Angka Kecelakaan Turun, Mudik Tahun Ini Dianggap Berhasil

Ruas Pejagan-Brebes Timur dipadati kendaraan pemudik hingga 23 kilometer pada Sabtu malam (2/7/2016). (Foto: Kompas.com)

Jakarta, Sumselupdate.com – Data kecelakaan yang dihimpun Korps Lalu Lintas Polri menunjukkan penurunan angka kecelakaan di musim mudik Lebaran tahun ini. Selama pantauan H-7 hingga H-3 Lebaran, terjadi 284 kecelakaan.

Dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 703 kejadian, terjadi penurunan 60 persen. Jumlah korban meninggal juga menurun 59 persen dari 148 orang pada 2018 menjadi 61 orang pada tahun ini.

Bacaan Lainnya

Usia produktif antara 15-50 tahun masih mendominasi korban kecelakaan, yakni 355 orang dari total 506 orang atau sebesar 70 persen. Sementara itu, sepeda motor masih menjadi penyebab kecelakaan tertinggi, yakni 65 persen.

Meski begitu, ada penurunan jumlah kecelakaan dengan sepeda motor sebesar 64 persen, dari 879 kejadian di 2018 menjadi 313 kejadian. Melihat turunnya angka kecelakaan tersebut, pengamat transportasi Djoko Setijowarno menganggap mudik tahun ini menunjukkan keberhasilan dalam berbagai aspek.

“Menurunnya angka kecelakaan ini dapat diartikan meningkat kesadaran berlalu lintas, ketersediaan infrastruktur yang makin membaik dan penetapan sejumlah strategi manajemen rekayasa lalu lintas yang diterapkan,” kata Djoko dikutip dari laman kompas.com, Rabu (5/6/2019).

Selain lebih aman, kata Djoko, mudik kali ini juga lebih nyaman. Ditambah lagi kesiapan jalan nasional, provinsi dan kabupaten/kota yang semakin membaik dengan dilengkapi rambu, marka, dan penerangan jalan umum.

Tol Trans Jawa sudah terhubung dari Merak hingga Probolinggo dan bercabang hingga Malang. Meski Tol Trans Sumatera belum terhubung penuh, namun sudah dapat digunakan hingga Palembang dari Bakauheni untuk membantu pemudik ke Palembang yang tidak mampu beli tiket pesawat dari Jakarta ke Palembang.

Waktu tempuh hingga ke Solo dan sekitarnya, pada dua tahun lalu minimal 30 jam. “Sejak tahun lalu sdh bisa 10 jam. Untuk kondisi normal hanya sekitar 7 jam menggunakan Tol Trans-Jawa,” kata Djoko.

Djoko mengatakan, penyelenggaraan angkutan Merak-Bakauheni juga semakin baik dengan adanya dermaga eksekutif dengan kapal khusus kapasitas besar. Dengan berangkat dari dermaga eksekutif, menyeberangi Selat Sunda selebar 15 mil bisa ditempuh dalam waktu satu jam.

Di sisi lain, Djoko juga menyorot tingginya harga tiket pesawat. Tak dipungkiri, ada pergeseran pola penggunaan moda transportasi tahun ini dari pesawat ke moda lainnya.

Salah satunya penggunaan kapal laut yang meningkat cukup signifikan, sekitar 40 persen. Sayangnya, kata Djoko, pemerintah tak mengantisipasi lonjakan penumpang ini sehingga operasionalnya sedikit berantakan.

Ke depannya, ia menyarankan agar transportasi laut harus mendapat perhatian serius. “Kapal laut dan pelabuhan harus berbenah segera. Dapat meniru apa yang sudah diselenggarakan di perkeretaapian. Layanan penunpang di stasiun KA Ekonomi tidak jauh beda dengan stasiun KA Eksekutif,” kata Djoko. (pto)

Yuk bagikan berita ini...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.