Viral, Pedagang dari Jakarta hingga Semarang Keluhkan Pasar Sepi Pembeli, Banyak Toko Tutup

Writer: - Selasa, 7 Oktober 2025
Pedagang di berbagai kota besar, mulai dari Jakarta hingga Semarang, mengeluhkan kondisi pasar yang semakin sepi pembeli. (Sumselupdate.com/Istimewa)

Palembang, Sumselupdate.com – Pedagang diberbagai kota besar, mulai dari Jakarta hingga Semarang, mengeluhkan kondisi pasar yang semakin sepi pembeli.

Dari video yang beredar di media sosial (Medsos) sejumlah pedagang menyebut, situasi ini sudah berlangsung beberapa bulan terakhir dan berdampak besar terhadap keberlangsungan usaha mereka.

Read More

Di Pasar Baru Bandung dan Pasar Induk Tanah Abang Jakarta, para pedagang mengaku sudah berjualan dari pagi hingga malam namun belum juga mendapatkan pembeli.

“Jualan dari jam 9 pagi sampai jam 8 malam belum ada yang beli,” keluh salah satu pedagang di Tanah Abang.

Hal serupa juga dirasakan Yayan, pemilik toko gorden di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur. Ia mengungkapkan banyak toko yang kini memilih tutup karena omzet terus menurun.

Baca juga : Ketua MPR RI Berikan Santunan dan Paket Sembako di Denpasar Selatan

“Sudah banyak toko yang tutup karena pembeli sepi. Dulu ramai, sekarang pembeli bisa dihitung dengan jari,” ujarnya.

Kondisi pasar yang sepi juga membuat banyak pedagang kehilangan penghasilan secara drastis. Beberapa di antaranya bahkan mengaku selama sebulan hanya memperoleh uang belasan ribu rupiah.

“Ada pedagang yang bilang selama 30 hari cuma dapat Rp15.000. Bayangin, mau makan saja susah,” kata salah satu pedagang lainnya.

Baca juga : BREAKING NEWS: Pasar Sekanak dan Rumah Warga di Jalan Puncak Sekuning Dilalap Si Jago Merah

Akibat penurunan penjualan, deretan toko di beberapa pusat perdagangan terlihat kosong dan gelap karena ditinggalkan pemiliknya.

“Dulu kalau malam masih ramai, sekarang kayak pasar mati,” ucap seorang pedagang pakaian di Bandung.

Sementara itu, Anto, pedagang sepatu di kawasan Jakarta, menceritakan bahwa dirinya terpaksa mengurangi jumlah karyawan karena omzet menurun drastis.

“Dulu karyawan saya ada enam orang, tapi karena penjualan sepi, saya cuma sanggup bayar dua orang. Sisanya terpaksa dirumahkan,” ujarnya.

Para pedagang berharap pemerintah dapat memberikan solusi, baik dalam bentuk dukungan modal usaha maupun kebijakan yang bisa menggairahkan kembali aktivitas jual beli di pasar tradisional maupun pusat grosir. (Iya)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts