Jenewa, Sumselupdate.com – World Health Organization atau Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkapkan bahwa wabah Ebola yang menyebar cepat di Republik Demokratik Kongo telah menyebabkan sedikitnya 220 kematian suspek Ebola.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan hingga kini tercatat lebih dari 900 kasus suspek Ebola, sementara 101 kasus telah terkonfirmasi dengan 10 kematian terkonfirmasi akibat virus tersebut.
“Kini terdapat lebih dari 900 kasus suspek dan 220 kematian suspek,” ujar Tedros dalam Rapat Virtual Tingkat Menteri mengenai Wabah Ebola Bundibugyo, Senin (25/5).
Wabah ini resmi dinyatakan sebagai darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional pada 17 Mei 2026. Penyebarannya juga telah meluas ke Uganda yang sejauh ini melaporkan lima kasus terkonfirmasi dan satu kematian.
Tedros menegaskan, salah satu tantangan terbesar saat ini adalah keterlambatan deteksi wabah, sehingga tim kesehatan harus bekerja keras mengejar laju penyebaran virus yang sangat cepat.
“Kami sedang menyegerakan peningkatan operasi, tetapi saat ini penyebaran epidemi lebih cepat daripada upaya kami,” katanya.
WHO menyebut galur Ebola yang menyebar kali ini merupakan virus Bundibugyo, jenis yang hingga kini belum memiliki vaksin maupun terapi yang disetujui. Sebelumnya, wabah galur tersebut hanya pernah tercatat dua kali, yakni di Uganda pada 2007 dan di RD Kongo pada 2012.
Sebagai langkah darurat, WHO merekomendasikan dua antibodi monoklonal untuk diprioritaskan dalam uji klinis penanganan wabah.
Situasi semakin rumit karena wilayah terdampak, yakni Provinsi Ituri dan Kivu Utara, tengah dilanda konflik keamanan dan rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap otoritas kesehatan. Dalam beberapa bulan terakhir, konflik bersenjata dilaporkan memaksa lebih dari 100 ribu warga mengungsi.
Selain itu, dua insiden keamanan di fasilitas kesehatan juga dilaporkan terjadi pekan lalu, sehingga memperberat upaya penanganan wabah.
WHO kini menaikkan status risiko nasional di RD Kongo menjadi “sangat tinggi”, sementara risiko regional berada pada level “tinggi” dan risiko global dinilai masih “rendah”. Negara-negara tetangga pun diminta segera memperkuat langkah antisipasi.
Tedros dijadwalkan melakukan kunjungan langsung ke RD Kongo bersama direktur kedaruratan WHO sebagai bagian dari upaya menghentikan wabah tersebut.
“Situasi akan memburuk sebelum membaik. Namun kami mengenal virus ini dan kami tahu cara menghentikannya,” tegas Tedros.
(**)











