PALI, Sumselupdate.com – Ketika harga karet yang masih anjlok, ternyata di Desa Muara Ikan, Kecamatan Penukal Utara, Kabupaten PALI tidak terlalu ambil pusing atas hal itu.
Karena, sebagian penduduk di desa tersebut telah berhasil memanfaatkan sisa pembuangan padi atau disebut warga sekitar sekam padi yang diproduksi menjadi asap cair kemudian mereka pakai sendiri untuk mengentalkan getahnya dan sisanya dijual sebagai tambahan penghasilan mereka.
Cara pengolahan skam padi menjadi asap cair sebagai pengganti cuka para tidaklah sulit, cukup menyiapkan alatnya yakni sebuah drum bekas yang dimodifikasi dan ditambahkan pipa diatas drum tersebut untuk menghantarkan asap. Selain itu juga siapkan bahan utamanya yang cukup melimpah disekitar desa itu yakni skam padi kemudian dibakar di dalam drum yang sudah dimodifikasi.
“Sebenarnya pengolahan sekam padi jadi asap cair belum maksimal dilakukan masyarakat karena terkendala alat untuk menyuling asap cair. Baru satu alat yang tersedia, itupun hanya untuk pelatihan dan uji coba. Tapi sudah banyak warga yang menggunakan dan banyak warga tertarik untuk mengembangkannya,” ujar Pausy Akhmad kepala desa setempat.
“Sebab menurut warga asap cair bisa digunakan mereka untuk membekukan getah. Jadi warga minimal bisa menekan pengeluarannya untuk membeli cuka parah,” paparnya, Rabu (27/9/2017).
Diakui Pausy bahwa meskipun dengan alat terbatas, tapi masyarakat sudah bisa terbantu. “Masyarakat secara berkelompok melakukan pengolahan skam padi jadi asap cair, hasilnya mereka gunakan sendiri bahkan apabila lebih mereka jual ke desa tetangga,” akunya.
Kedepan, Pausy berencana akan mengembangkan pembuatan asap cair dan akan merangkul Bumdes untuk mengelolanya.
“Prospeknya cukup bagus, mengingat warga di kabupaten PALI sebagian besar berprofesi sebagai petani karet, jadi kebutuhan terhadap cuka para pasti tinggi. Kita akan memanfaatkan peluang itu dengan memproduksi asap cair sebagai pengganti cuka para untuk dipasarkan dan kita akan merangkul Bumdes untuk pengelolaan atau pemasarannya,” katanya.
Sementara Bawi, warga setempat optimis penyulingan asap cair bisa maju. “Usaha ini tidak harus mengeluarkan modal besar cukup membuat alat penyulingan, kalau bahannya yakni skam padi cukup melimpah. Sementara pemasarannya mudah, karena hampir seluruh warga disekitar desa kami adalah petani karet, ” tukasnya. (adj)











