Usai Ditembak Mati, Jenazah Santoso Akan Dievakuasi Menggunakan Helikopter

Santoso semasa hidup (detikcom)

Jakarta, Sumselupdate.com  -Tim Satgas Tinombala yang terdiri dari gabungan Polisi dan TNI berhasil menembak mati dua orang yang salah satunya diduga Santoso. Baku tembak terjadi di dekat sungai yang berada di dalam hutan di Poso.

Informasi yang diterima detikcom dari anggota Satgas Tinombala, Selasa (19/7), baku tembak terjadi tepatnya di hutan yang berada di kawasan Tambarana, Poso Pesisir Utara, Sulteng. Lokasinya berjarak 60 Km dari Poso.

Bacaan Lainnya

Namun usai ditembak mati, Satgas Tinombala kesulitan mengevakuasi dua  jenazah terduga teroris dari Pegunungan Biru di Tambarana, Poso Pesisir Utara, Poso, Sulawesi Tengah.

Sehingga jika tak bisa jalur darat maka jenazah akan dievakuasi menggunakan helikopter.

“Rencananya kalau nanti tidak bisa jalur darat akan menggunakan helikopter,” kata Kapolsek Poso Pesisir Utara Iptu Supriyadi kepada detikcom.

Saat ini, kata Supriyadi, daerah Tambarana dan sekitar Poso dilanda hujan sejak Senin malam. Hujan dan sulitnya medan menjadi kendala evakuasi 2 jenazah terduga teroris yang tewas dalam baku tembak dengan Satgas Tinombala pada Senin (18/7/2016) pukul 17.00 WITA kemarin.

Tim Satgas Tinombala terus berusaha mengevakuasi jenazah dua terduga teroris dari Pegunungan Biru, di Tambarana, Poso Pesisir Utara, Poso. Rencananya setelah berhasil dievakuasi, jenazah akan dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara di Palu, Sulawesi Tengah.

Istri dan keluarga yang tinggal di Tambarana sudah mengetahui kabar tewasnya terduga teroris yang diduga Santoso tersebut. Untuk memastikan bahwa itu Santoso, rencananya keluarga akan diajak untuk melihat dua jenazah tersebut.

Untuk memastikan satu dari dua jenazah tersebut, menurut Kapusdokkes Polri Brigjen Arthur Tampi, pihaknya mengirim seorang ahli forensik dan ahli DNA. Keduanya berangkat ke RS Bhayangkara, Palu, pagi ini dengan penerbangan pertama Batik Air.

“Buat identifikasi dua jenazah besok (hari ini) kita kirim spesialis DNA (deoxyribonucleic acid
) dan forensik. Berangkat pagi dari Cengkareng (Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten) pukul 05.30 WIB,” ucap Arthur saat dihubungi Liputan6.com, Jakarta, Senin tengah malam, 18 Juli 2016.

Tampi menuturkan, dari proses identifikasi, baru dapat dipastikan satu dari dua pria terduga teroris yang tewas adalah Santoso. Semua prosedur harus lebih dulu dilewati.

Meski begitu, diakui Arthur, salah satu ciri fisik yang terdapat di salah satu jenazah memiliki kemiripan dengan Santoso. Yaitu, tahi lalat di sekitar wajah.

“Tetap kita jalankan standar internasional. Yaitu harus lebih dulu diambil data dan dicocokkan ya. Yaitu ante mortem dan post mortem-nya,” Tampi menjelaskan seputar rencana identifikasi kedua jenazah terduga teroris Poso tersebut.

Evakuasi kedua jenazah terduga teroris kelompok Santoso pascabaku tembak pada Senin 18 Juli 2016 sekitar pukul 18.30 Wita itu terpaksa dihentikan. Sebab, lokasi evakuasi diguyur hujan deras.

Sebelumnya, pada Senin (18/7) sekitar pukul 16.00 Wita, satu regu tim Satgas Tinombala sedang melakukan pencarian di dalam hutan. Saat itu, tim melihat ada 3 orang yang berada di sebuah gubuk. Di sekitar gubuk, terlihat sayur dan ubi berserakan, diduga untuk menutupi jejak.

Di dekat gubuk ada sebuah sungai dan di seberang sungai itu tim Satgas Tinombala melihat dua orang laki-laki. Kedua orang itu membawa senjata laras panjang.

Kontak senjata langsung terjadi, dua orang yang berada di seberang sungai tewas setelah timah panas dari salah satu prajurit Raider Kostrad bersarang di tubuhnya. Sementara itu, tiga orang yang sebelumnya terlihat di gubuk langsung kabur menyeberangi sungai. Tiga orang itu diketahui terdiri dari 2 wanita dan satu pria.

Salah satu orang yang tewas diduga adalah Santoso, pemimpin Mujahidin Indonesia Timur yang selama ini dicari. Ciri-cirinya sangat mirip dengan Santoso, yakni berambut panjang, berjenggot dan ada tahi lalat di dahi. Namun, hingga saat ini belum bisa terkonfirmasi apakah benar yang tertembak adalah Santoso.

“Memang ada tanda-tanda tahi lalat di dahinya yang menjadi ciri khas Santoso. Tapi sekali lagi saya belum bisa konfirmasi, teman-teman juga sedang melakukan evakuasi untuk identifikasi siapa yang bersangkutan,” kata Kapolri Jenderal Tito Karnavian, Senin (18/7) malam.

“Ya mudah-mudahan itu yang bersangkutan (Santoso),” tegas Tito.

Sejak semalam, tim Satgas Tinombala langsung melakukan evakuasi terhadap dua jenazah. Meski tengah malam tadi hutan Poso diguyur hujan deras, evakuasi tetap berlanjut.

Rencananya, hari ini kedua jenazah akan dibawa ke RS Bhayangkara Palu untuk diidentifikasi. Polisi akan menghadirkan kerabat Santoso untuk membantu proses identifikasi. (hyd)

Yuk bagikan berita ini...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.