Rupiah Tembus Rp17.000 per Dolar AS, Perbankan Waspadai Risiko Kredit Valas

Writer: - Sabtu, 11 April 2026
Ilustrasi nilai tukar rupiah terhadap dollar. (Foto Sumselupdate.com/Istimewa).

Jakarta, Sumselupdate.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami tekanan dan sempat menembus level Rp17.000 per dolar AS. Kondisi ini memicu kekhawatiran di sektor keuangan, terutama terkait risiko kredit dalam valuta asing (valas).

Data pasar menunjukkan, rupiah bahkan sempat menyentuh posisi Rp17.123 per dolar AS pada Jumat (10/4/2026) pagi. Angka tersebut menjadi salah satu level terendah dalam beberapa waktu terakhir, sebelum kemudian bergerak menguat tipis ke kisaran Rp17.101.

Read More

Pelemahan ini dinilai berdampak langsung terhadap debitur yang memiliki pinjaman dalam dolar AS, namun berpenghasilan dalam rupiah. Kondisi tersebut dikenal sebagai risiko currency mismatch.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF, M. Rizal Taufikurahman, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah dapat meningkatkan beban utang secara signifikan.

“Ketika kurs bergerak dari Rp15.000 ke Rp17.000, beban kewajiban dalam rupiah bisa naik lebih dari 10 persen tanpa perubahan pokok utang,” ujarnya.

Meski demikian, ia menilai kondisi perbankan nasional saat ini relatif lebih siap dibandingkan masa lalu. Hal itu karena porsi kredit valas sudah jauh berkurang dalam struktur pembiayaan.

Dari sisi industri perbankan, Bank OCBC NISP menyatakan bahwa eksposur terhadap fluktuasi nilai tukar masih terkendali.

Direktur OCBC NISP, Martin Widjaja, mengatakan dalam beberapa tahun terakhir banyak korporasi beralih menggunakan pinjaman berbasis rupiah.

“Portofolio kredit menjadi lebih terlindungi karena perusahaan kini cenderung mengurangi ketergantungan pada dolar,” ujarnya.

Selain itu, pelaku usaha juga dinilai semakin disiplin dalam mengelola risiko, termasuk dengan memanfaatkan instrumen lindung nilai (hedging) seperti forward dan interest rate swap.

Sementara itu, Direktur OCBC NISP lainnya, Johannes Husin, menambahkan bahwa pihak bank secara rutin melakukan uji ketahanan (stress test) untuk memastikan kondisi tetap aman.

“Koordinasi dengan regulator dan pengelolaan risiko menjadi kunci untuk menjaga stabilitas di tengah gejolak global,” katanya.

Di sisi lain, pelemahan rupiah juga membuka peluang bagi sektor yang berorientasi ekspor. Pendapatan dalam dolar AS justru dapat meningkat ketika dikonversi ke rupiah.

Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, Bank Indonesia terus melakukan intervensi di pasar keuangan melalui berbagai instrumen, baik di pasar spot maupun pasar derivatif seperti DNDF dan NDF offshore.

Bank sentral menegaskan bahwa stabilitas rupiah menjadi prioritas utama di tengah meningkatnya ketidakpastian global, termasuk dampak konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah.

(**)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts