Lawang Borotan yang Dilaunching Menjadi Destinasi Wisata Palembang, Kini Terbengkalai dan Ditumbuhi Belukar

Lawang Borotan yang menjadi pintu keluarnya Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang saat akan diasingkan ke Ternate itu, kini terbengkalai dan ditumbuhi semak belukar, Minggu (4/4/2021).

Palembang, Sumselupdate.com – Sebagai peninggalan sejarah sejak masa Sultan Mahmud Badaruddin I, Lawang Borotan (pintu belakang) sempat digadang-gadang Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang menjadi destinasi wisata baru.

Sayangnya, Lawang Borotan yang menjadi pintu keluarnya Sultan Mahmud Badaruddin II saat akan diasingkan ke Ternate itu, kini terbengkalai dan ditumbuhi semak belukar.

Bacaan Lainnya

Berdasarkan pantauan langsung, dinding dan bagian atas lawang borotan dipenuhi lumut dan rerumputan.

Lawang Borotan merupakan gerbang yang berada di sebelah barat dan timur dari Benteng Kuto Besak (BKB).

Namun kini gerbang barat adalah satu-satunya yang masih berdiri. Pintu gerbang tersebut menurut sejarah, menjadi akses keluar masuknya Sultan Mahmud Badaruddin II, jika hendak menuju kediaman Adipati Tua, di Muara Sungai Sekanak.

Bangunan Lawang Borotan yang merupakan warisan sejarah tersebut selama bertahun-tahun seolah terabaikan.

Sempat dilaunching menjadi destinasi wisata pada 2019, namun tidak terdengar lagi gaungnya.

Sejarawan Palembang Vebri Al-Lintani mengatakan, Lawang Borotan merupakan bagian kecil dari BKB.

“Lawang Borotan menjadi tempat keluar ketika Sultan Mahmud Badaruddin II akan diasingkan ke Ternate. Ini bagian dari sejarah juga,” katanya, Minggu (4/4/2021).

Ia sangat menyayangkan tidak konsennya Pemkot Palembang.

Menuru Vebri, Pemkot Palembang tidak mempunyai kemauan politik yang bagus untuk membangun basis budaya Palembang Darussalam.

“Padahal Palembang Darussalam itu menjadi jargon walikota saat ini,” katanya.

Menurutnya, jika pun kawasan sejarah budaya ada kegiatan ekonomi, tapi tetap harus menonjolkan sejarah budaya.

“Pemkot tidak konsen terhadap satu masalah. Belum lagi ini Pemkot Palembang akan merancang Pulau Kemaro jadi destinasi wisata,” katanya.

Padahal, kata Vebri, banyak potensi wisata berbasis sejarah di Palembang. Seperti halnya Lawang Borotan, baiknya dicat atau dirawat.

“Paling tidak dirawat dan dibersihkan. Jika begini terlihatnya pemkot tidak konsen terhadap sejarah Palembang Darussalam,” cetusnya.

Sementara itu Kepala Dinas Pariwisata Kota Palembang, Isnaini Madani mengatakan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan instansi terkait.

Seperti Dinas PeraKP untuk perbaikan, Satpol PP untuk penertiban parkir liar di sekitar Lawang Borotan.

“Tidak bisa dikerjakan oleh satu institusi, makanya ini juga harus ada gerakan dari Dinas Kebudayaan. Lawang Borotan ini biasanya khusus wisatawan sejarah,” katanya.

Menurutnya, selain itu swafoto Lawang Borotan bisa jadi wahana atraksi musik.

“Ini bisa jadi satu paket wisata misalnya ke Museum SMB II bisa ke Lawang Borotan juga. Tapi karena Covid ini belum bisa dilakukan,” katanya. (iya)

Yuk bagikan berita ini...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.