Usai Ajukan Pantun Sebagai Warisan Dunia Tak Benda ke UNESCO, Riau Siapkan Langkah Strategis

Minggu, 16 April 2017
ilustrasi

Jakarta, Sumselupdate.com – Pantun dinilai mempunyai keunikan dan khazanah ilmu pengetahuan.  Hal inilah yang membuat tradisi lisan ini diajukan ke UNESCO untuk jadi warisan dunia tak benda pada akhir Maret lalu (31/3) oleh Pemerintah Riau dan Kepulauan Riau (Kepri). Selain itu, sebagai daerah ‘basis’ pantun Melayu, kedua daerah ini pun tak henti melakukan langkah strategis guna mencegah produk budaya lisan itu hilang dari peradaban.

Sebagai dua daerah dengan mayoritas berbudaya Melayu, Riau dan Kepri ternyata memisahkan Dinas Kebudayaan dengan satuan kerja lainnya. Dinas Kebudayaan di Indonesia yang berdiri sendiri sebelumnya dimiliki oleh Bali.

Read More

Pemisahan satuan perangkat kerja ini bertujuan agar Dinas Kebudayaan dapat fokus secara maksimal menangani soal budaya, mulai dari bahasa, seni, adat, cagar budaya, sejarah, hingga museum.

Kedua provinsi itu juga telah memasukkan pantun dalam kurikulum pendidikan melalui muatan lokal Budaya Melayu.

Namun semua itu dirasa belum cukup. Menurut Kepala Dinas Kebudayaan Riau, Yoserizal, sebagaimana dilansir CNNIndonesia, Minggu (16/4/2017), pihaknya menekankan pentingnya pengakuan internasional yang juga dapat mendukung tujuan Riau menjadi pusat kebudayaan Melayu di Asia Tenggara pada 2020.

Meski sebagai daerah dengan kebiasaan berpantun yang telah mengakar dalam kehidupan bermasyarakat, Yoserizal mengakui produk kebudayaan lisan itu pun masih menghadapi serangkaian ancaman. Menurutnya, jumlah maestro penutur pantun atau pemantun dari tahun ke tahun masih tidak sebanding dengan banyaknya penduduk yang terus bertambah.

Penyebabnya, sebut dia, adalah kurangnya pendokumentasian, minimnya sosialisasi, serta globalisasi.  Pengaruh budaya luar dinilai membuat tradisi daerah yang menggunakan pantun semakin jarang dilakukan masyarakat.

“Kami akan terus menggiatkan budaya berpantun di tanah Melayu melalui berbagai program mulai dari festival, perlombaan, hingga penyambutan tamu di maskapai penerbangan dari dan ke Riau yang menggunakan pantun,” katanya.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Riau Al Azhar mengatakan ada faktor lain yang mengancam keberadaan pantun, yaitu kondisi alam. Pasalnya, banyak tradisi lisan yang bergantung pada kondisi ekologi dan menjadikan lingkungan sebagai sumber inspirasi.

Diketahui, pantun Melayu secara pakem memang mengambil materi berupa pencitraan alam sebagai bahan sampiran sebelum memasuki isi atau maksud pantun. Karena itu, Al Azhar pun berharap dengan masuknya pantun sebagai nominasi warisan dunia yang dijadwalkan dinilai pada 2018, pemerintah dapat melindungi pantun yang sudah hampir punah dengan menurunkan angka kerusakan alam. (shn)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts