Cerpen: BIAN

Kamis, 5 November 2020
Ilustrasi

Kemudian Bian menyusul langkahnya menuju dapur. Dilihatnya di meja makan Rusmin sedang sarapan. Secepat kilat Rusmi menghabiskan sarapannya tanpa sisa.

“Rusmin pakiannya sudah bisa dijemur sekarang, takutnya tidak kering jika ditunda, “ ucap Bian seraya membereskan piring.

Read More

“Eh kak! Aku ini enggak pikun. Udah merintah, jangan banyak omong. Aku lagi pusing nih, “ entak rusmi dengan wajah yang ditekuk. Rusmin bergegas mengambil ember berisi pakian bersih dan menjemurnya secara sembarangan. Bian menggelengkan kepalanya, ia sudah terbiasa dengan perlakuan rusmi yang semena-mena kepadanya. Mau tidak mau, sikap dewasanya sebagai seorang kakak harus selau ia terapkan.

“Kak, pakiannya sudah aku jemur. Aku mau ke rumah Dinar dulu, “ ucap Rusmin

“Rusmi, bantu kakak menjemur ikan asin dulu. Kakak tidak sanggup jika menjemur sendirian, “ ujar Bian lembut.

“Enggak usah manja kak, urusan aku lebih penting. Sudah aku pergi dulu, “ Rusmin melangkah keluar rumah, tak memperdulikan Bian yang memanggilnya berulang kali. Ingin rasanya Bian menangis saat itu. Hatinya serasa teriris melihat sikap adiknya itu. Bian memandang punggung Rusmi yang semakin menjauh hingga tak terlihat lagi. Pandangannya kemudian tertuju pada pemandangan indah laut pasang dihadapannya. Entah mengapa perasaannya yang membuncah tadi hilang seketika. Pemandangan pantai itu seolah–olah menjadi penenang bagi Bian di kala terpuruk.

“Bian?” Suara seorang laki-laki membuyarkan lamunan Bian. Bian menoleh, ternyata itu adalah Kinan sepupunya yang tinggal disebelah rumahnya.

“Kinan, ada apa?“ kata Bian

“Ini dari ibuku, lauk untukmu dan rusmi,” Kinan menyodorkan piring plastik berisi ikan pari balado.

“Alhamdulillah, kebetulan kami tidak punya lauk untuk siang dan malam nanti. Bilang ke bibi terima kasih, “ Bian menerima piring itu dari tangan Kinan.

“Iya Bian, ngomong-ngomong, kamu kelihatannya sedang bersedih. Ada apa Bian?” tanya Kinan penasaran.

“Tidak, aku baik –baik saja. Oh ya Kinan, apakah kamu mau membantuku? “Tanya Bian dengan mata berbinar-binar.

“Membantu apa? Memangnya Rusmi tidak ada?” Kinan balik bertanya.

“Rusmin pergi kerumah Dinar. Emak menyuruhku menjemur ikan asin, sedangkan masih banyak pekerjaan rumah yang harus aku selesaikan. Mau tidak kamu yang menjemurnya? “ pinta Bian. Kinan mengangguk seraya tersenyum.

“Okey. Mana ikannya?” Tanya Kinan. Bian bergegas pergi kedapur untuk mengambil nampan kemudian menyerahkannya kepada Kinan.

“Terima kasih Kinan, aku masuk dulu ya. Cucian piring menumpuk,“ kata Bian dan disambut senyuman simpul dari Kinan.

Bian bersyukur dalam hatinya ternyata masih ada orang yang perduli padanya. Seandainya ia memiliki adik seperti Kinan, pasti dia akan selalu bahagia, namu itu hanya khayalan Bian semata.

Semburat jingga terlukis dilangit dengan eloknya. Tak terasa hari mulai beranjak petang. Bian telah menyelesaikan seluruh pekerjaannya. Meski kelelahan, Bian tetap merasa bahagia karena ia merasa telah mengurangi beban pekerjaan emaknya.

Satu hal yang sedang ia khawatirkan bahwasannya Rusmi belum juga kembali. Padahal ia keluar semenjak pagi tadi dan sekarang sudah hamper magrib. Bian takut nanti jikalau Emak dan Abah sudah pulang sedangkan Rusmin tidak ada di rumah, pastilah dia akan menjadi sasarannya. Untuk itu, Bian berniat untuk mencari Rusmi saat ini.

