Rupiah Anjlok Rp18.058 per Dolar AS, Jadi Mata Uang Terlemah di Asia Pagi Ini

Writer: - Kamis, 9 Juli 2026
Ilustrasi nilai tukar rupiah terhadap dollar. (Foto Sumselupdate.com/Istimewa).

Jakarta, Sumselupdate.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami pelemahan pada pembukaan perdagangan Kamis (9/7/2026). Bahkan, rupiah tercatat menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di kawasan Asia.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka di level Rp18.058 per dolar AS. Posisi tersebut melemah 44 poin atau 0,24 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp18.014 per dolar AS.

Read More

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pelemahan rupiah dipicu oleh meningkatnya tekanan eksternal, terutama akibat ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah yang kembali mendorong investor mencari aset aman.

“Rupiah berpotensi kembali melemah terhadap dolar AS di tengah sentimen risk-off akibat eskalasi geopolitik di Timur Tengah,” ujar Lukman, Kamis (9/7/2026).

Selain faktor global, Lukman mengatakan sentimen domestik juga masih belum mampu menopang pergerakan rupiah. Pelaku pasar saat ini memilih menunggu rilis data penjualan ritel Indonesia yang dijadwalkan terbit pada siang hari.

“Faktor domestik juga memengaruhi karena investor menantikan data penjualan ritel siang ini. Pergerakan rupiah diperkirakan berada pada kisaran Rp17.950 hingga Rp18.100 per dolar AS,” katanya.

Di kawasan Asia, mayoritas mata uang bergerak bervariasi terhadap dolar AS. Namun, rupiah menjadi mata uang dengan pelemahan paling besar pada perdagangan pagi ini.

Dolar Taiwan tercatat melemah 0,19 persen terhadap dolar AS, diikuti baht Thailand yang turun 0,16 persen. Sementara itu, peso Filipina terkoreksi 0,12 persen, won Korea Selatan melemah 0,06 persen, dan ringgit Malaysia juga bergerak melemah tipis terhadap mata uang Negeri Paman Sam.

Pelemahan rupiah terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap perkembangan konflik geopolitik global yang mendorong penguatan dolar AS sebagai aset safe haven. Kondisi tersebut turut memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.

(**)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts