Cerpen: Ada Cinta Dalam Secangkir Air Jahe

Ilustrasi gadis desa/ Facebook

Malam semakin membangkrutkan diri. Sinarnya enggan bercahaya. Buramkan malam yang makin menua. Kelap-kelip bintang pun tak terlihat. Entah kemana mereka menari malam ini. Sepoi angin di daratan tak berdesis. Seolah-olah terdiam dalam kesunyian alam.

Kedai kopi itu makin sepi. Pengunjungnya makin menipis. Bangku-bangku mulai terlihat kosong melompong. Hanya suara dentingan gelas dan piring yang saling bersentuhan yang masih terdengar di arah dapur Kedai Kopi sebagai penghias malam yang makin merentah seiring mulai terbangunnya mentari dari tidur panjangnya.

Bacaan Lainnya

Di sudut Kedai kopi, lelaki itu masih setia dengan secangkir air jahe yang mulai hampa rasanya. sehampa jiwanya yang tak bertenaga dalam mengarungi hidup dan kehidupan. Padahal sebagai lelaki dia memiliki segalanya. Jabatan mentereng. Mobil siap mengantarkannya kemana hati ingin berlabuh.

“Entah kapan kita bertemu lagi,” gumamnya dalam hati. Seolah bicara kepada alam yang tak menjawab.

Setiap menikmati secangkir air jahe di Kedai Kopi di sudut Kota, ingatan lelaki itu selalu ke masa silam. Ya, saat dirinya masih menuntut ilmu di perantauan. Masa-masa dirinya masih berstatus sebagai mahasiswa di tanah seberang.

Air jahe yang dihidangkan seorang gadis saat dirinya merampungkan Kuliah Kerja Nyata di sebuah Desa selalu mengingatkannya bahwa hidup itu indah dan harus dinikmati.

Air jahe buatan gadis itu bukan sekedar menghangatkan sekujur tubuhnya pada malam yang bening itu, namun air jahe itu telah membuatnya jatuh hati kepada gadis Desa itu. Jahe merah ternyata bukan hanya sekedar tanaman herbal yang bisa menghangatkan tubuhnya dan penyakit lainnya, namun secangkir air jahe yang selalu dihidangkan Gadis Desa itu saat dirinya bertandang ke rumah telah membuat jiwanya terasa hangat.

“Kalau adinda bersedia menunggu, aku akan meminangmu usai kuliahku tuntas,” bisiknya ditelinga gadis itu.

“Abang ini bisa saja. Aku ini gadis Desa dan tidak berpendidikan. Masih banyak gadis di kampus abang yang pintar,” elak gadis itu.

“Adinda tak tergantikan dengan gadis kampus. Adinda bukan hanya cantik namun baik hati,” jawab lelaki itu. Gadis Desa itu cuma terdiam. Wajahnya merah merona mendapat pujian dari lelaki itu.

Sementara malam semakin melarut. Selarut hati keduanya dalam pelukan asmara. Keduanya lupa akan etika dan norma kehidupan yang sejati. Hanya hasrat yang bicara yang menenggelamkan keduanya dalam dengus nafas yang mendera jiwa.

Keduanya telah menyatu dalam satu pelukan seiring hasrat manusia dewasa. Dengusan liar sesekali terlontar dari keduanya hingga keduanya terkapar dalam kepuasan hidup sebagai manusia dewasa. Kokokan ayam memisahkan mareka dengan sejuta senyuman yang sarat arti. Sinar mentari bercahaya dengan terangnya. Seterang hati keduanya yang masih berselimutkan asmara.

Gadis itu setengah tak percaya saat lelaki yang dipanggilnya dengan sebutan Abang datang ke rumahnya. Lelaki itu datang dengan tampilan yang berbeda. Setidaknya sudah sekitar setahun usai KKN, gadis itu tak melihat wajah lelaki anak kuliah itu.

Kini lelaki dihadapannya sudah tampil berbeda dengan baju kemeja dan celana kain katun. Beda saat KKN lelaki itu asyik dengan style khas anak kuliah baju kaos dan celana jeans belel.

“Aku datang ingin melamarmu,” ujar lelaki itu dengan nada suara sangat percaya diri. Gadis itu kaget. Jantungnya hampir lepas. Dadanya berdegup keras bak koruptor yang tertangkap tangan KPK.

“Mohon maaf Abang.Saya sudah menikah dengan lelaki pilihan orang tua saya,” jawab gadis itu dengan nada lirih.

Lelaki itu kaget. Kakinya lemas seolah lepas dari persedian. Lelaki itu meninggalkan rumah gadis itu dengan wajah tertunduk malu. Bak pahlawan perang yang kalah di medan tempur. Hatinya hancur berkeping-keping bak piring yang pecah. Langkahnya gontai. Tak bertenaga. Terangnya sinar mentari tak mampu menerangi jalanya pulang. Lelaki itu pun tersesat dalam kegelapan.

Lelaki itu terkejut saat sebuah tepukan hangat menghampiri tubuhnya. Tepukan yang sangat dikenalnya. Lelaki itu menoleh. Jantungnya mau copot. Gadis yang diimpikannya ada di hadapannya.

“Adinda?” ujarnya dengan nada setengah bertanya. Ada kegembiraan yang terpatri dalam wajahnya.

“Iya, Abang. Aku datang ke kotamu untuk hidup bersamamu. Suamiku sudah meninggal,” jawab Gadis itu. Jawaban Gadis itu meronakan wajah lelaki itu. Jiwanya kembali berseri. Tubuhnya berenergi.

Seolah-olah ada asupan jiwa yang memberinya energi baru. Dan sebuah pelukan menghangatkan tubuh keduanya di malam yang makin larut itu. Pandangan mata para pekerja Kedai Kopi lah yang membuat pelukan keduanya terlepas.

“Besok kita ke KUA. Aku akan menikahimu,” ujar lelaki itu sembari mengajak Gadis itu meninggalkan Kedai Kopi yang sudah sepi. Langkah kaki keduanya bergegas. Amat bergegas. Seolah-olah hendak melawan matahari yang akan datang dengan sinarnya yang cerah yang telah menyinari relung hati dua anak manusia itu.

Karya : Rusmin Toboali

Yuk bagikan berita ini...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.