Abah sekarang,” ujar Emak.
“Tidak Mak, Bian ingin sekolah Mak. Emak jahat!” ucap Bian. Seraya berlari keluar rumah. Ia menangis sejadi –jadinya. Pasir pantai pun berterbangan diudara akibat lemparan Bian. Ia sangat kecewa dan mengutuk dirinya sendiri. Sangat tak terbayangkan betapa pilunya hati Bian saat melihat Rusmi mengenakan seragam abu–abu sedangkan dirinya hanya berpakian lusuh. Keinginan Bian hanya satu, ia hanya ingin mencapai cita –citanya. Bian berteriak sekencang –kencangnya disaksikan oleh keindahan pantai. Ingin rasanya Bian mengasingkan diri dari dunia ini, menjauh dari kehidupan Emak, Abah dan Rusmi. Pikirannya sangat kacau sekarang, air matanya terus mengucur tanpa henti.
“Dik?” panggil seseorang dari belakangnya
Bian menoleh seraya menghapus air matanya, seorang perempuan cantik yang mengenakan jilbab berjalan menghampiri dan duduk disebelahnya.
“Kamu kenapa? Dari tadi kakak melihat kamu menangis. Apa yang terjadi?” Tanya perempuan itu lembut.
Bian menggeleng, ia tidak akan membocorkan masalah pribadinya pada orang yang tidak dikenal.
“Hmm, oke. Perkenalkan nama kakak Fatimah Az-Zahra, cukup panggil kak Faza. Rumah kakak digang sawo dek, kakak anak-nya Pak Ali yang punya pabrik ikan asin,”ucapnya. “Kamu bolehkok cerita tentang masalahmu sekarang kepada kakak. Insya Allah akan kakak kasih solusi,” lanjutnya lagi.
Bian akhirnya tersenyum. Kemudian ia segera menceritakan masalahnya kepada Kak Faza. Kak Faza mendengarkan cerita Bian dengan seksama. Sesekali ia mengangguk mendengarkannya.
“Keinginan Bian hanya satu Kak. Bian hanya ingin sekolah dan meneruskan cita –cita Bian,” Bian kembali menitikkan air mata.
“Oh jadi itu masalahnya. Bian, kakak salut dengan keinginan Bian itu. Disaat niat Bian ingin sekolah, tetapi ada hambatan seperti ini. Kakak tidak ingin cita –cita yang sudah Bian susun kandas begitu saja. Untuk itu, apakah boleh jika kakak ingin menyekolahkan Bian?” ucap kak Faza.
Bian terkejut bukan main “yang bener kak?” Bian masih tidak percaya.











