Teheran, Sumselupdate.com – Iran dilaporkan telah menyusun draf awal nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) dengan Amerika Serikat (AS) terkait upaya mengakhiri konflik dan memulihkan stabilitas di kawasan Teluk.
Laporan tersebut disampaikan sejumlah media pada Rabu (27/5/2026) mengutip stasiun televisi pemerintah Iran, IRIB TV.
Dalam draf tersebut, Iran meminta penarikan militer AS dari kawasan sekitar Iran serta pencabutan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Sebagai imbalannya, Iran berkomitmen memulihkan aktivitas pelayaran komersial di Selat Hormuz ke kondisi sebelum perang dalam waktu satu bulan.
Selain itu, Iran juga disebut akan mengelola lalu lintas kapal di Selat Hormuz bersama Oman. Namun, pengaturan tersebut tidak mencakup kapal militer.
Menurut laporan itu, AS setuju mencabut blokade laut terhadap pelabuhan Iran, mengakui pengelolaan jalur pelayaran oleh Iran bersama Oman, menerima rute pelayaran yang ditetapkan Teheran, serta menarik pasukan AS dari sejumlah area di sekitar Iran.
Kesepakatan final yang kemungkinan dicapai dalam masa negosiasi selama 60 hari disebut akan disahkan melalui resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang bersifat mengikat.
Iran juga disebut tidak akan mengambil langkah lanjutan tanpa adanya “verifikasi nyata” terhadap implementasi kesepakatan tersebut.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, sebelumnya mengonfirmasi bahwa Iran dan AS tengah menyusun MoU untuk mengakhiri perang.
“Niat awal kami adalah menyepakati sebuah MoU yang terdiri dari 14 klausul,” ujar Baghaei kepada IRIB TV.
Ia menambahkan, kedua negara menargetkan kesepakatan final dapat dicapai dalam waktu 30 hingga 60 hari, mencakup penghentian serangan maritim AS dan pencairan aset Iran yang dibekukan.
Iran, AS, dan Israel diketahui mencapai gencatan senjata pada 8 April 2026 setelah konflik bersenjata yang berlangsung selama 40 hari.
Pasca gencatan senjata, delegasi Iran dan AS sempat menggelar perundingan damai di Islamabad, Pakistan, pada 11–12 April 2026. Namun, pembicaraan tersebut belum menghasilkan kesepakatan final.
Dalam beberapa pekan terakhir, kedua pihak dilaporkan terus bertukar proposal melalui mediasi Pakistan guna mencari solusi permanen untuk mengakhiri konflik.
(**)











