Palembang, sumselupdate.com – Guru sebagai pendidik dan pengajar harus memiliki metode khusus dalam menyampaikan materi pelajaran kepada murid agar tidak membosankan. Salah satunya melalui penguasaan menyampaikan cerita atau kisah dengan mendongeng.
Saat masih kecil dulu misalnya, orang tua kita telah mentradisikan mendongeng menjelang tidur bagi anak. Pesan yang terkandung dalam dongeng itu, sampai sekarang pun masih demikian melekat.
“Kisah yang pernah diceritakan orang tua kita, misalnya sang kancil yang menolong buaya, dapat membentuk karakter anak, bagaimana memupuk sifat saling tolong antara sesama mahkuk, bukan saling bermusuhan. Nah, di sinilah dongeng mampu membentuk karakter anak didik kita untuk memupuk saling kerjasama antar satu dan lainnya,” ujar Farida, S.Pd, M.Si, Kepala UPTD Diknas Kecamatan Plaju Palembang saat memberi sambutan pada pembukaan “Pelatihan Menulis Cerita dan Mendongeng” di Aula SD Negeri 225 Plaju Palembang, Sabtu (7/10/2017).
Menurut Farida, pelatihan ini penting bagi guru dan murid. Bagi guru, sebut Farida, pelatihan ini dapat mendorong proses belajar mengajar menjadi lebih menyenangkan dan menggembirakan.
“Kalau guru menyampaikan materi dengan cara yang menarik, misalnya melalui dongeng, akan menciptakan suasana belajar yang segar dan tidak membosankan. Saat itulah proses pembentukan karakter anak, secara perlahan akan terbentuk melalui dongeng,” ujarnya.
Sementara bagi murid, pelatihan ini dapat mendorong proses kreatif terutama bagaimana tata cara menulis cerita yang baik. “Saya berharap, baik guru dan murid dapat mengambil pelajaran keahlian dari dua materi ini, baik menulis cerita dan mendongeng,” tambahnya.
Pada event hasil kerjasama Majalah Anak “Super Kidz” Palembang dan UPTD Diknas Kecamatan Plaju Palembang ini, dihadirkan dua pembicara yakni Kak Inug (Slamet Nugroho, SS), pendongeng asal Yogyakarta dan Mas Im (Imron Supriyadi), seorang penulis cerita di Palembang.
Kak Inug yang tampil dengan gaya teaterikal dan penuh totalitas memperagakan bagaimana seorang pendongeng menyampaikan alur cerita di hadapan publik. Beberapa suara ia contohkan.
Melalui kisah kancil dan buaya, Kak Inug mempraktikkan bagaimana suara buaya dan kancil saat berdialog. Tak ayal, puluhan peserta yang terdiri guru dan murid SD itu termangu. Sesekali mereka pun tertawa dengan ulah Kak Inug yang bertingkah layaknya kancil yang ingin menipu buaya.
Sementara Imron Supriyadi menyampaikan materi teknik menulis cerita. Cerpenis dan Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Palembang (DKP) ini menyampaikan trik menulis yang sangat simple. Mula-mula, anak-anak diminta menulis dalam waktu 5 menit.
Dia kemudian meminta para peserta menulis perjalanannya dari sejak bagun tidur sampai di sekolah. Dua orang, Aninda dan Siti, kemudian diminta membacakan teks yang sudah ia tulis di hadapan murid lainnya.
Menurut Imron, trik menulis yang sederhana ini berguna untuk membangkitkan imaginasi setiap murid agar kelak bisa terlatih untuk mengolah kisah yang dialaminya dalam keseharian.
“Nanti kalau murid sudah terbiasa memainkan imaginasinya, baru kemudian kita isi kontennya. Tapi untuk tahap awal harus menulis hal yang terdekat dengan kita, sebab dalam setiap diri kita memiliki keinginan untuk menceritakan dirinya,” ujarnya.
Imron kemudian menantang para peserta untuk menulis 200 halaman kisah kehidupannya masing-masing. “Saya kasih tantangan bagi semua peserta. Sekarang tanggal 7 Oktober 2017. Satu tahun lagi, pada tanggal yang sama, 7 Oktober 2018, saya minta kepada para peserta untuk kirim tulisan ke email saya. Apa yang ditulis? Apa saja. Boleh kisah hidup murid atau para guru. Jangan bertanya, akan menjadi apa karya yang sudah dikirim. Buktikan dulu dengan menulis, baru nanti akan jadi apa tulisan yang sudah dikirim ke email saya,” ujarnya.
Sementara itu, Pemimpin Redaksi Majalah “Super Kidz” Palembang Fisika Fikri menjelaskan, kegiatan ini baru kali pertama dilakukan. Pekan depan kegiatan serupa akan digelar di sejumlah kecamatan lain, dengan menjalin kerjasama dengan UPTD Diknas se-Kota Palembang. (ril/shn)











