30 Peserta Ikuti Pelatihan PLTB, Solusi Larangan Membuka Lahan Dengan Membakar

Laporan Syahrial Hadi

Muaraenim, Sumselupdate.com — Direktorat Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan KLHK, bekerjasama dengan International Tropical Timber Organization (ITTO) dan Balai Pengendalian Perubahan Iklim dan Kebakaran Hutan dan Lahan Wilayah Sumatera kembali mendorong peran serta masyarakat dalam pencegahan kebakaran hutan dan lahan melalui penyelenggaraan kegiatan Pelatihan Praktik dan Pembangunan Demplot Penyiapan Lahan Tanpa Bakar (PLTB), khususnya di Kelurahan Gelumbang, Kecamatan Gelumbang Kabupaten Muaraenim pada Rabu dan Kamis (12-13/1/2022).

Read More

Penyelenggaraan kegiatan pelatihan ini dimaksudkan untuk memberikan alternatif penyiapan/pengolahan lahan bagi masyarakat, di tengah kebijakan Pemerintah terkait larangan melakukan pembakaran lahan, serta sebagai bentuk edukasi bagi masyarakat dalam mendukung pencegahan kebakaran hutan dan lahan.

Bekerjasama dengan Koordinator Daops Provinsi Sumatera Selatan serta Daops MA Sumatera XVI/Lahat, serta Pemerintah Desa setempat, pelaksanaan kegiatan ini mencakup dua hal, yaitu pelatihan praktik PLTB dan pembangunan demplot PLTB, dengan total jumlah peserta pelatihan sebanyak 30 orang, yang berasal dari unsur Masyarakat Peduli Api/masyarakat lokal, tokoh masyarakat, Manggala Agni, dan Pemerintah Desa.

Tidak ketinggalan, kegiatan ini turut mengundang OPD setempat yaitu BPBD, Dinas Pertanian, Dinas Koperasi dan UKM, dan Dinas Lingkungan Hidup, juga Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), Pemerintah Desa, termasuk dari unsur Kepolisian dan TNI.

Pelibatan para pihak tersebut untuk mendorong partisipasi dan kontribusinya lebih lanjut dalam rangka keberlanjutan pelaksanaan kegiatan pembangunan demplot PLTB yang mendukung pencegahan kebakaran hutan dan lahan.

Kegiatan pelatihan praktik PLTB bagi masyarakat dan pembangunan demplot PLTB ini secara resmi dibuka oleh Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan, yang diwakili oleh Anis Aliati.

Dalam sambutannya, Anis menyampaikan perubahan paradigma pemerintah dalam pengendalian kebakaran hutan dan lahan, belajar dari kejadian kebakaran hutan dan lahan yang masif pada tahun 2015.

Diungkapkannya, perubahan paradigma tersebut tidak lagi menitikberatkan pada upaya penanggulangan/pemadaman kebakaran, namun lebih mengedepankan pencegahan kebakaran hutan dan lahan, serta pelibatan semua pihak dalam pengendalian kebakaran, termasuk masyarakat lokal.

“Hampir 99 persen penyebab kebakaran hutan dan lahan di Indonesia berkaitan dengan aktivitas manusia (antropogenik). Salah satu bentuknya, antara lain berupa praktik penyiapan/pengolahan lahan dengan melakukan pembakaran. Sejalan dengan arahan Presiden terkait mengedepankan aspek pencegahan, adanya suatu alternatif penyiapan lahan tanpa bakar yang ramah lingkungan menjadi suatu keniscayaan,” ujarnya.

Anis menambahkan, alternatif teknologi PLTB yang diajarkan dalam pelatihan ini bukanlah suatu metode yang rumit, kompleks dan berbiaya mahal.

“Masalah kebakaran hutan merupakan masalah bersama, sehingga upaya penyelesaiannya pun menjadi tanggung jawab semua pihak. Sinergi dan kolaborasi semua pihak harus selalu ditingkatkan, baik Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, TNI, Kepolisian, termasuk masyarakat dan lembaga internasional,” papar Anis.

“Kegiatan pelatihan praktik dan pembangunan demplot PLTB ini apabila dikerjakan dengan komitmen dan sungguh-sungguh akan memberikan hasil yang baik, mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat, serta pada akhirnya memberikan legacy bagi generasi mendatang dan dapat direplikasi secara lebih luas’,” pungkas Anis.

Mewakili Kepala Balai PPIKHL Wilayah Sumatera, Didik Suprijono, juga menyampaikan apresiasi dan keterlibatan para pihak dalam penyelenggaraan pelatihan praktik PLTB bagi masyarakat dan pembangunan demplot PLTB.

Didik juga menyampaikan historis kejadian kebakaran di tahun 2015 dan 2019 yang sangat besar dan menimbulkan dampak yang sangat merugikan dalam semua aspek kehidupan, baik ekonomi, lingkungan, sosial, kesehatan, bahkan hubungan politik dengan negara tetangga.

Lebih jauh, kegiatan pembangunan demplot PLTB ini tidak cukup berhenti di sini, namun dapat memberikan manfaat yang lebih besar, dikembangkan dan direplikasi, serta disebarluaskan ke kelompok masyarakat dan desa sekitar.

”Ditengah kebijakan Pemerintah terkait larangan membakar, melalui pelatihan ini dapat menjadi salah satu alternatif solusi penyiapan lahan tanpa bakar, dan bisa menjadi solusi permanen dalam pencegahan kebakaran hutan dan lahan,” terang Didik.

Sementara itu, Lurah Gelumbang, Lismarama Warni, SE, menyampaikan apresiasi dan dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan ini.

Beliau meyakini kegiatan ini akan sangat bermanfaat memberikan pengetahuan yang lebih mendalam terkait dengan pencegahan kebakaran hutan dan lahan. Kebijakan larangan membakar yang membawa konsekuensi pada aspek penegakan hukum (pidana), salah satu alternatif penyelesaiannya dapat dilakukan melalui pelaksanaan kegiatan ini.

”Pengetahuan yang diperoleh dari pelaksanaan kegiatan pelatihan praktik dan pembangunan demplot penyiapan lahan tanpa bakar hendaknya bisa dibagi dan disebarluaskan, sehingga bisa memberikan manfaat yang lebih besar dan luas,” tambah Lismarama.

Sementara itu Koordinator Kegiatan ITTO Fire Project PP-A/56-340-1, Irfan Malik dalam sambutannya menyampaikan bahwa dampak kebakaran hutan dan lahan, baik secara langsung dan tidak langsung, juga sangat mengancam keberadaan dan keberlangsungan sumber daya hutan tropis.

Dan melalui Kegiatan Kerjasama KLHK-ITTO PP-A/56-340-1 “Capacity Building on Forest and Land Fire Management in Indonesia” menunjukan komitmen ITTO turut serta dalam upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan, khususnya di daerah tropis dan Indonesia.
Lebih lanjut Irfan menerangkan bahwa Kegiatan Kerjasama ITTO bertujuan untuk meningkatkan kapasitas tehnik dan manajemen para pihak (Masyarakat, Manggala Agni, dan Instansi Pemerintah) dalam mendukung upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan.

Khusus untuk kegiatan pelatihan praktik dan pembangunan demplot PLTB ini, para peserta akan diberikan pengetahuan dan keterampilan praktik PLTB, mencakup teknologi arang terpadu (asap cair, arang dan kompos) serta praktik aplikasi di lahan, termasuk monitoring dan evaluasinya. Dalam penyampaian substansi kegiatannya melibatkan Tim Ahli Peneliti dari KLHK.

Pada kesempatan tersebut, juga dilakukan penyerahan bantuan peralatan kepada kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA) yang diterima secara simbolis oleh Ketua MPA, berupa alat pembuatan asap cair dan arang, pompa air, alat semprot (sprayer), serta set peralatan pertanian untuk mendukung implementasi penyiapan lahan tanpa bakar.

Dalam keseluruhan pelaksanaan kegiatan selalu dikoordinasikan dengan Satuan Tugas pencegahan Covid-19 dan mengedepankan protokol 5M, terutama memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, serta pelaksanaan tes swab antigen.(**)

Yuk bagikan berita ini...

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.