Yan Anton: Saya Salah dan Khilaf

Bupati Banyuasin Yan Anton Ferdian tiba di gedung KPK usai diterbangkan dari Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, Minggu (4/9) malam. (Idham Kholid/detikcom)

Jakarta, Sumselupdate.com  -Bupati Banyuasin Yan Anton Ferdian terus menunduk saat digelandang masuk kantor KPK. Dia dibawa bersama 4 orang lainnya yang juga terus menutupi wajah.

“Saya salah dan khilaf,” ucap Yan saat diberondong pertanyaan oleh wartawan di Kantor KPK, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan seperti dilansir detikcom, Minggu (4/9/2016).

Bacaan Lainnya

Yan ditangkap karena terima suap terkait pemulusan perizinan. Tetapi dia tak menjawab soal proyek apa yang dimuluskan itu. “Saya mohon maaf,” ucap dia lagi.

Sementara itu orang kedua yang dibawa penyidik mengenakan kemeja cokelat lengan panjang. Dia juga terus menunduk dan menutupi wajah.

Orang ketiga berbaju putih dan terlihat mendapat pengawalan polisi juga. Begitu pula dengan orang keempat dan kelima yang hanya diam saja ketika ditanyai.

Penyidik KPK sendiri menangkap Bupati Banyuasin, Yan Anton Ferdian, karena diduga menerima suap. Yan Anton ditangkap di rumah dinas Bupati Banyuasin, Minggu (4/9).

Namun, sebelum penangkapan dilakukan, ternyata penyidik KPK sudah ada di Palembang satu hari lalu.

Penangkapan Bupati Banyuasin Yan Anton Ferdian terjadi saat dia sedang mengikuti syukuran naik haji.

Yan Antoni dibuntuti tim KPK dari Palembang sejak pagi hingga di lokasi penangkapan di Kabupaten Banyuasin.

Saat akan meninggalkan tempat acara, Yan Anton langsung dicokok tim KPK sekitar pukul 13.00 WIB.

KPK yang dibantu pihak Brimob Polda Sumsel dan Ditreskrimsus Polda Sumsel sempat menggeledah rumah dinas Bupati Banyuasin dan menemukan tas koper berisi uang yang diduga uang suap dari seorang pengusaha di kamar rumah Dinas Bupati Banyuasin.

Sekitar pukul 14.40,  Yan Anton langsung digelandang ke Mapolda Sumsel untuk menjalani pemeriksaan awal bersama Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Banyuasin dan Kepala  Bagian Rumah Tangga Dinas Bupati Banyuasin.

Sekitar pukul 17.12, Bupati Banyuasin Yan Anton Ferdian bersama  Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Banyuasin, Kepala  Bagian Rumah Tangga  Dinas bupati Banyuasin dan seorang kontraktor Banyuasin dikawal petugas Brimob dan petugas dari Ditreskrimsus dan petugas KPK yang membawa sejumlah dokumen.

Tas koper berisi uang langsung masuk ke bus yang akan mengantarkan mereka ke Bandara SMB II, selanjutnya terbang menuju gedung KPK di Jakarta untuk melakukan pemeriksaan lanjutan.

“Dari KPK memang minta bantuan Polda untuk kegiatan KPK di Banyuasin. Kita sebatas back up pengamanan, maupun pengamanan tempat dalam menjalankan tugasnya. Tindakan lain diserahkan ke KPK,” kata Kabid Humas Polda Sumsel, Kombes Djarot Padakova.

Sekda Banyuasin,  Ir Firmansyah, membenarkan apa yang dilakukan KPK tersebut. Dirinya tidak ditangkap KPK, namun hanya mendampingi Bupati Banyuasin, Yan Anton Ferdian, saat dibawa ke Polda Sumsel.

“Kami minta doa teman-teman semua agar masalahnya cepat selesai, dalam arti dikuatkan dalam cobaan ini dan roda pemerintahan di Pemkab Banyuasin bisa berjalan seperti biasa,” katanya.

Namun, dia tidak mengetahui soal apakah penangkapan yang dilakukan KPK ini.

”Saya kurang tahu, saya juga di sana di rumah dinas Bupati Banyuasin. Saya sempat diamankan dan dibawa ke sini (Polda Sumsel) sekitar jam 13.00. Saya kurang tahu siapa dibawa ke Jakarta. Saya hanya mendampingi Pak Bupati dan kami tidak berkomunikasi dan saat dibawa mobil kami terpisah,” katanya. (hyd)

Yuk bagikan berita ini...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.