“Assalamu’alaikum,“ ucap seorang dari luar Bian terhenyak, itu adalah Emak dan Abah.

Rasa takut menyelimuti Bian, tidak biasanya Emak dan Abah kembali secepat ini. Biasanya setelah isya’ baru Emak dan Abah pulang, tapi kali ini tidak. Dengan memberanikan diri Bian membuka pintu rumah. Dilihatnya wajah lelah Emak dan Abah kemudian ia segera menyalimi tangan keduanya.

“Mana Rusmin?” tanya Abah seraya berjalan masuk kerumah

“Aa.. anu, Ru.. Rusmi, “ Bian menjawab dengan terbata–bata

“Jawab bian! kemana Rusmin!” nada bicara Abah mulai meninggi. Lidah Bian terasa kelu, keringatnya mengucur deras. Ia sangat takut akan kemarahan Abah.

“Maafkan Bian Bah, Rusmin tidak kembali dari pagi bah, itu gara –gara Bian mengajaknya menjemur ikan asin bah,” Bian menangis tersedu-sedu. Plak plak !! satu tamparan mendarat diwajah Bian. Abah sangat tersulut emosi sampai tega menamparnya.

“ Cari Rusmin! Sebelum ia ketemu, jangan kembali kamu!” ujar Abah.

“Emak tidak menyangka Bian, setega ini kamu dengan Rusmin. Itu adikmu nak, adik kandungmu” emak yang sedari tadi diam mulai angkat bicara.

“Tidak mak, Bian tidak bersalah. Bian hanya mengajak Rusmi untuk,” omongan Bian terpotong.

“Jangan membantah Bian!” bentak Abah yang membuat tangis Bian semakin kencang.

“Assalamu’alaikum, Emak, Abah, “ ucap Rusmi yang baru pulang. Wajahnya tampak ceria seolah tidak terjadi apa-apa.

“Masyaallah Rusmi, dari mana saja kamu nak?” Tanya emak yang segera menghamburkan pelukannya kepada Rusmi.

“Dari rumah Dian mak, kami bermain sepanjang hari. Lihat Ma, Bah, kukuku baguskan jika diwarnai seperti ini?” ucap Rusmi sumringah seraya memperlihatkan kuku-kukunya yang diwarnai daun pacar air.

“Kami sangat khawatir Nak, kami kira kamu pergi kemana,” Abah tersenyum lembut sembari nemepuk pelan kepala Rusmi. Kemudian Emak dan Abah mengajak Rusmin keruang tamu untuk berbincang bincang, sementara Bian diacuhkan saja.

Hati Bian sangat sakit tetapi dia hanya bisa menangis. Gara–gara Rusmin ia mendapatkan tamparan dan bentakan seorang Abah. Karena ulah Rusmi, ia bagaikan anak tiri di rumah ini.

“Emak, Abah, maafkan Bian,” gumam Bian pelan. Ia segera masuk kekamar dan menelungkupkan wajahnya dibantal. Ingin rasanya Bian menangis sejadi-jadinya namun itu hanya membuat hatinya semakin rapuh. Bian harus kuat, ia harus selalu menghormati kedua orang tuanya walau terkadang ia merasa tidak diadili. Emak dan Abah tetap menjadi salah satu cara Bian untuk menguatkan diri.

“Kak Bian,” suara lirih Rusmin tertangkap indra pendengaran Bian.

“Ada apa?” Bian menoleh menatap Rusmi.

“Dipanggil Emak dan Abah di ruang tamu sekarang,” ucapnya.

Mendengar itu Bian segera beranjak menuju ruang tamu. Ia pun duduk disebelah rusmi tepatnya di depan Abah.

“Bian, minta maaflah pada Rusmin atas kesalahanmu,” kata Abah.

Bian terkejut bukan main. Mengapa harus ia yang minta maaf bukannya itu kesalahan Rusmin? Tapi untuk memperkecil masalah, Bian mengulurkan tangannya kepada Rusmi. Rusmin pun menyambut uluran tangan Bian.

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts