Palembang, Sumselupdate.com – Menjelang arus mudik Lebaran 2026, Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai, Danau, dan Ferry (Gapasdap) menyoroti persoalan infrastruktur yang dinilai berpotensi menghambat kelancaran angkutan di Pelabuhan Tanjung Api-Api, Sumatera Selatan, dan Pelabuhan Tanjung Kalian.
Ketua Bidang Tarif dan Usaha DPP Gapasdap, Rahmatika Ardianto, mengungkapkan terdapat dua persoalan utama yang perlu segera mendapat perhatian pemerintah pusat maupun daerah, yakni kondisi alur pelabuhan yang dangkal serta keterbatasan jumlah dermaga.
Menurut Rahmatika, kedalaman alur dan muka air dermaga di Pelabuhan Tanjung Api-Api saat ini rata-rata hanya sekitar 2,8 meter.
Padahal, idealnya kedalaman berada di kisaran 3,5 hingga 4 meter agar kapal dapat bersandar dalam berbagai kondisi pasang surut.
“Sejak TAA beroperasi, belum pernah dilakukan pengerukan. Akibatnya kapal harus menunggu air pasang untuk bisa berlayar. Hari ini misalnya, air surut sejak pukul 17.00 WIB dan operasional baru dapat kembali sekitar pukul 23.00 WIB setelah air pasang,” ujarnya.
Baca Juga: Perairan Pelabuhan Tanjung Api Api Dangkal, Kapal Sulit Bersandar
Kondisi tersebut dinilai berdampak langsung terhadap operasional harian dan berpotensi menimbulkan keterlambatan, terutama saat lonjakan penumpang pada periode mudik Lebaran.
Ia menegaskan, pengerukan alur pelabuhan menjadi kebutuhan mendesak agar kapal berukuran besar dapat bersandar secara optimal.
Dengan alur yang lebih dalam, kapasitas angkut dinilai bisa ditingkatkan sehingga antrean kendaraan dan penumpang dapat ditekan.
Selain persoalan alur, Rahmatika juga menyoroti keterbatasan dermaga. Saat ini pelabuhan hanya memiliki satu pasang dermaga aktif, sementara untuk mendukung kelancaran angkutan setidaknya dibutuhkan dua pasang dermaga.
Baca Juga: Pelabuhan Tanjung Api-Api Mengalami Pendangkalan, Keselamatan Transportasi Penyeberangan Terancam
Menurutnya, satu pasang dermaga yang tersedia pun belum berfungsi maksimal akibat kondisi alur yang dangkal.
Situasi ini membuat jadwal pelayaran tidak berjalan efisien karena kapal hanya dapat beroperasi saat air pasang tinggi.
Dari sisi armada, ia menyebut jumlah kapal sebenarnya memadai. Tercatat terdapat 16 izin kapal yang diterbitkan untuk angkutan Lebaran.
Namun, hanya 14 kapal yang dapat berpartisipasi karena dua kapal belum memperoleh jadwal operasional. Bahkan dari 14 kapal tersebut, sekitar 10 kapal yang dapat beroperasi optimal akibat keterbatasan dermaga.
Baca Juga: Kapal Kayong Tenggelam di Dekat Pelabuhan Tanjung Api-Api, 1 ABK Tewas, 30 Penumpang Selamat
Dengan semakin dekatnya puncak arus mudik, Gapasdap berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret melalui pengerukan alur serta penambahan dan optimalisasi dermaga.
Perbaikan infrastruktur dinilai krusial untuk menjamin kelancaran mobilitas masyarakat antara Sumatera Selatan dan Bangka Belitung.
Rahmatika menambahkan, kelancaran angkutan penyeberangan di Pelabuhan Tanjung Api-Api dan Pelabuhan Tanjung Kalian sangat vital bagi konektivitas kedua provinsi, terutama pada momentum Lebaran yang setiap tahunnya diwarnai peningkatan signifikan jumlah penumpang dan kendaraan.
(**)











