WHO Waspadai Wabah Ebola Langka di Kongo dan Uganda, Ratusan Orang Meninggal

Writer: - Senin, 1 Juni 2026
Tenaga kesehatan yang berbaju hazmat melakukan disinfeksi di Bunia, ibu kota Provinsi Ituri, Republik Demokratik Kongo, pada 25 Mei 2026. (Xinhua)

Jenewa, Sumselupdate.com – Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization menyatakan deteksi dini dan keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting dalam menekan penyebaran wabah Ebola akibat galur Bundibugyo yang saat ini masih merebak di Republik Demokratik Kongo dan Uganda.

Dalam keterangan yang disampaikan di Jenewa, Jumat (29/5/2026), WHO mengungkapkan bahwa pengobatan dan vaksin potensial untuk menangani wabah tersebut masih berada dalam tahap penilaian dan pengembangan.

Read More

Berdasarkan data WHO hingga Kamis (28/5), tercatat sekitar 906 kasus suspek Ebola di RD Kongo, termasuk 223 kematian suspek. Sementara itu, terdapat 125 kasus terkonfirmasi yang tersebar di wilayah Ituri, Kivu Utara, dan Kivu Selatan, dengan 17 kematian terkonfirmasi.

Di Uganda, otoritas kesehatan melaporkan tujuh kasus terkonfirmasi, termasuk satu kematian. Seluruh kasus tersebut diketahui berkaitan dengan wabah yang terjadi di RD Kongo dan hingga kini belum ditemukan bukti penularan di masyarakat.

Petugas teknis WHO, Anais Legand, menegaskan bahwa peran masyarakat sangat penting dalam menghentikan rantai penyebaran penyakit.

“Penyakit ini dapat menular ketika seseorang merawat anggota keluarga yang terinfeksi, baik suami, anak maupun orang tua,” ujarnya dalam pengarahan kepada media di Jenewa.

Untuk mendukung upaya penanggulangan, WHO telah menghimpun para ahli guna meninjau berbagai langkah medis yang berpotensi digunakan. Dua kandidat vaksin saat ini telah diidentifikasi dan akan dievaluasi setelah ketersediaan dosis mencukupi.

Sementara itu, untuk pencegahan pascapaparan, WHO memprioritaskan obat antivirus oral obeldesivir dalam studi klinis yang ditujukan bagi kontak erat pasien terkonfirmasi.

Adapun untuk pengobatan, tiga kandidat terapi yang diprioritaskan dalam uji klinis meliputi antibodi monoklonal MBP 134, maftivimab, serta antivirus remdesivir.

Legand menjelaskan bahwa peningkatan kapasitas perawatan intensif dan edukasi masyarakat untuk mengenali gejala lebih awal menjadi langkah penting dalam menekan angka kematian.

Menurut WHO, tingkat kematian akibat Ebola galur Bundibugyo pada wabah-wabah sebelumnya berkisar antara 30 hingga 50 persen.

Di tengah upaya penanganan wabah, WHO terus bekerja sama dengan pemerintah RD Kongo dan Uganda meskipun menghadapi berbagai tantangan, termasuk konflik bersenjata dan keterbatasan akses ke sejumlah wilayah terdampak, khususnya di Provinsi Ituri.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, bahkan menyerukan gencatan senjata kepada kelompok-kelompok bersenjata agar tenaga kesehatan dapat menjangkau masyarakat yang membutuhkan layanan medis dan bantuan kemanusiaan.

(**)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts