YLKI Sesalkan Kelangkaan Gas Melon dan Harga Lebih dari Rp15.560

Sanderson Syafe'i, Ketua YLKI Lahat Raya.

Laporan: Valdo

Lahat, Sumselupdate.com – Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Kabupaten Lahat, Sanderson Syafe’I, menyayangkan, terjadinya kelangkaan gas 3 Kilogram di Kabupaten Lahat. Bahkan, harganya menembus Rp50.000 di Kecamatan Tanjung Sakti Pumi.

Read More

Sanderson mengatakan, YLKI merupakan lembaga yang melindungi hak konsumen, dan sebagai kontrol sosial, menilai, ada beberapa poin penting yang harus ditanggulangi terkait langkanya gas melon di Lahat.

“Menurut pengamatan kami, ada satu masalah utama langkanya gas 3 kg di Kabupaten Lahat, yakni rusaknya mesin isi ulang di SPBE Lahat, sehingga agen melakukan isi ulang di tabung di Muaraenim, di situ terjadi terhambatnya distribusi, sehingga hukum pasar berlaku, kalau barang sedikit maka harga akan naik,” kata dia, Kamis (07/10/2021).

Sanderson mengungkapkan, gas melon itu diperuntukkan buat masyarakat miskin, karena disubsidi pemerintah. Oleh sebab itulah, konsumen seharusnya menerima gas melon adalah masyarakat miskin, sesuai dengan peruntukkannya.

“Gas melon ini bukan untuk diperdagangkan, tapi didistribusikan, kan Harga Eceran Tertingi (HET) sudah jelas Rp15.650 per tabung, akan tetapi di Kabupaten Lahat dijual sebesar Rp25.000, bahkan di Kecamatan Tanjung Sakti Pumi mencapai Rp50.000 pertabung, jelas ini sudah menyalahi aturan yang ada,” ujar dia.

Pangkalan juga sudah mendapatkan untung dari penjualan gas melon, harga yang dijual ke pangkalan Rp13.800, sehingga apabila pangkalan menjual seharga Rp15.650 itu sudah mendapatkan untung.

“Jadi diduga ada yang memonopoli harga, kalau bisa melambung, apalagi di Tanjung Sakti mencapai Rp50.000 pertabung,” ungkapnya.

YLKI Lahat Raya mengimbau, agar pertamina harus transparan dalam memberitahukan kepada masyarakat dimana saja tempat pangkalan yang legal, sehingga masyarakat yang benar-benar pengguna gas melon dapat tahu.

“Jangan ada yang berlaku curang, masyarakat juga harus berlaku adil, kalau memang merasa tidak mampu, ya pakai gas melon, kalau sudah mampu jangan pakai, karena gas melon untuk masyarakat miskin. Masih banyak gas yang non subsidi, yakni gas pink baik yang 5,5 kg maupun yang 12 kg,” tuturnya.

Sanderson juga mengajak agar Pemkab Lahat membentuk satgas khusus dalam pengawasan distribusi produk bersubsidi, agar sesuai peruntukkannya.

“Harusnya ada Satgas dari Pemkab, sehingga pengawasan diatribusi barang bersubsidi sesuai peruntukkan, artinya memang orang yang tepat menerima gas melon ini. Belum lagi adanya kecurangan, adanya joki, anak anak dikasih fotocopy KK, disuruh ngantri ke pangkalan, itukan perilaku curang yang membuat gas melon ini langka,” pungkasnya. (**)

Yuk bagikan berita ini...

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.